Slider
Diberdayakan oleh Blogger.
Arsip Blog
-
▼
2014
(83)
-
▼
Mei
(9)
- Uhud: Magnet Bagi Jamaah Umrah Saat Ramadhan
- Assalamualaikum, Beijing!
- Anggito Tegaskan Tidak ada Kasus MERS-CoV di Indon...
- Kemenkes Tegaskan Tidak Ada Penderita MERS-CoV di ...
- Air Zamzam Diyakini Bisa Cegah Virus Corona
- Fiqh Negara
- Khadijah, The True Love Story of Muhammad
- Jabal Tsur, Pelindung Rasulullah dari Kafir Quraisy
- Antisipasi MERS, Jamaah Umroh Wajib Vaksinasi
-
▼
Mei
(9)
Berita Haji dan Umroh
Alumni Sahara Kafila
Racing
Video Perjalanan Umroh Sahara Kafila
MADINAH–Bulan ramadhan menjadi magnet umat islam untuk datang berziarah maupun ibadah ke kota suci Madinah, banyak orang mengunjungi situs bersejarah di kota itu, termasuk situs tempat kala terjadi perang Uhud pada masa Nabi Muhammad (saw) 625 (3 H).
Ribuan orang mengunjungi bukit Uhud, banyak penduduk lokal mengambil kesempatan untuk mendirikan kios-kios untuk menjual cinderamata, parfum, manik-manik, herbal, buku, Alquran, kalender, minuman ringan dan es krim.
Nurul Haq Siraj, seorang jamaah Umrah asal Pakistan, mengatakan ia membeli beberapa rempah-rempah dan rosario. “Sungguh menakjubkan cara mereka mengemas barang di sini, belum lagi keragaman barang yang dijual,” katanya.
Khaled Ibrahim, seorang peziarah Umrah dari Mesir, bergegas mengunjungi kios-kios usai berziarah ke makam para sahabat Nabi yang menjadi shuhada dalam perang Uhud. “Saya membeli beberapa pernik bebatuan. Saya juga berfoto di tempat itu. Foto ini akan mengingatkan saya bahwa saya pernah berkunjung ke tempat ini dan diharapkan akan mengingatkan saya tentang ziarah saya ketika saya kembali di masa mendatang, “katanya.
Di satu sisi berdiri tegak gunung Uhud yang dahulu menjadi medan perang, sementara di sisi lain berdiri sebuah bukit yang berbatu-batu, disitulah sekelompok fotografer mengambil gambar para peziarah.
“Banyak peziarah yang ingin memiliki foto mereka diambil di sini untuk mengingatkan mereka dari tempat ini. bukit ini terkenal dan memiliki banyak makna sejarah, “kata Khaled Al-Matarfi.
“Kami memasang tarif untuk satu foto SR 10 dan SR 15 untuk dua foto. Meskipun kamera ponsel telah mengakibatkan penurunan bisnis kami, namun kami masih bisa mendapatkan antara SR 300 sampai SR 200 sehari, “katanya.
Perang Uhud adalah pertempuran kedua antara orang-orang kafir dari Makkah dan Muslim dari Madinah, dimana sebelumnya telah didahului Perang Badar (624 M / 2 H) di mana pasukan Muslim yang jumlahnya jauh lebih kecil dapat mengalahkan pasukan Mekah yang jauh lebih besar.
Selama Pertempuran Uhud, Nabi Muhammad (SAW) bersama 50 pemanah dan Abdullah bin Jubair berada di bukit Gunung Uhud untuk memastikan musuh tidak menyerang kaum Muslim dari belakang.
Nabi memerintahkan agar 50 orang ini menjaga kaum muslim dan mencegah musuh melewati celah gunung, dan tidak meninggalkan tempat ini dalam situasi kalah atau menang.
Selama pertempuran, setiap kali musuh mencoba menyerang dari belakang, para pemanah dapat memukul mundur. Musuh membuat strategi baru dengan membuang senjata mereka di satu tempat dan mereka mundur dari pertempuran. Saat itulah para pasukan elite terpancing dan turun untuk mengumpulkan barang rampasan perang.
Namun, pada saat yang sama kavaleri musuh yang dipimpin oleh Khaled bin Walid, yang pada waktu itu belum bisa menerima Islam, menyerang kaum Muslim dari belakang datang dari balik bukit itu.
Kala itu merupakan kemunduran besar bagi umat Islam Madinah, perang yang mengakibatkan banyak pengorbanan sahabat terkemuka Nabi, termasuk paman Nabi yaitu Hamzah dan Abdullah bin Jubair. Arabnews/Slamet Riyanto
- See more at: http://www.jurnalhaji.com/wijhat/tempat-bersejarah/uhud-magnet-bagi-jamaah-umrah-saat-ramadhan/#sthash.gqeaaIJD.dpuf
Ribuan orang mengunjungi bukit Uhud, banyak penduduk lokal mengambil kesempatan untuk mendirikan kios-kios untuk menjual cinderamata, parfum, manik-manik, herbal, buku, Alquran, kalender, minuman ringan dan es krim.
Nurul Haq Siraj, seorang jamaah Umrah asal Pakistan, mengatakan ia membeli beberapa rempah-rempah dan rosario. “Sungguh menakjubkan cara mereka mengemas barang di sini, belum lagi keragaman barang yang dijual,” katanya.
Khaled Ibrahim, seorang peziarah Umrah dari Mesir, bergegas mengunjungi kios-kios usai berziarah ke makam para sahabat Nabi yang menjadi shuhada dalam perang Uhud. “Saya membeli beberapa pernik bebatuan. Saya juga berfoto di tempat itu. Foto ini akan mengingatkan saya bahwa saya pernah berkunjung ke tempat ini dan diharapkan akan mengingatkan saya tentang ziarah saya ketika saya kembali di masa mendatang, “katanya.
Di satu sisi berdiri tegak gunung Uhud yang dahulu menjadi medan perang, sementara di sisi lain berdiri sebuah bukit yang berbatu-batu, disitulah sekelompok fotografer mengambil gambar para peziarah.
“Banyak peziarah yang ingin memiliki foto mereka diambil di sini untuk mengingatkan mereka dari tempat ini. bukit ini terkenal dan memiliki banyak makna sejarah, “kata Khaled Al-Matarfi.
“Kami memasang tarif untuk satu foto SR 10 dan SR 15 untuk dua foto. Meskipun kamera ponsel telah mengakibatkan penurunan bisnis kami, namun kami masih bisa mendapatkan antara SR 300 sampai SR 200 sehari, “katanya.
Perang Uhud adalah pertempuran kedua antara orang-orang kafir dari Makkah dan Muslim dari Madinah, dimana sebelumnya telah didahului Perang Badar (624 M / 2 H) di mana pasukan Muslim yang jumlahnya jauh lebih kecil dapat mengalahkan pasukan Mekah yang jauh lebih besar.
Selama Pertempuran Uhud, Nabi Muhammad (SAW) bersama 50 pemanah dan Abdullah bin Jubair berada di bukit Gunung Uhud untuk memastikan musuh tidak menyerang kaum Muslim dari belakang.
Nabi memerintahkan agar 50 orang ini menjaga kaum muslim dan mencegah musuh melewati celah gunung, dan tidak meninggalkan tempat ini dalam situasi kalah atau menang.
Selama pertempuran, setiap kali musuh mencoba menyerang dari belakang, para pemanah dapat memukul mundur. Musuh membuat strategi baru dengan membuang senjata mereka di satu tempat dan mereka mundur dari pertempuran. Saat itulah para pasukan elite terpancing dan turun untuk mengumpulkan barang rampasan perang.
Namun, pada saat yang sama kavaleri musuh yang dipimpin oleh Khaled bin Walid, yang pada waktu itu belum bisa menerima Islam, menyerang kaum Muslim dari belakang datang dari balik bukit itu.
Kala itu merupakan kemunduran besar bagi umat Islam Madinah, perang yang mengakibatkan banyak pengorbanan sahabat terkemuka Nabi, termasuk paman Nabi yaitu Hamzah dan Abdullah bin Jubair. Arabnews/Slamet Riyanto
- See more at: http://www.jurnalhaji.com/wijhat/tempat-bersejarah/uhud-magnet-bagi-jamaah-umrah-saat-ramadhan/#sthash.gqeaaIJD.dpuf
Tempat Bersejarah - ver
![]() |
Cover buku “Assalamualaikum Beijing!” |
Penulis: Asma Nadia
Penerbit: Noura Books
Cetakan: Pertama, Oktober 2013
Tebal: x + 344 halaman
ISBN: 978-602-1606-15-5
Perjuangan Hidup Gadis Penderita APS
dakwatuna.com – Asma adalah gadis enerjik yang periang sebelum serangan stroke melumpuhkannya. Tapi ternyata, itu baru awal, karena setelahnya dia mengalami serangan jantung dan pingsan berkali-kali. Hingga kemudian diketahui dari hasil pemeriksaan darah bahwa Asma menderita APS—Antiphospholipid Syndrome atau sindrom pengentalan darah. Sederhananya, APS adalah penyakit autoimun yang terjadi karena darah terlalu cepat mengental. Jika darah mengental di ginjal, yang terjadi adalah penderita APS akan terkena penyakit ginjal. Jika pengentalan darah terjadi di mata, mata akan mengalami gangguan penglihatan sampai kebutaan. Asma sendiri mengidap APS Primer, artinya sindrom tersebut akan selamanya berada dalam tubuh (hal. 162-163).
Penyebab APS memang belum bisa diketahui secara pasti. Bisa karena faktor genetik, merokok, mobilitas tinggi, seperti perjalanan panjang dengan pesawat lebih dari enam jam, dehidrasi, dan pil KB (hal. 184).
Sejak saat itulah, hidup Asma seolah jungkir-balik. Dia terpaksa keluar dari pekerjaannya sebagai reporter dan harus lebih sering berbaring istirahat sambil rutin meminum dan disuntik obat pengencer darah. Hubungan cintanya kandas, karena sang pacar justru menikahi gadis lain. Sementara itu, orang yang melimpahinya dengan curahan kasih dan perhatian hanyalah Mama dan Sekar, sahabatnya.
Kehadiran dua orang itu menambah kuat ketahanan diri Asma. Kesadaran betapa semakin kaburnya jarak yang tercipta antara dia dan kematian, memacu semangat gadis itu. Dia semakin gila membaca dan rajin menulis. Asma tidak melawan penyakitnya itu, tapi justru menikmatinya dengan cara memberikan semangat dan membangun persahabatan dengan sesama penderita APS. Dia rajin mengirim catatan doa-doa untuk diamalkan pasien-pasien penderita APS, karena menurutnya, “Doa selalu menenangkan dan memberikan harapan.” (hal. 244).
Hingga suatu ketika, Asma mendapat kunjungan dari Zhongwen, pemuda Tionghoa yang dikenalnya saat meliput berita di Beijing. Pemuda itu mengaku sangat terkesan dan banyak belajar dari kepribadian Asma selama pertemuan mereka di Beijing yang dilanjutkan komunikasi via internet. Dia bahkan memperoleh pencerahan agama setelah banyak berdiskusi dengan Asma. Kunjungan pemuda itu ke Jakarta adalah untuk melamar Asma menjadi istrinya, meski akhirnya dia tahu kalau Asma menderita APS (hal 301).
Tepat setelah ijab kabul pernikahan, Asma justru kembali terkena serangan stroke yang selanjutnya membuat dia kehilangan banyak memori dan sukar bicara. Tapi Zhongwen tidak berpaling. Dia tetap menemani Asma, menyemangati, dan mendoakannya. Setelah keadaan Asma membaik, mereka bahkan dapat berbulan madu ke Beijing, melakukan napak tilas pertemuan mereka dulu (hal. 326).
Pada akhirnya, novel ini dapat dijadikan penyemangat dan wujud empati bagi saudara-saudara yang berjuang dengan APS, maupun sindrom atau penyakit lainnya.
Sumber : http://www.dakwatuna.com/2014/05/14/51212/assalamualaikum-beijing/
Resensi Buku
![]() |
| Foto : Republika.co.id |
Jakarta (Sinhat)--Dirjen Penyelenggara Haji dan Umroh (PHU) Kemenag, Anggito Abimanyu menegaskan bahwa sampai saat ini tidak ada kasus Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-CoV) yang terjadi di Indonesia. "Jadi tidak ada pemberhentian visa dari Dubes Arab Saudi terkait virus MERS-Cov," tegas Anggito kepada pers di Kantor Kemenag, Jakarta, Selasa (6/5).
Penegasan itu menanggapi pernyataan dari World Health Organization (WHO) bahwa MERS-Cov merupakan situasi serius dan perlu perhatian besar, tapi belum terjadi darurat kesehatan masyarakat. Namun, kata Anggito, WHO tidak menganjurkan penerapan restriksi perjalanan, dan masih dalam status travel advise.
Terkait virus MERS-Cov, Anggito sudah melakukan rapat konsultasi dengan pemerintah dengan asosiasi penyelenggara haji dan umrah, dan mesosialisasikan kepada masyarakat calon jamaah umrah dan haji khusus.
Lebih lanjut Anggito mengatakan, bahwa potensi virus MERS-Cov bisa terjadi, dan jumlah jemaah yang akan menjalankan umrah ke tanah suci terus mengalami peningkatan hingga mencapai 150 ribu perbulan. Karenanya, pihaknya mengantisipasi virus MERS-Cov dengan menyarankan untuk tidak memberangkatkan jemaah umrah yang berusia lebih dari 65 tahun. “Tidak memberangkatkan jemaah yang memiliki riwayat penyakit kronis, seperti jantung, ginjal, saluran pernafasan dan diabetes,” ungkapnya.
Selain itu, para penyelenggara umrah juga disarankan untuk tidak memberangkatkan jemaah dengan defisiensi kekebalan tubuh, wanita hamil dan anak-anak di bawah umur 12 tahun. “Jadi langkah antisipasinya ada 4 kriteria tersebut,” ujarnya.
Antisipasi terhadap virus MERS-Cov lainnya, kata Anggito, agar jemaah umrah dan haji menjaga perilaku hidup bersih dan sehat, istirahat yang cukup, jangan merokok, rajin mencuci tangan dengan sabun, senantiasa menggunakan masker, bila batuk agar menutup mulut dengan tisu atau lengan. “Kalau ada infeksi saluran pernafasan agar segera berobat ke fasilitas kesehatan,” ujarnya.
Ia juga mengimbau kepada jemaah untuk tidak mengunjungi peternakan dan tempat-tempat pemotongan hewan, dan menghindari kontak langsung dengan fasilitas kesehatan yang sudah terkena kasus virus MERS-Cov. “Jadi kewaspadaan dan hati-hati yang harus di utamakan jemaah,” tegasnya
Pentingnya antisipasi virus MERS-Cov tersebut, Anggito juga mengimbau kepada Asosiasi penyelenggara ibadah umrah dan PIHK agar meningkatkan sosialisasi penyebaran virus MERS-Cov kepada anggota, dan calon jemaahnya. “Terpenting jangan sampai menimbulkan kepanikan kepada jamaah,” pungkasnya. (hud/haji.kemenag.go.id)
Penegasan itu menanggapi pernyataan dari World Health Organization (WHO) bahwa MERS-Cov merupakan situasi serius dan perlu perhatian besar, tapi belum terjadi darurat kesehatan masyarakat. Namun, kata Anggito, WHO tidak menganjurkan penerapan restriksi perjalanan, dan masih dalam status travel advise.
Terkait virus MERS-Cov, Anggito sudah melakukan rapat konsultasi dengan pemerintah dengan asosiasi penyelenggara haji dan umrah, dan mesosialisasikan kepada masyarakat calon jamaah umrah dan haji khusus.
Lebih lanjut Anggito mengatakan, bahwa potensi virus MERS-Cov bisa terjadi, dan jumlah jemaah yang akan menjalankan umrah ke tanah suci terus mengalami peningkatan hingga mencapai 150 ribu perbulan. Karenanya, pihaknya mengantisipasi virus MERS-Cov dengan menyarankan untuk tidak memberangkatkan jemaah umrah yang berusia lebih dari 65 tahun. “Tidak memberangkatkan jemaah yang memiliki riwayat penyakit kronis, seperti jantung, ginjal, saluran pernafasan dan diabetes,” ungkapnya.
Selain itu, para penyelenggara umrah juga disarankan untuk tidak memberangkatkan jemaah dengan defisiensi kekebalan tubuh, wanita hamil dan anak-anak di bawah umur 12 tahun. “Jadi langkah antisipasinya ada 4 kriteria tersebut,” ujarnya.
Antisipasi terhadap virus MERS-Cov lainnya, kata Anggito, agar jemaah umrah dan haji menjaga perilaku hidup bersih dan sehat, istirahat yang cukup, jangan merokok, rajin mencuci tangan dengan sabun, senantiasa menggunakan masker, bila batuk agar menutup mulut dengan tisu atau lengan. “Kalau ada infeksi saluran pernafasan agar segera berobat ke fasilitas kesehatan,” ujarnya.
Ia juga mengimbau kepada jemaah untuk tidak mengunjungi peternakan dan tempat-tempat pemotongan hewan, dan menghindari kontak langsung dengan fasilitas kesehatan yang sudah terkena kasus virus MERS-Cov. “Jadi kewaspadaan dan hati-hati yang harus di utamakan jemaah,” tegasnya
Pentingnya antisipasi virus MERS-Cov tersebut, Anggito juga mengimbau kepada Asosiasi penyelenggara ibadah umrah dan PIHK agar meningkatkan sosialisasi penyebaran virus MERS-Cov kepada anggota, dan calon jemaahnya. “Terpenting jangan sampai menimbulkan kepanikan kepada jamaah,” pungkasnya. (hud/haji.kemenag.go.id)
Berita - Info Umroh dan Haji - Slider - ver
Jakarta (Sinhat)--Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan tidak ada penderita Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV) di Indonesia. Kasus yang terjadi di Medan baru sebatas suspect flu Arab dan hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan hasil negatif.
Hal tersebut ditegaskan Kepala Pusat Kesehatan Haji dari Kementerian Kesehatan, Dr. dr. Fidiansjah, SpKJ, MPH, seusai rapat konsultasi dengan Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag, Anggito Abimanyu, dan empat pimpinan Asosiasi Penyelenggara Haji dan Umrah, Selasa (6/5).
Menurut Fidiansjah, syarat suspect biasanya memenuhi dua kriteria yaitu seseorang menderita gejalanya dan baru berkunjung ke negara tempat penyakit tersebut. "Namun suspect belum tentu penderita dan pasien di Medan hasil tes laboratoriumnya negatif," ungkapnya.
Hemat dia, virus juga mengalami mutasi dan terjangkit di lokasi berbeda-beda. Sebelumnya pernah ada flu Hong Kong, dan sekarang di Timur Tengah. "Ini terkait lokasi, jadi mohon tidak dikaitkan dengan hal-hal lain," tegasnya.
Fidiansjah menambahkan bahwa vaksin flu Arab memang belum ditemukan. Bahkan flu burung dengan tingkat kematian pasien 80 persen saja masih belum ditemukan vaksinnya.
Sedangkan proses penularannya pun masih diduga-duga, belum dipastikan apakah dari unta ke manusia atau antar manusia. Lagi-lagi, kata Fidiansjah, pencegahan tetap yang terbaik, termasuk tidak mendekati orang yang terpapar penyakit dan menghindari peternakan unta atau pemotongan hewan.
Ia mengaku optimis dengan langkah antisipatif pemerintah ditambah punya pengalaman dengan flu burung, maka bisa dikatakan kita lebih siap. "Kita tidak bermaksud takabur, kita tetap waspada, namun, jangan membuat panik," tandasnya.
Untuk jemaah umrah dan haji ia menghimbau menjaga perilaku sehat dengan mengkonsumsi makanan bergizi dan tidak makan secara sembarang. Ia menyarankan untuk menjaga stamina jemaah perlu mengkonsumsi vitamin C dosis tinggi atau multivitamin. Menurutnya virus tidak akan menyerang orang yang daya tahan tubuhnya kuat. (so/haji.kemenag.go.id)
Untuk jemaah umrah dan haji ia menghimbau menjaga perilaku sehat dengan mengkonsumsi makanan bergizi dan tidak makan secara sembarang. Ia menyarankan untuk menjaga stamina jemaah perlu mengkonsumsi vitamin C dosis tinggi atau multivitamin. Menurutnya virus tidak akan menyerang orang yang daya tahan tubuhnya kuat. (so/haji.kemenag.go.id)
Berita - Info Umroh dan Haji - Slider - ver
Air Zam zam diyakini bisa mencegah dan menyembuhkan berbagai macam penyakit, tidak terkecuali virus corona. "Air ini berkhasiat," jelas Ketua Pelaksana Majlis Azzikra, Ustaz Abdul Syukur Yusuf, saat dihubungi, Rabu (7/5).
Dia mengutip sebuah hadis Rasulullah riwayat Imam Ahmad dari Jabir bin Abdullah. Inti dari hadis itu, pertama, khasiat air ini bergantung dari niat yang tersimpan dalam hati peminumnya. "Ini bisa menjadi syifaan likulli daain wa saqamin (penyembuh segala penyakit, - red)" jelasnya mengutip petikan hadis itu.
Ustaz Syukur yang baru saja kembali dari tanah suci belum lama ini menceritakan, kekuatan air zam zam menguatkan keyakinan setiap Umat Islam yang sedang melaksanakan haji dan umrah disana. Di saat pemberitaan mengenai virus Corona menyebar kemana-mana.
Bahkan menjadi isu internasional, Umat Islam Indonesia yang sedang beribadah umroh tenang-tenang saja. Mereka tetap menjalankan ibadah dengan khusyu', tanpa terpengaruh pemberitaan itu. "Kekhusyuan seperti itu menghilangkan rasa takut," jelasnya.
Dia menerangkan kondisi psikologis ketika beribadah seperti itu membuat segala hal yang lahir terfokus kepada yang batin. Bahkan bisa jadi, kondisi lahir akan semakin kuat, karena ibadah seperti ini menumbuhkan kekuatan batin yang kuat. Rasa percaya diri dan kesehatan bahkan bisa semakin baik. (rol/ds)
Berita - Info Umroh dan Haji - Slider - ver
![]() |
Cover buku “Fiqih Negara”. |
Terjemahan: Fiqih Negara
Penulis : Dr. Yusuf Qardhawy
Penerjemah: Syafril Halim
Penerbit: Robbani Press – Jakarta
Tebal : 260 Halaman
Islam adalah agama paripurna yang mengurusi seluruh aspek kehidupan manusia. Mulai dari yang sederhana hingga hal paling rumit. Mulai dari hal terkecil, hingga hal yang terbesar. Islam tidak hanya mengatur kehidupan individu, tetapi juga dalam kehidupan bertetangga, bermasyarakat hingga bernegara. Semua hal ini, telah dicontohkan dengan sangat baik oleh pribadi Rasulullah saw.
Terkait kehidupan bernegara, meskipun sudah dicontohkan dengan sangat baik oleh Rasulullah dan pendahulu terbaik umat ini, kaum muslimin masih berdebat dan berbeda pendapat tentangnya.
Ada kubu yang menganggap bahwa kaum muslimin hanya boleh terjun ke pemerintahan dalam sistem Khilafah. Ada juga yang memilih untuk bertarung dalam sistem apapun demi kemanangan Islam. Pihak lain, justru mengharamkan hal itu karena bukan sistem Islam. Anehnya, jika kemudian kaum muslimin dirugikan, mereka ikut melakukan protes. Padahal, ketika diberi opsi untuk ikut serta secara aktif dalam memenangkan kekuatan kaum muslimin melalui berbagai jalur pemerintahan, kelompok ini merasa enggan. Bahkan, mengharamkannya.
Sehingga, kajian tentang bernegara ini perlu untuk terus digalakkan. Tentu, dengan merujuk kepada sumber primer yakni al-Qur’an, hadits, dan ijma’ ulama’. Karena, pengaturan kehidupan bernegara ini, bukan kreasi gerakan Islam (pendiri dan aktivisnya), tapi merupakan kajian dari teks-teks Islam yang tegas, fakta sejarah yang tidak akan berubah dan karakter dakwah Islam yang komprehensif. (h. 5)
Kajian tentang fiqh Negara ini, setelah membahas tentang asalnya, maka selanjutnya adalah tentang rambu-rambu negara yang dibangun oleh Islam. Negara yang dibangun oleh Islam adalah: negara madani bersumberkan Islam, negara Internasional, negara konstitusional berdasarkan syariat, negara musyawarah bukan kerajaan, negara petunjuk bukan negara pengumpul harta, negara pelindung kaum dhuafa, negara hak asai dan kebebasan, negara prinsip dan moral.(h. 29-58)
Selain rambu-rambu, penting juga untuk dimengerti tentang karakter negara dalam Islam itu sendiri. Pengetahuan tentang karakter ini amatlah penting. Sehingga kita bisa mengetahui tentang mana jalan yang harus ditempuh dan jalan yang harus dihindari.
Bahwa negara Islam bukanlah negara agamawan yang pernah berkuasa di Eropa. Yakni kekuasaan absolut atas nama agama yang kemudian berdampak buruk bagi kesejahteraan masyarakat. Hanya demi kepentingan pribadi dan golongan pengusungnya. Hal inilah yang terus dibisikkan oleh musuh-musuh Islam sehingga kaum muslimin merasa anti dan kemudian memusuhi sesamanya yang berjuang dalam jalur pemerintahan.
Selanjutnya, di dalam buku ini juga dibahas tentang berbagai sistem pemerintahan yang ada saat ini. Mulai dari sistem multipartai, pencalonan wanita untuk dewan perwakilan, hukum berpastisipasi dalam pemerintahan non-Islam, juga tentang bagaimana hukumnya mencalonan non-Muslim untuk menjadi anggota dewan perwakilan rakyat.
Kajian dalam buku ini, sangat layak untuk dilirik. Jika memang ada yang tak tertarik untuk membahasnya lebih jauh. Syukur-syukur, jika ijtihad penulisnya dalam buku ini, ada yag bisa melengkapi, mengoreksi ataupun membandingkannya dengan ijtihad lain berdasarkan al-Qur’an dan sunnah.
Pasalnya, saat ini, kaum muslimin lebih sibuk untuk membahas perbedaan cara ibadah dan khilaifyah lainnya, dibanding sibuk mengurus negara. Padahal, jika Islam berkuasa, seluruh agama akan dinaungi dalam keadilan dan kesejahteraan. Ini bukan retorika, tapi sudah dibuktikan dalam tinta emas sejarah.
Resensi Buku
Judul: Khadijah, The True Love Story of Muhammad
Penulis: Abdul Mun’im Muhammad
Penerbit: Pena (Ilmu dan Amal)
dakwatuna.com – “Aku tidak pernah merasa cemburu kepada seorang wanita sebesar rasa cemburuku kepada Khadijah. Aku tidak pernah melihatnya, tetapi Rasulullah sering menyebut dan mengingatnya. Ketika menyembelih seekor kambing, beliau selalu memotong sebagian dagingnya dan menghadiahkannya kepada sahabat-sahabat Khadijah. Aku pernah berkata kepada Rasulullah, ‘seperti tidak ada wanita lain di dunia ini selain Khadijah’. Rasulullah menjawab, ‘Khadijah itu begini dan begitu dan dari dialah aku memperoleh anak.’” (Kisah Aisyah mengenai Khadijah).
Dalam buku ini, dikisahkan kehidupan Khadijah mulai dari sebelum menikah dengan Rasulullah sampai Khadijah wafat pada tahun kesedihan Rasulullah. Dijelaskan bahwa Khadijah merupakan seorang wanita yang sangat halus hatinya, pandai menjaga kehormatan, pandai menjaga harta dan dermawan. Khadijah tak pernah sekalipun melakukan penyembahan terhadap berhala, ia masih menjaga kepercayaan murni dari ajaran nabi Ibrahim. Sosok wanita yang diberi gelar “wanita yang suci” (Thahirah) ini pun terpesona dengan kepribadian nabi Muhammad yang diberi gelar al-Amin (Terpercaya) dan merupakan pemuda yang sangat disanjung-sanjung oleh masyarakat Mekah saat itu. Diantara lamaran yang silih berganti datang kepadanya, Khadijah berkeinginan untuk menikah dengan Muhammad. Bukan dari ketampanan dan kepiawaian nabi Muhammad dalam melakukan perdagangan melainkan karena akhlak mulia yang senantiasa dijaga oleh nabi Muhammad.
Melalui pendekatan yang dilakukan oleh Nafisah kepada nabi Muhammad bahwa ada seorang wanita yang paling cocok ia nikahi yaitu, Khadijah. Kemudian Khadijah mengundang nabi muhammad untuk hadir ke kediaman Khadijah dan dengan berani Khadijah memberi tahukan keinginannya untuk menikah dengan nabi Muhammad. Sifat ini memperlihatkan bahwa Khadijah merupakan wanita yang mampu mengurusi urusan-urusannya sendiri. Dan akhirnya nabi Muhammad menerima pinangan Khadijah.
Saat Nabi muhammad mengalami masa-masa khawatir dan ketakutan dengan kedatangan Jibril di gua Hira’. Khadijah selalu mampu untuk menenangkan Rasulullah dan berkonsultasi secara diam-diam dengan Waraqah (Ahli kitab dan sepupu Khadijah). Waraqah berkeyakinan bahwa Muhammad adalah seorang Rasul yang diturunkan oleh Allah. Khadijah pun merupakan orang pertama yang masuk Islam dan langsung mempercayai ajaran Rasulullah. Ketangguhan Khadijah dalam membersamai Rasulullah saat berdakwah baik secara dam-diam maupun terang-terangan membuatnya mampu menahan sakit yang dialami saat mengandung Abdullah dan Fatimah. Ia tak pernah mengeluh sedikitpun kepada Rasulullah akan keadaan fisiknya yang dilakukan adalan terus menerus memberikan support dan kasih sayang yang begitu tulus untuk senantiasa membesarkan hati Rasulullah yang tersakiti oleh tindakan-tindakan kaum kafir Quraisy.
Khadijah mernyadari bahwa ada amanah besar yang dimiliki oleh suaminya. Ia pun merasa bahwa sebagai istri Muhammad, ia memiliki tanggung jawab yang besar untuk menjadi pendamping terbaik bagi Muhammad dan ikut serta menyebarkan syariat Islam. Pernah suatu ketika, saat Jibril menyampaikan wahyu kepada Rasulullah, Allah menitipkan salam-Nya untuk disampaikan kepada Khadijah dan dijanjikan akan dibuatkan sebuah istana dari permata di surga kelak karena Khadijah telah berjuang begitu kerasnya.
Kematian Khadijah memberikan kesedihan yang amat mendalam dalam diri Rasulullah. Tak ada lagi kasih sayang yang begitu tulus dan senantiasa hadir untuk membesarkan dan memberikan keteguhan pada hatinya. Dan Khadijah merupakan satu-satunya istri Rasulullah yang memberinya keturunan, yaitu: Zinab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Abdullah, Qasim dan Fatimah.
Dalam buku ini, dipaparkan begitu baik tentang kisah kemuliaan seorang Khadijah dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri, ibu rumah tangga serta Ummul Mukminin. Para muslimah sudah sepatutnya meneladani sifat-sifat mulia dari wanita yang disebut sebagai cinta sejati Rasulullah ini. Kelembutan hati, kemandirian, ketegasan, keberanian dan kepatuhan serta kasih sayang terhadap suami yang dicerminkan oleh Khadijah merupakan teladan yang harus dipegang teguh oleh para muslimah diantara isu feminisme dan emansipasi yang tengah digaungkan dunia saat ini. Muslimah perlu sadar bahwa keteladanan sejati bukan datang dari pejuang feminisme atau emansipasi, melainkan dari Ibunda Umat, Siti Khadijah.
Kekurangan dari buku ini adalah penulis amat jauh menyoroti kisah kehidupan Rasulullah dibandingkan dengan menceritakan kehidupan Khadijah. Tentu saja karena begitu luar biasa kisah kehidupan Rasulullah. Namun sejauh itu buku ini sangat bermanfaat.
Penulis: Abdul Mun’im Muhammad
Penerbit: Pena (Ilmu dan Amal)
dakwatuna.com – “Aku tidak pernah merasa cemburu kepada seorang wanita sebesar rasa cemburuku kepada Khadijah. Aku tidak pernah melihatnya, tetapi Rasulullah sering menyebut dan mengingatnya. Ketika menyembelih seekor kambing, beliau selalu memotong sebagian dagingnya dan menghadiahkannya kepada sahabat-sahabat Khadijah. Aku pernah berkata kepada Rasulullah, ‘seperti tidak ada wanita lain di dunia ini selain Khadijah’. Rasulullah menjawab, ‘Khadijah itu begini dan begitu dan dari dialah aku memperoleh anak.’” (Kisah Aisyah mengenai Khadijah).
Dalam buku ini, dikisahkan kehidupan Khadijah mulai dari sebelum menikah dengan Rasulullah sampai Khadijah wafat pada tahun kesedihan Rasulullah. Dijelaskan bahwa Khadijah merupakan seorang wanita yang sangat halus hatinya, pandai menjaga kehormatan, pandai menjaga harta dan dermawan. Khadijah tak pernah sekalipun melakukan penyembahan terhadap berhala, ia masih menjaga kepercayaan murni dari ajaran nabi Ibrahim. Sosok wanita yang diberi gelar “wanita yang suci” (Thahirah) ini pun terpesona dengan kepribadian nabi Muhammad yang diberi gelar al-Amin (Terpercaya) dan merupakan pemuda yang sangat disanjung-sanjung oleh masyarakat Mekah saat itu. Diantara lamaran yang silih berganti datang kepadanya, Khadijah berkeinginan untuk menikah dengan Muhammad. Bukan dari ketampanan dan kepiawaian nabi Muhammad dalam melakukan perdagangan melainkan karena akhlak mulia yang senantiasa dijaga oleh nabi Muhammad.
Melalui pendekatan yang dilakukan oleh Nafisah kepada nabi Muhammad bahwa ada seorang wanita yang paling cocok ia nikahi yaitu, Khadijah. Kemudian Khadijah mengundang nabi muhammad untuk hadir ke kediaman Khadijah dan dengan berani Khadijah memberi tahukan keinginannya untuk menikah dengan nabi Muhammad. Sifat ini memperlihatkan bahwa Khadijah merupakan wanita yang mampu mengurusi urusan-urusannya sendiri. Dan akhirnya nabi Muhammad menerima pinangan Khadijah.
Saat Nabi muhammad mengalami masa-masa khawatir dan ketakutan dengan kedatangan Jibril di gua Hira’. Khadijah selalu mampu untuk menenangkan Rasulullah dan berkonsultasi secara diam-diam dengan Waraqah (Ahli kitab dan sepupu Khadijah). Waraqah berkeyakinan bahwa Muhammad adalah seorang Rasul yang diturunkan oleh Allah. Khadijah pun merupakan orang pertama yang masuk Islam dan langsung mempercayai ajaran Rasulullah. Ketangguhan Khadijah dalam membersamai Rasulullah saat berdakwah baik secara dam-diam maupun terang-terangan membuatnya mampu menahan sakit yang dialami saat mengandung Abdullah dan Fatimah. Ia tak pernah mengeluh sedikitpun kepada Rasulullah akan keadaan fisiknya yang dilakukan adalan terus menerus memberikan support dan kasih sayang yang begitu tulus untuk senantiasa membesarkan hati Rasulullah yang tersakiti oleh tindakan-tindakan kaum kafir Quraisy.
Khadijah mernyadari bahwa ada amanah besar yang dimiliki oleh suaminya. Ia pun merasa bahwa sebagai istri Muhammad, ia memiliki tanggung jawab yang besar untuk menjadi pendamping terbaik bagi Muhammad dan ikut serta menyebarkan syariat Islam. Pernah suatu ketika, saat Jibril menyampaikan wahyu kepada Rasulullah, Allah menitipkan salam-Nya untuk disampaikan kepada Khadijah dan dijanjikan akan dibuatkan sebuah istana dari permata di surga kelak karena Khadijah telah berjuang begitu kerasnya.
Kematian Khadijah memberikan kesedihan yang amat mendalam dalam diri Rasulullah. Tak ada lagi kasih sayang yang begitu tulus dan senantiasa hadir untuk membesarkan dan memberikan keteguhan pada hatinya. Dan Khadijah merupakan satu-satunya istri Rasulullah yang memberinya keturunan, yaitu: Zinab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Abdullah, Qasim dan Fatimah.
Dalam buku ini, dipaparkan begitu baik tentang kisah kemuliaan seorang Khadijah dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri, ibu rumah tangga serta Ummul Mukminin. Para muslimah sudah sepatutnya meneladani sifat-sifat mulia dari wanita yang disebut sebagai cinta sejati Rasulullah ini. Kelembutan hati, kemandirian, ketegasan, keberanian dan kepatuhan serta kasih sayang terhadap suami yang dicerminkan oleh Khadijah merupakan teladan yang harus dipegang teguh oleh para muslimah diantara isu feminisme dan emansipasi yang tengah digaungkan dunia saat ini. Muslimah perlu sadar bahwa keteladanan sejati bukan datang dari pejuang feminisme atau emansipasi, melainkan dari Ibunda Umat, Siti Khadijah.
Kekurangan dari buku ini adalah penulis amat jauh menyoroti kisah kehidupan Rasulullah dibandingkan dengan menceritakan kehidupan Khadijah. Tentu saja karena begitu luar biasa kisah kehidupan Rasulullah. Namun sejauh itu buku ini sangat bermanfaat.
Resensi Buku
Memandang ke arah selatan dari Masjidil Haram di Kota Makkah, akan tampak barisan bukit batu terhampar memanjang. Berjarak lima kilometer dari Kota Makkah, barisan bukit batu tersebut adalah Jabal Tsur, perbukitan tertinggi di Makkah Al-Mukarromah.
Jabal Tsur atau Gunung Tsur memiliki tiga puncak yang bersambungan dan berdekatan. Di salah satu puncak Jabal Tsur itulah terdapat Gua Tsur.Gua Tsur merupakan tempat yang dijadikan perlindungan Rasulullah Muhammad SAW dan sahabatnya, Abu Bakar RA. Rasul dan Abu Bakar bersembunyi dari kejaran kaum kafir Quraiys.
Kala itu, tahun 622 Masehi, Rasulullah Muhammad SAW berniat hijrah ke Kota Madinah untuk mencari tempat penyebaran Islam yang lebih kondusif. Namun, kaum kafir Quraisy yang tak menginginkan ajaran Muhammad menyebar ke luar Makkah, melakukan pengejaran untuk menghalangi niat Rasulullah.
Dalam kondisi terdesak, Rasulullah dan Abu Bakar memilih masuk ke Gua Tsur atas petunjuk yang diberikan Allah SWT melalui malaikat Jibril. Di gua yang berada di Jabal Tsur nan tandus itulah Rasulullah dan Abu Bakar berlindung selama tiga hari tiga malam.
Upaya pengejaran kaum kafir Quraisy menemui jalan buntu manakala sampai di sekitar gua. Kendati sudah berada di depan pintu masuk gua, kaum kafir Quraisy terkecoh dengan keberadaan sarang laba-laba dan sarang burung merpati yang menutupi jalan masuk ke gua.
Kaum kafir Quraisy tak melanjutkan mengejar ke dalam gua. Mereka berpandangan, tak mungkin ada orang yang sebelumnya masuk tanpa merusak sarang laba-laba dan membuat burung merpati terbang dari sarangnya. Dengan logika itu, kaum kafir Quraisy pun angkat langkah dan menghentikan pengejaran, kembali ke Kota Makkah.
Peristiwa pertolongan di Jabal Tsur serta persembunyian Rasulullah Muhammad SAW dan Abu Bakar di Gua Tsur diabadikan melalui firmah Allah SWT dalam Surat At-Taubah ayat 40. Ayat itu berbunyi: ””Bila kamu tidak mau menolong Rasul, maka Allah SWT telah menjamin menolongnya ketika orang-orang kafir mengusirnya berdua dengan sahabatnya.
Ketika keduanya berada dalam gua, dia berkata kepada sahabatnya, ”Janganlah engkau berduka cita, karena Allah SWT bersama kita.” Lalu Allah SWT menurunkan ketenangan hati (kepada Muhammad) dan membantunya dengan pasukan-pasukan yang tiada tampak olehmu. Dijadikan-Nya kepercayaan orang-orang kafir paling rendah dan agama Allah SWT menduduki tempat teratas. Sesungguhnya Allah SWT Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.””
Dulu, saat musim haji banyak jamaah yang berupaya naik ke Jabal Tsur dan melihat Gua Tsur. Namun, kondisi medan bukit yang terjal serta waktu tempuh yang cukup lama, sekitar 2-3 jam untuk mencapai gua, membuat Pemerintah Kerajaan Arab Saudi mengeluarkan larangan naik ke Jabal Tsur.
Jamaah kini hanya bisa menyaksikan Jabal Tsur dari bawah bukit. Bila jamaah kebetulah ikut rombongan yang melakukan rangkaian ziarah di Kota Makkah, maka bus pembawa rombongan akan berhenti di bawah bukit Jabal Tsur. Pemandu ziarah biasanya akan menceritakan sejarah peristiwa di zaman Rasulullah yang terjadi di Jabal Tsur.
Sambil mendengarkan penjelasan pemandu ziarah, jamaah bisa mendokumentasikan momentum berada di Jabal Tsur dengan latar belakang puncak bukit Jabal Tsur. Ada pula unta-unta yang bisa disewa untuk sekadar berkeliling dan berfoto di areal kaki bukit Jabal Tsur. Sayang, jamaah tak bisa naik melongok lokasi Gua Tsur. Kalau dulu, jamaah yang berfisik kuat biasanya memaksakan naik ke Gua Tsur dan melakukan shalat sunah di dalam gua. ismail ed:m as”adi/yto -
Sumber : http://www.jurnalhaji.com/wijhat/tempat-bersejarah/jabal-tsur-pelindung-rasulullah-dari-kafir-quraisy/#sthash.7rZwP8pF.dpuf
Jabal Tsur atau Gunung Tsur memiliki tiga puncak yang bersambungan dan berdekatan. Di salah satu puncak Jabal Tsur itulah terdapat Gua Tsur.Gua Tsur merupakan tempat yang dijadikan perlindungan Rasulullah Muhammad SAW dan sahabatnya, Abu Bakar RA. Rasul dan Abu Bakar bersembunyi dari kejaran kaum kafir Quraiys.
Kala itu, tahun 622 Masehi, Rasulullah Muhammad SAW berniat hijrah ke Kota Madinah untuk mencari tempat penyebaran Islam yang lebih kondusif. Namun, kaum kafir Quraisy yang tak menginginkan ajaran Muhammad menyebar ke luar Makkah, melakukan pengejaran untuk menghalangi niat Rasulullah.
Dalam kondisi terdesak, Rasulullah dan Abu Bakar memilih masuk ke Gua Tsur atas petunjuk yang diberikan Allah SWT melalui malaikat Jibril. Di gua yang berada di Jabal Tsur nan tandus itulah Rasulullah dan Abu Bakar berlindung selama tiga hari tiga malam.
Upaya pengejaran kaum kafir Quraisy menemui jalan buntu manakala sampai di sekitar gua. Kendati sudah berada di depan pintu masuk gua, kaum kafir Quraisy terkecoh dengan keberadaan sarang laba-laba dan sarang burung merpati yang menutupi jalan masuk ke gua.
Kaum kafir Quraisy tak melanjutkan mengejar ke dalam gua. Mereka berpandangan, tak mungkin ada orang yang sebelumnya masuk tanpa merusak sarang laba-laba dan membuat burung merpati terbang dari sarangnya. Dengan logika itu, kaum kafir Quraisy pun angkat langkah dan menghentikan pengejaran, kembali ke Kota Makkah.
Peristiwa pertolongan di Jabal Tsur serta persembunyian Rasulullah Muhammad SAW dan Abu Bakar di Gua Tsur diabadikan melalui firmah Allah SWT dalam Surat At-Taubah ayat 40. Ayat itu berbunyi: ””Bila kamu tidak mau menolong Rasul, maka Allah SWT telah menjamin menolongnya ketika orang-orang kafir mengusirnya berdua dengan sahabatnya.
Ketika keduanya berada dalam gua, dia berkata kepada sahabatnya, ”Janganlah engkau berduka cita, karena Allah SWT bersama kita.” Lalu Allah SWT menurunkan ketenangan hati (kepada Muhammad) dan membantunya dengan pasukan-pasukan yang tiada tampak olehmu. Dijadikan-Nya kepercayaan orang-orang kafir paling rendah dan agama Allah SWT menduduki tempat teratas. Sesungguhnya Allah SWT Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.””
Dulu, saat musim haji banyak jamaah yang berupaya naik ke Jabal Tsur dan melihat Gua Tsur. Namun, kondisi medan bukit yang terjal serta waktu tempuh yang cukup lama, sekitar 2-3 jam untuk mencapai gua, membuat Pemerintah Kerajaan Arab Saudi mengeluarkan larangan naik ke Jabal Tsur.
Jamaah kini hanya bisa menyaksikan Jabal Tsur dari bawah bukit. Bila jamaah kebetulah ikut rombongan yang melakukan rangkaian ziarah di Kota Makkah, maka bus pembawa rombongan akan berhenti di bawah bukit Jabal Tsur. Pemandu ziarah biasanya akan menceritakan sejarah peristiwa di zaman Rasulullah yang terjadi di Jabal Tsur.
Sambil mendengarkan penjelasan pemandu ziarah, jamaah bisa mendokumentasikan momentum berada di Jabal Tsur dengan latar belakang puncak bukit Jabal Tsur. Ada pula unta-unta yang bisa disewa untuk sekadar berkeliling dan berfoto di areal kaki bukit Jabal Tsur. Sayang, jamaah tak bisa naik melongok lokasi Gua Tsur. Kalau dulu, jamaah yang berfisik kuat biasanya memaksakan naik ke Gua Tsur dan melakukan shalat sunah di dalam gua. ismail ed:m as”adi/yto -
Sumber : http://www.jurnalhaji.com/wijhat/tempat-bersejarah/jabal-tsur-pelindung-rasulullah-dari-kafir-quraisy/#sthash.7rZwP8pF.dpuf
Tempat Bersejarah - ver
Mewabahnya virus corona (middle east respiratory syndrome corona virus/MERS-CoV) di Arab Saudi membuat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, Jawa Timur (Jatim), menerapkan kebijakan mengharuskan jamaah umroh asal Surabaya harus menjalani dua vaksinasi.
Kepala Dinkes Kota Surabaya Febria Rachmanita mengatakan, virus MERS-CoV belum memasuki Surabaya. Namun demikian, pihaknya melakukan berbagai upaya pencegahan dan antisipasi. Mulai dari memberikan surat edaran untuk rukun tetangga (RT)/ rukun warga (RW) hingga ke travel biro penyelenggara haji di Surabaya untuk waspada virus MERS.
Dalam surat edaran itu ditulis cara yang paling ampuh untuk mengantisipasi virus MERS yaitu menjaga daya tahan tubuh. Ini karena daya tahan tubuh yang kuat merupakan satu-satunya cara yang mencegah virus MERS. “Para jamaah umroh di Surabaya juga harus minum vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh,” ujarnya kepadaRepublika Online (ROL), Kamis (1/5) malam.
Upaya lainnya yaitu menerapkan pola hidup bersih sehat (PHBS) seperti cuci tangan. Kemudian pihaknya mewajibkan para jamaah yang akan berangkat umroh harus menjalani dua vaksinasi yaitu influenza dan meningitis di Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Tanjung Perak dan Bandara Juanda.
Jika tidak menjalani dua vaksinasi itu, kata Feni, jamaah itu akan ditolak masuk Arab Saudi. Jamaah juga diimbau memakai masker terutama di tempat keramaian. “Selain itu, jamaah umroh yang ada di sana hindari kontak dengan penderita flu MERS,” ujarnya.
Sumber :
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/umroh-haji/14/05/01/n4wdba-antisipasi-mers-jamaah-umroh-wajib-vaksinasi
Berita - Info Umroh dan Haji - Slider - ver
Langganan:
Komentar (Atom)









Recent Comments