Sahabat Nabi yang kita ikuti kisahnya saat ini adalah salah seorang ‘alim besar di antara para sahabat, salah seorang Qari (ahli baca Al-Qur’an) di antara para qari terkemuka, panglima perang diantara para panglima dan penakluk yang terpandang, pemimpin di antara para pemimpin yang pantas diperhitungkan. Dialah Uqbah bin Amir Al-Juhani. Selamat membaca.
***
Rasulullah tiba di pinggir kota Madinah sesudah lama menanggung duka. Penduduk Madinah berdesak-desakan di jalan-jalan dan di loteng-loteng rumah, menyambut kedatangan beliau, sambil mengucapkan tahlil dan takbir, menunjukkan kegembiraan mereka bertemu dengan Rasulullah dan sahabatnya, Abu Bakar As-Sidiq. Gadis-gadis remaja keluar rumah membawa rebana, dengan pandangan mata penuh kerinduan sambil menyanyikan lagu merdu:
“Telah muncul purnama raya di tengah-tengah kita, dari celah-celah gunung terlewati,
kami wajib bersyukur atas da’wahnya menyembah Allah.”
Arak-arakan mengiringi Rasulullah yang berjalan perlahan-lahan di antara barisan orang banyak, dikelilingi hati yang penuh rindu serta curahan air mata bahagia.
Tetapi sayang, Uqbah bin Amir Al-Juhani tidak menyaksikan pawai bahagia menyambut kedatangan Rasulullah tersebut. Dia tidak beruntung datang bersama orang banyak, karena ketika itu dia pergi ke gurun pasir menggembalakan domba-dombanya. Dia takut domba-domba itu akan mati kehausan dan kelaparan, karena hanya domba-domba itulah yang dimilikinya, sebagai harta kekayaan dunia baginya.
Tetapi suasana gembira-ria itu cepat menyusup ke pelosok Madinah Al-Munawwarah, memenuhi lembah dan bukit, jauh maupun dekat. Dan berita suka cita itu sampai pula kepada Uqbah bin Amir Al-Juhani yang sedang menggembalakan domba-dombanya jauh di gurun pasir. Marilah kita dengarkan Uqbah bin Amir mengisahkan pertemuannya dengan Rasulullah.
Ketika Rasulullah tiba di Madinah, aku sedang berada di gurun pasir menggembalakan domba-dombaku. Setelah mendengar kedatangan beliau, kutinggalkan domba-domba itu, dan segera bertemu dengan beliau, aku bertanya kepadanya, “Benarkah Tuan membai’at saya, ya Rasulullah?”
“Siapakah anda?” Tanya beliau.
Jawabku, “Saya Uqbah bin Amir Al-Juhani!”
Tanya Rasulullah, “Bai’at bagaimana yang anda kehendaki. Bai’at Arabi atau bai’at Hijrah.”
Jawabku, “Saya ingin dibai’at secara Hijrah.”
Lalu Rasulullah membai’atku seperti bai’at kaum muhajirin. Sesudah itu aku bermalam di tempat beliau. Kemudian aku kembali menggembalakan domba.
Kami berjumlah dua belas penggembala yang telah masuk Islam. Kami mukim jauh dari keramaian kota Madinah, menggembalakan domba di gurun-gurun dan lembah. Diantara teman-temanku berkata, “Tidak baik bila kita mendatangi Rasulullah setiap hari, untuk belajar agama dan mendengarkan wahyu Allah darinya. Setiap hari seorang di antara kita harus pergi ke kota menemui beliau, dan kita yang tinggal harus bertanggungjawab menggembalakan dombanya.”
“Baiklah!” jawabku. “Pergilah kalian mendatangi beliau bergantian satu demi satu. Siapa yang mendapat giliran pergi, biarlah aku yang menggembalakan dombanya. Aku sangat khawatir meninggalkan anak-anak dombaku kepada siapapun.”
Kawan-kawan pergi satu persatu bergantian mendatangi Rasulullah SAW. Domba yang ditinggalkannya, dipercayakannya kepadaku untuk kugembalakan. Bila dia pulang, aku belajar kepadanya, pelajaran yang diperolehnya dari Rasulullah. Tetapi tidak lama kemudian aku menyadari kerugianku, dan berkata dalam hati, “Persetan! Aku tidak peduli domba-domba ini makan atau tidak. Dengan menggembalakan aku terasa sangat merugi, karena tidak dapat berdampingan langsung dengan Rasulullah, menyimak pengajaran langsung dari mulut beliau tanpa perantara.” Lalu kutinggalkan domba-dombaku, dan aku berangkat ke Madinah untuk tinggal dan menetap di masjid, di samping Rasulullah.
Ketika mengambil keputusan yang menentukan itu, tidak pernah terlintas dalam pikiran Uqbah, pada suatu waktu dia akan menjadi seorang ‘alim besar di antara para sahabat yang ulama-ulama besar; dia akan menjadi salah seorang Qari (ahli baca Al-Qur’an) di antara para qari terkemuka; dia akan menjadi seorang panglima perang diantara para panglima dan penakluk yang terpandang; dia akan menjadi seorang pemimpin di antara para pemimpin yang pantas diperhitungkan. Semua itu tidak pernah terbayang baginya walau hanya secuil pun. Bahkan dia hanya membayangkan domba-domba gembalanya, apakah domba-domba itu cukup terpelihara atau tidak sepeninggalnya. Dia berangkat ke pusat dakwah agama Allah, untuk berdampingan dengan Rasulullah, guna mempelajari agama kepada Rasul yang mulia. Dia tidak pernah menyadari akan menjadi tentara pelopor yang bakal membebaskan ibu kota dunia waktu itu, yaitu Damaskus, dan bakal mendiami istana di sebuah taman nan indah menghijau dekat Bab Tuma.
Dia juga tidak pernah membayangkan sedikit juga pun akan menjadi seorang panglima, penakluk permata dunia yang indah subur, yaitu Mesir; akan menjadi penguasa negeri itu, dan akan membangun sebuah istana untuknya di kaki sebuah bukit yang strategis. Semua itu hanya tersimpan di alam gaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah.
Uqbah bin Amir Al-Juhani berdampingan dengan Rasulullah bagaikan bayang-bayang dengan orangnya. Dia pemegang tali kendali bighal Rasulullah dan menuntunnya kemana beliau pergi. Dia berjalan di hadapan setiap beliau bepergian. Terkadang Rasulullah memboncengnya di belakang, sehingga Uqbah digelari para sahabat “Radif Rasulullah (boncengan Rasulullah). Bahkan Rasulullah pernah juga turun dari bighal, dan mempersilakan Uqbah mengendarai bighal. Sedangkan Rasulullah berjalan kaki di sampingnya.
Uqbah bercerita: Pada suatu ketika aku menuntun bighal Rasulullah di hutan semak Madinah. Beliau bertanya kepadaku, “Hai Uqbah! Mengapa engkau tidak mau naik kendaraan?”
Aku sebenarnya hendak menjawab, tidak. Tetapi aku takut durhaka kepada Rasulullah. Lalu aku jawab, “Baiklah, ya Rasulullah!”
Rasulullah turun dari kendaraan, dan aku naik menggantikan, umtuk memenuhi keinginan beliau. Sedangkan beliau berjalan kaki. Tidak lama kemudian aku turun, dan Rasulullah naik kendaraan. Beliau bertanya kepadaku, “Hai Uqbah! Sukakah engkau aku ajarkan kepadamu dua buah surat yang tidak ada bandingannya?”
“Tentu suka ya Rasulullah!” jawabku.
Lalu beliau membacakan kepadaku surat “Al-Falaq” dan “An-Nas”.
Setelah waktu shalat tiba, beliau membaca kedua surat tersebut dalam shalat. Kata beliau, “Bacalah kedua surat itu setiap engkau hendak tidur, dan ketika bangun tidur.”
Kata Uqbah melanjutkan ceritanya, “Sejak itu, aku senantiasa membaca surat itu sepanjang hidupku, sesuai dengan petunjuk Rasulullah.”
Uqbah bin Amir Al-Juhani memusatkan perhatiannya kepada dua bidang yang terpenting, yaitu bidang ilmu dan jihad. Diterjuninya kedua bidang itu dengan seluruh jiwa dan raganya. Bahkan dia tidak segan-segan mengorbankan segala-galanya dan tanpa mengenal lelah untuk memperoleh kedua-duanya.
Dalam bidang ilmu dia langsung mereguknya dari sumber yang murni dan suci, yaitu Rasulullah. Sehingga dia berhasil menjadi ahli baca Al-Qur’an (pandai membaca dengan benar dan fashih, hafal, faham makna dan tujuannya), menjadi ahli hadits, ahli fiqih, ahli faraidh, di samping dia menjadi seorang pujangga/sastrawan, fashih, dan penyair. Dia memiliki suara terindah diantara para ahli baca Al-Qur’an. Bila hari sudah jauh malam, suasana sudah tenang, sunyi dan sepi, maka diambilnya kitabullah, lalu dibacanya ayat-ayat suci yang maknanya jelas dan gamblang. Hati para sahabat tergugah dan tunduk bila mendengarkan bacaannya yang merdu menggetarkan. Sehingga air mata mereka bercucuran karena takut kepada Allah.
Umar bin khaththab pernah memanggil Uqbah, lalu katanya, “Hai, Uqbah! Tolong bacakan kepadaku ayat-ayat Al-Qur’an!”
Baik ya Amiral Mu’minin!” jawab Uqbah patuh.
Maka dibacanyalah Al-Qur’an. Umar menangis bercucuran air mata, sehingga membasahi jenggotnya. Uqbah meninggalkan sebuah mushaf hasil karya tangannya sendiri. Mushaf tersebut belum lama ini masih ada di Mesir, pada sebuah Universitas (Jami’ah) yang terkenal dengan nama “Jami’ah Uqbah Ibnu ‘Amir” (Universitas Uqbah Ibnu ‘Amir). Di akhir mushaf tersebut tercantum kalimat, “Katabahu Uqbah bin ‘Amir Al-Juhani” (Ditulis oleh Uqbah bin Amir Al-Juhani). Mushaf tersebut yang terkuno diantara segala mushaf yang dapat ditemukan, tetapi kita lalai memeliharanya.
Dalam bidang jihad, dia turut berperang bersama-sama Rasulullah pada perang Uhud dan peperangan-peperangan sesudah itu. dia seorang ahli strategi militer terkemuka yang sanggup mengacaukan pertahanan musuh. Dalam peperangan menaklukkan Damsyiq dia mendapat cidera, luka parah. Maka Panglima Abu Ubaidah mengirimnya ke Madinah sebagai kurir istimewa, untuk menyampaikan laporan kepada Khalifah Umar. Delapan hari delapan malam (Jum’at ke Jum’at) dia berpacu tanpa henti, sehingga Khalifah Umar beroleh berita gembira atas kemenangan-kemenangan yang dicapai kaum muslimin.
Kemudian dia diangkat menjadi perwira dalam ketentaraan kaum muslimin untuk menaklukkan Mesir. Lalu Amirul Mukminin, ketika itu Mu’awiyah bin Abu Sufyan mengangkatnya menjadi Gubernur di negeri itu. Setelah memegang jabatan tersebut selama tiga tahun, Muawiyah menugaskannya dalam peperangan menaklukkan Rodhes di Laut Tengah. Karena seringnya Uqbah bin Amir turut berperang, menyebabkan dia banyak menyimpan kisah-kisah nyata pengalamannya berperang, yang diceritakannya kepada kaum muslimin. Dia adalah seorang pemanah jitu. Bila dia ingin bermain-main atau berolah raga, maka dia melakukan olah raga memanah sambil berlatih.
Tatkala Uqbah sakit mendekati ajal, dia berada di Mesir. Dikumpulkannya anak-anaknya, lalu dia berwasiat: “Hai anak-anakku! Aku larang kalian melakukan tiga perkara. Maka jauhilah ketiga-tiganya. Pertama: Jangan menerima hadits Rasulullah kecuali dari orang yang tsiqah (dipercaya). Kedua: Jangan berhutang sekalipun pakaian kalian compang-camping. Ketiga: Jangan menulis syair (sajak) sehingga menyebabkan hati kalian lalai terhadap Al-Qur’an.
Dia dimakamkan di kaki bukit Al-Muqatham. Setelah mereka periksa peninggalannya, antara lain terdapat tujuh puluh busuh panah. Setiap busur mempunyai sebuah tanduk (sebagai tempat anak panah), lengkap dengan anak panahnya. Uqbah berwasiat, supaya busur-busur panah tersebut dimanfaatkan oleh kaum muslimin dalam jihad fi sabilillah.
Semoga Allah melimpahkan cahaya ke wajah Uqbah, seorang qari’, alim, dan panglima perang. Dan semoga Allah memberinya pahala dengan pahala yang sangat baik. Amin! [sumber: Kepahlawanan Generasi Sahabat Rasulullah SAW]
Slider
Diberdayakan oleh Blogger.
Arsip Blog
-
▼
2012
(152)
-
▼
Agustus
(134)
- Mualaf Prancis Itu Mencari Pencerahan dengan Berhaji
- Setahun Menjadi Mualaf, Doanya Naik Haji Langsung ...
- Seribu Lebih Warga Kamerun Menjadi Mualaf
- Perjalanan Spiritual Pembantu Pendeta Menjadi Seor...
- William Abdullah Quilliam: Perintis dan Penyebar I...
- Lady Evelyn: Bangsawan Inggris yang Pertama Kali N...
- Abu Ubaidah bin Jarrah, Kepercayaan Umat Muhammad (1)
- Umar bin Khattab, Amirul Mu'minin Pemberani (3-habis)
- Joseph Cohen: Yahudi Amerika yang Menemukan Islam ...
- Cindy Claudia Harahap: Hidayah dari Bulan dan Bintang
- Hakeem Olajuwon: Mengagumi Keindahan Alquran
- Vicente Mote Alfaro: Kisah Yesus Menjadikannya Seo...
- Sue Watson: Misionaris yang Kini Menyerahkan Hidup...
- Danny Williams: Terkesima Mendengar Suara Azan
- Kombinasi Islam dan Sepak Bola Frederic (Oumar) Ka...
- Lee Woon-Jae, Kiper Muslim dari Negeri Ginseng
- Impiannya Mengunjungi Masjidil Haram Pun Terwujud
- Ka'bah Menggetarkan Hati Ratusan Pekerja Cina
- Bernard Hopkins, Islamnya Sang Algojo Tinju Dunia
- Koko Liem, Da'i yang Jatuh Cinta dengan Islam Seja...
- Timoty John Winter: Mengagumi Kebesaran Islam
- Ian Dallas, Dari Panggung Drama Eropa Beralih ke S...
- Ibu Katolik, Ayah Yahudi, Sang Anak Memilih Islam
- Correy Habbas, Dari Penulis Lepas Berlabuh ke Islam
- Kisah Mualaf Aminah Assilmi: Dia Korbankan Segalan...
- Umar bin Khattab, Amirul Mu'minin Pemberani (1)
- Umar bin Khattab, Amirul Mu'minin Pemberani (2)
- Chris Eubank, Petinju Dunia yang Juga Menjadi Mualaf
- Preacher Moss, Allah Membuatnya Jenaka
- Joe Ahmad Dobson, Islamnya Putra Mantan Menteri Ke...
- Darren Cheesman, Hidayah untuk Bintang Hoki Inggris
- Din dan Seniman Yogyakarta Main Ketroprak
- Kristiane Backer, dari Glamour MTV Menuju Jalan Hi...
- Peter Sanders, Raja Fotografi yang Menemukan Islam
- Laura Rodriguez, Dari Katolik Jadi Presiden Federa...
- Susan Carland, Aktivis Gereja yang Menemukan Kelem...
- Perempuan Aktivis Kemanusiaan Yahudi Masuk Islam
- Robin Padilla, Dari Dunia Gemerlap Menuju Islam
- Torquato Cardilli, Dubes Eropa Pertama yang Memelu...
- Alexander Litvinenko, Masuk Islam Dua Hari Menjela...
- Michael Wolf, Hidayah Turun Usai Melihat Muslim Sh...
- Perjalanan Mantan Penasihat Presiden Nixon Menemuk...
- Pekerja Kasino itu Memutuskan Menjadi Mualaf
- Maryam Jameela, Masuk Islam Usai Diterpa Propagand...
- Syekh Hamza Yusuf, Menemukan Islam Lewat Makna Kem...
- Gene Netto, Dengan Rasionalitas Menemukan Islam
- Sugen Threen, Masuk Islam Setelah Jadi Pengelana A...
- Abu Bakar As-Shiddiq, Kawan Sejati Rasulullah
- Aisyah binti Abu Bakar ra: Istri Nabi yang Pakar Ilmu
- Mush'ab bin Umair, Penghulu Dakwah Madinah (3-habis)
- Hidayah untuk Pengedar Marijuana
- Lucy Bushill-Matthews: Kegelisahan Hati Sang Putri...
- Jacian Fares, Angkatan Laut AS yang Memilih Islam
- Rusman Unri Surbakti, Terbuai Lantunan Ayat Suci
- Kisah Islamnya Sang Diplomat Inggris
- Keith Ellison, Tokoh Pemersatu Islam di AS
- Terpesona Pada Komunitas Islam Afrika
- Eric 'Bilal' Abidal Meyakini Islam Sepenuh Hati
- Ki Manteb Soedarsono, Hidayah Lewat Sang Buah Hati
- Martin Lings, Hidayah Allah untuk Sang Penyair
- Ingrid Mattson, Mengenal Islam Melalui Seni
- Clarence Jack Ellis, Ketika Sang Wali Kota AS Mene...
- Mush'ab bin Umair, Penghulu Dakwah Madinah (1)
- Mush'ab bin Umair, Penghulu Dakwah Madinah (2)
- Yahya Schroeder, Hidayah Datang Saat Sekarat
- Kareem Abdul Jabbar, Lompatan Iman Raja Basket
- Melanie Georgiades, Islamnya Penyanyi Rap Prancis
- Sandrina Malakiano, dengan Islam Jadi Lebih Sabar ...
- Muhammed Umar Rao, Islam Telah Memberinya Pencerahan
- Jamilah Kolocotronis Menemukan Kebenaran dalam Islam
- Syahadat Terry Holdbrooks di Guantanamo
- Rosalyn Rushbrook, Menemukan Kebenaran Islam Dalam...
- Hidayah bagi Sang Diplomat Jerman
- Yudi Mulyana: Hidayah di Ujung Fajar
- Iris Rengganis Makin Mantap dalam Renungan di Makkah
- Nicolas Anelka: Islam Memberikan Kedamaian dan Ket...
- Jermaine Jackson: Islam Membuatku Yakin akan Agama
- Sara Bokker, Hidayah Allah untuk Sang Model
- Rendra Tertarik dengan Alquran
- Kenneth L Jenkins, Islam Membuatnya Terlahir Kembali
- Idris Tawfiq, Mantan Pastor yang Memilih Islam
- Hj Irena Handono: Pahami Sulitnya Menjadi Muallaf
- Dari AS ke Mesir, Wanita Katolik Menemukan Islam
- Keith Ellison Anggota Parlemen AS Pertama Beragama...
- Jerarld F Dirks Temui Kenikmatan dan Disiplin dala...
- Julius Germanus, Orientalis yang Menemukan Islam
- Naoko Kasai Kenal Islam dari Pergaulan
- Asrin Surianto, Islam Menghargai Perbedaan
- Maurice Bucaille tak Ragu dengan Kebenaran Alquran
- Steven Indra Terpikat Islam Karena Shalat
- Baron Omar Rolfvon Ehrenfels Menemukan Kebenaran I...
- Malcolm X: Islam tidak Mengenal Perbedaan Ras
- Alfaro: Alquran Benar dari Allah
- Penulis Jerry Gray Mualaf yang Cinta Indonesia
- Mohammad Asad, Islam Bangunan Yang Sempurna
- Muhammad Ali Bersyahadat di Atas Ring Tinju
- Eksistensi Michael Jackson dan Islam
- Anelka Bangga Menjadi Muslim
- Karima: Pemikiran dan Intuisi Terdalam Tak Terpisah
- Ibrahim Khalil, Misionaris Pendeta Koptik yang Ber...
-
▼
Agustus
(134)
Berita Haji dan Umroh
Alumni Sahara Kafila
Racing
Video Perjalanan Umroh Sahara Kafila
Home
»
»Unlabelled
» Uqbah bin Amir Al-Juhani
Tagged with:
About Admin
This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar