Select Menu

Slider

Diberdayakan oleh Blogger.

Berita Haji dan Umroh

Alumni Sahara Kafila

Racing

Video Perjalanan Umroh Sahara Kafila


Memilih jalan dakwah sebagai jalan hidup, tentu saja memiliki konsekuensi yang harus diambil atau jalani manakala diri ini telah tersibghoh (tercelup) dengan nilai-nila Islam.

Hal ini bisa dilihat di dalam QS Al Baqarah: 208 yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh) dan janganlah ikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagimu”.

Salah satu konsekuensi yang harus diambil setelah memutuskan untuk berhijrah yaitu menikah tanpa melalui pacaran. Karena dalam Islam memang tidak ada konsep pacaran (lihat QS 17: 32). Bagi seorang aktivis dakwah yang telah memutuskan untuk menikah tanpa melalui proses pacaran (dikenal dengan istilah ta’aruf secara Islami), terkadang yang tergambar dibenak kita adalah seorang ikhwan yang akan menjadi pendamping hidup kita adalah seorang ikhwan yang benar-benar mengamalkan apa yang telah dicontohkan Rasulullah SAW.

Ya, itu keinginan yang wajar serta manusiawi jika ingin pasangan hidup kita shalih/shalihah, menjaga pandangan pada yang bukan muhrimnya, berusaha selalu membantu pekerjaan isteri, dan sebagainya.

Selama ini penulis sering mendapatkan pertanyaan seputar rumah tangga, suami dan keluarga. Terkadang ada suami yang santai membaca koran, sedangkan isterinya sibuk memasak dan mengurus anak-anak, tanpa peduli untuk membantunya. Lalu bagaimanakah sikap kita terhadap pasangan hidup kita?

Berikut adalah tips bagaimana kita menyikapi pasangan hidup kita yaitu sebagai berikut: Pertama, terimalah ia apa adanya. Pernikahan adalah menyatukan dua keluarga besar yang berbeda suku, kultur dan budaya serta pola asuh yang diterapkan pada masing-masing keluarga. Tentu saja tidak mudah merubah karakter yang telah melekat pada pasangan hidup kita. Namun Insya Allah dengan ikut tarbiyah, tentu saja perlahan-perlahan kita berusaha untuk menjadi pribadi yang kaffah.

Jangan pernah sekali-kali menbandingkan pasangan hidup kita dengan pasangan hidup teman kita. Yakinlah bahwa Allah pasti memberikan jodoh yang sekufu untuk kita. Bukankah Allah tidak pernah mengingkari janji-janjiNya?

Kedua, pandai bersyukur atas anugerah suami yang shalih. Sebagai seorang aktivis tentu saja, alhamdulillah kita harus bersyukur pada Allah SWT, yang telah memberikan anugerah terindah dalam hidup kita yaitu seorang ikhwan yang se-visi dan se-misi dalam mengarungi rumah tangga dan juga dakwah yang mulia ini.

Coba kita bayangkan rumah tangga yang suaminya selingkuhlah, yang melakukan KDRT dalam rumah tanggalah, yang suami tidak salatlah. Sementara alhamdulillah, Allah SWT anugerahkan pasangan hidup kita yang selalu tilawah, rajin datang pertemuan mingguan, aktif dalam dakwah di masyarakat, mengerjakan yang sunnah. Sementara rumah tangga lain, mungkin suaminya sering berkata-kata kasar? Sementara kita?

Alhamdulillah, suami kita selalu berkata-kata lembut dan sangat menjaga perasaan kita, sebagai seorang isteri. Insya Allah karena suami kita memahami sebuah hadits yang mengatakan, “Sebaik-baik pria adalah yang paling baik sikapnya terhadap keluarga.” Nikmat Allah mana lagi yang kita dustakan?

Ketiga, saling menutup aib pasangan hidup kita. Sebagai aktivis, tentu saja kita juga manusia biasa yang tidak luput dari dosa dan kesalahan. Tetapi idealnya memang kesalahan para aktivis dakwah harus lebih sedikit dibandingkan yang lain. Bukankah kita selalu mengajak orang lain untuk menjadi lebih baik, kita harus lebih dahulu mengamalkan apa yang kita sampaikan/ceramahkan?

Sebaiknya dalam berumah tangga, aib pasangan hidup kita, harus kita tutupi, tidak perlu kita ceritakan pada orang lain, sekalipun kepada keluarga dekat kita. Biarlah semua hanya suami dan isteri saja yang tahu akan aib pasangan hidup kita. Yakinlah di setiap kekurangan pasangan hidup kita, pasti Allah berikan banyak kelebihan pada dirinya. Bukankah setiap pasangan hidup merupakan pakaian bagi pasangan hidupnya?

Keempat, saling meningkatkan diri dan potensi pasangan hidup kita. Sebagaimana kita ketahui, ada beberapa gambaran rumah tangga, yaitu rumah tangga laba-laba, rumah tangga seperti rumah sakit, rumah tangga seperti rumah tangga pasar dan rumah tangga kuburan. Yang terbaik adalah rumah tangga seperti rumah tangga masjid. Di mana dalam rumah tangga tersebut tercipta suasana saling asih, asah dan asuh.

Suami dan isteri pun harus meningkat dari sisi ketakwaan, dari sisi pendidikan, dari sisi ekonomi, sehingga tercipta rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah. Suami tidak boleh membiarkan isteri untuk tidak berkembang, terutama dari sisi tsaqofah (pengetahuan). Jika memang ada rezeki, tidak salah jika isteri diizinkan untuk melanjutkan kuliah kembali, atau meneruskan kuliahnya kembali (karena keburu dikhitbah) ketika skripsinya misalnya. Insya Allah indah sekali manakala kita mampu menciptakan rumah tangga seperti rumah tangga masjid.

Semoga dengan tulisan sederhana ini, insya Allah mampu memberikan semangat dan motivasi untuk kawan-kawan semuanya, yang shalih dan shalihah untuk segera mewujudkan niat yang suci yaitu menggenapkan setengah dien, yakinlah menikah tidaklah serumit dan sekompleks apa yang dibayangkan sebagian orang.

Justru dengan menikah, insya Allah kekuatan kontribusi dakwah akan semakin besar, karena di tengah lelahnya kita pulang berdakwah, sudah menanti pasangan hidup kita, yang siap kita berlabuh dan berbagi tentang suka duka kehidupan ini.

Insya Allah untuk masalah rezeki, yakinlah apa yang kita berikan untuk pasangan hidup kita, akan menjadi tambahan amal shalih kita dan akan Allah cukupkan rezekiNya bagi yang ingin menggenapkan setengah dien nya. Amin ya Robbal ‘Alamin.

Oleh: Zahrina Nurbaiti

Sumber :http://pkspesanggrahan.blogspot.com/2012/01/cintai-pasangan-kita-apa-adanya.html

Wahai sang suami ....

Adakah yang menghalangi untuk tersenyum di hadapan istri ketika masuk rumah menemui istri tercinta.

Adakah yang membebani untuk berwajah berseri- seri ketika melihat anak dan istri.

Adakah yang menyulitkan untuk memeluk istri, mengecup pipi serta bercumbu disaat "menghampiri".

Adakah yang memberatkan untuk mengangkat sesuap nasi dan meletakkan di mulut istri, karena yang demikian mendapat pahala.

Adakah susah, ketika masuk rumah mengucapkan salam dengan lengkap: "Assalamu`alaikum Warahmatullah Wabarakatuh" agar meraih 30 kebaikan.

Apa yang membebani, untuk menuturkan untaian kata-kata baik yang disenangi kekasih, dengan segala ketulusan.

Tanyalah keadaan istri saat masuk rumah.

Adakah yang memberatkan, sekiranya menuturkan kepada istri saat masuk rumah: "Berpisah sesaat meninggalkanmu serasa bagaikan setahun". Sesungguhnya, untuk betul-betul mengharapkan pahala dari Allah walau letih dan lelah, mendekati sang istri tercinta dan "menghampirinya", mendapatkan pahala dari Allah, karena Rasulullah bersabda:
"Dan di air mani seorang diantara kalian ada sedekah".
Apakah melelahkan, untuk berdoa: "Ya. Allah perbaikilah istriku dan berkatilah daku pada dirinya". 

Wahai sang Istri ...

Apakah akan membahayakan sekiranya menemui suami dengan wajah berseri, dihiasi senyum manis di saat dia masuk rumah.

Apakah memberatkan, apabila menghapus debu dari wajahnya, kepala, dan baju serta
mengecup pipinya.

Apakah merasa sulit, menunggu sejenak di saat dia memasuki rumah dan tetap berdiri sampai dia duduk. Mungkinkah menyulitkan, jika berkata kepada suami: "Alhamdulillah atas keselamatan Kanda, kami sangat rindu kedatanganmu, selamat dating kekasihku".

Beratkah berdandan untuk suami -mengharap pahala dari Allah di waktu berdandan, karena Allah itu Indah dan mencintai keindahan- memakai parfum, dan bermake up, serta memakai busana indah menyambut suami. Itu lebih tepat daripada dilakukan hanya ketika akan keluar dari rumah.

Tidak bisakah menjauhi bermuka masam dan cemberut. Menghindari perusak dan pengacau yang akan merusak dan mengacaukan keharmonisan dengan suami.
Beratkah menghilangkan raut sedih dan gelisah, berlindung kepada Allah dari rasa gelisah, sedih, malas dan lemah.

Sulitkah tidak berbicara terhadap laki-laki lain dengan lemah-lembut berlebihan, sehingga orang yang di hatinya ada penyakit mendekati dan mengira hal-hal yang jelek terhadap dirimu

Tidak baikkah selalu berada dalam keadaan lapang dada, hati tentram dan ingat kepada Allah setiap saat. Tidak bisakah meringankan suami dari setiap keletihan, kepedihan dan musibah serta kesedihan yang menimpanya.

Mendidik anak-anak dengan baik, Mengisi rumah dengan tasbih, tahlil, tahmid, dan takbir, memperbanyak membaca Al-Quran terutama surat Al-Baqarah, karena surat itu dapat mengusir syeitan.

Membangunkan suami untuk melaksanakan shalat malam, mendukung untuk puasa sunat, mengingatkan keutamaan bersedekah dan tidak menghalangi untuk menjalin hubungan siraturrahim dengan karib kerabat. Memperbanyak beristighfar untuk diri, suami, serta kedua orang tua dan seluruh kaum muslimin. Berdoa kepada Allah, agar dianugerahkan keturunan yang baik, niat yang baik serta kebaikan dunia dan akhirat.

Ketahuilah sesungguhnya Rabbmu Maha Mendengar doa dan mencintai orang yang berulang dalam meminta. Allah berfirman: "Dan Rabbmu berkata : serulah Aku niscaya Aku penuhi doamu" (Al-Ghafir : 60).
Alangkah indahnya dunia bagi orang yang beriman. Dengan mengikuti garis dan ketentuan dari Allah segalanya penuh kebaikan. Demikianlah luasnya keagungan Nya. Ucapan baik adalah sedekah. Wajah yang berseri dan senyum yang manis di hadapan istri/ suami adalah sedekah. Mengucapkan salam mengandung beberapa kebaikan. Berjabat tangan menggugurkan dosa-dosa. Berhubungan badan mendapatkan pahala.

Sumber : http://streamingnurisfm.blogspot.com/2011/10/pasangan-suamii-stri-keindahan-yg.html
Allah SWT menciptakan makhluk untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah yang mencakup cinta kepada-Nya dan mengutamakan ridha-Nya, serta yang menuntut adanya makrifah terhadap-Nya.

Allah menganugerahkan ilmu kepada hamba-hamba-Nya yang tiada kesempurnaan bagi mereka tanpanya, sehingga semua gerak-gerik mereka sesuai dengan apa yang dicintai dan yang diridhai Allah SWT.

Allah mengutus para rasul-Nya, menurunkan kitab-kitab-Nya, dan menetapkan syariat-Nya. Kesempurnaan hakiki seorang hamba adalah kalau gerak dan aktivitasnya selaras dengan apa yang dicintai Allah SWT. Allah menjadikan ittibaa' (mengikuti) rasul-Nya sebagai bukti cinta kepada-Nya. "Katakanlah, 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Ali Imran: 31)

Orang yang benar-benar cinta akan menganggap dirinya berkhianat kepada kekasihnya apabila dia bergerak dengan seenaknya sendiri di luar keridhaan kekasihnya. Dan apabila ia melakukan suatu perbuatan yang dibolehkan karena dorongan tabiat manusiawi dan instingnya sendiri, ia pun bertaubat seperti taubat karena dosa.

Hal ini makin menguat pada dirinya sampai akhirnya segala hal yang dibolehkan baginya berubah menjadi bernilai taat dan ibadah. Tidur, makan atau istirahatnya berpahala seperti nilai tahajud, puasa, dan amalan lainnya. Senantiasa berada antara kebahagiaan yang ia syukuri dan malapetaka yang ia sabar menghadapinya. Selalu berjalan menuju Allah SWT kala tidur maupun sadar.

Orang yang benar-benar jatuh cinta, bila berkata, ia berkata karena Allah SWT, dan bila diam juga diam karena Dia. Jika bergerak, geraknya itu adalah karena perintah Allah SWT; dan apabila diam, maka diamnya itu untuk mengumpulkan tenaga guna melaksanakan ibadah. Dirinya untuk Allah SWT, karena Allah SWT, dan bersama Allah SWT.

Tanpa ilmu tidak dapat membedakan mana gerak yang dicintai Allah SWT dan yang dibenci, mana diam yang disukai Allah dan mana yang dibenci. Saat ditanya siapakah orang yang hina-dina itu, Dzun Nun menjawab, "Orang yang tidak mengetahui jalan menuju Allah SWT dan tidak berupaya mengetahuinya."

Siapa yang telah mengetahui jalan kebenaran, maka terasa mudah baginya menempuhnya. Tidak ada petunjuk di jalan itu selain mengikuti Rasulullah saw. dalam perkataan, perbuatan, dan sikap beliau.

Sumber : http://streamingnurisfm.blogspot.com/2012/01/cinta.html

Oleh: Mai Muthiah

Seringkali pihak ketiga dianggap faktor utama yang memicu pertikaian di dalam rumah tangga. Namun jika kita pelajari lebih dalam lagi, segala ketidakserasian rumah tangga yang terjadi lebih disebabkan oleh akhlak dan perilaku serta komunikasi suami atau istri sendiri.

Terkadang sikap jauh dari tuntunan agama yang dipraktikkan dapat memupuk tiap perselisihan antara suami dan istri, kemudian menumbuhkan konflik yang dapat berbuah perceraian.

Tidak ada manusia yang lebih sempurna akhlak dan perilakunya daripada Nabi SAW sebagai panutan sekaligus suatu anugerah dari Allah SWT yang telah memberi taufik kepada beliau. Tidak ada satu pun kebagusan dan kemuliaan melainkan didapatkan pada diri beliau dalam bentuk yang paling sempurna dan paling utama. Sahabat Anas bin Malik ra yang selalu menyertai Nabi SAW menyatakan, “Adalah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam manusia yang paling bagus akhlaknya”.

Gambaran apa saja yang diperintahkan Alquran selalu beliau lakukan. Dan apa saja yang dilarang Alquran beliau tinggalkan. Selain Allah SWT menciptakan beliau dengan tabiat dan akhlak yang mulia seperti rasa malum, dermawan, berani, penuh pemaafan, sangat sabar dan lain sebagai dari perangai-perangai yang baik.

Kebagusan akhlak beliau juga ditunjukkan ketika bergaul dengan istri, sanak family, sahabat, masyarakat bahkan dengan musuhnya sekalipun. Maka tidak heran masyarakat Quraisy yang paganis ketika itu memberi gelar pada beliau “Al Amin” artinya orang yang terpercaya, jujur, tidak pernah dusta lagi amanah sebagai bentuk pengakuan terhadap salah satu pekerti beliau yang mulia.

Keberadaan Rasulullah SAW sebagai pemimpin tiap hari tersibukkan dengan beragam persoalan umat, mengurusi dan membimbing mereka bukanlah menjadi alasan beliau untuk tidak meluangkan waktu membantu istri di rumah. Bahkan didapati beliau adalah orang yang perhatian terhadap pekerjaan di dalam rumah sebagaimana persaksian Aisyah ra ketika ditanya tentang apa yang dilakukan Rasulullah SAW di dalam rumah.

Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan: “Beliau biasa membantu istrinya. Bila datang waktu shalat beliau pun keluar untuk menunaikan shalat”. Sifat penuh pengertian, kelembutan, kesabaran dan mau memaklumi keadaan istri amat lekat pada diri Rasul.

Cerita dan kisah di atas memberikan gambaran kepada kita semua tentang indahnya rumah tangga seorang muslim yang memerhatikan akhlak mulia dalam pergaulan suami istri sebagaimana rumah tangga Rasulullah SAW.

Sehingga perhatian terhadap kemuliaan akhlak ini menjadi satu keharusan bagi seorang suami maupun seorang istri. Karena terkadang ada orang yang bisa bersopan santun berwajah cerah dan bertutur manis kepada orang lain di luar rumah namun hal yang sama sulit ia lakukan di dalam rumah tangganya.

Ada orang yang bisa bersikap pemurah kepada orang lain, ringan tangan dalam membantu, suka memaafkan dan berlapang dada, namun giliran berhadapan dgn “orang rumah” istri ataupun anak sikap seperti itu tidak tampak pada dirinya.

Menyinggung akhlak Rasulullah SAW kepada keluarga, maka hal ini tidak hanya berlaku kepada para suami, sehingga para istri merasa suami sajalah yang tertuntut untuk berakhlak mulia kepada istrinya. Sama sekali tidak dapat dipahami seperti itu. Karena akhlak mulia ini harus ada pada suami dan istri sehingga bahtera rumah tangga dapat berlayar di atas kebaikan. Memang suamilah yang paling utama harus menunjukkan budi pekerti yang baik dalam rumah tangga karena dia sebagai qawwam, sebagai pimpinan.

Lalu suami juga dituntut untuk mendidik anak istri di atas kebaikan sebagai upaya menjaga mereka dari api neraka. “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakar adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yg diperintahkan”. (QS At Tahrim: 6)

Seorang istri juga harus memerhatikan perilaku kepada sang suami sebagai pemimpin hidupnya. tidak pantas seorang istri “memperlihatkan” kepada suami ucapan yang kasar, sikap membangkang, membantah dan mengumpat.

Tidak semestinya ia tinggi hati terhadap suami baik dari sisi keturunan, kekayaan dan setinggi apa kedudukannya. Tidak boleh juga ia melecehkan keluarga suami, menyakiti orang tua suami, menekan suami agar tidak memberikan nafkah kepada orang tua dan keluarganya.

Dan kenyataannya, banyak didapati istri yang berani kepada suaminya, bahkan tidak segan saling berbantah dengan suami bahkan lebih parahnya lagi adu fisik. Ia tidak merasa berdosa ketika membangkang pada perintah suami dan tidak menuruti kehendak suami. Ia merasa tenang-tenang saja ketika hak suami ia abaikan.

Nabi SAW juga memberi kabar gembira kepada para sahabat tentang perbendaharaan harta mereka yang terbaik di mana harta ini lebih baik dan lebih kekal yaitu istri yang shalihah, yang cantik lahir batin. Karena istri yang seperti ini akan selalu menyertai suaminya. Bila dipandang suami ia akan menyenangkannya.

Ia tunaikan kebutuhan suami bila suami membutuhkannya. Ia dapat diajak bermusyawarah dalam perkara suami dan ia akan menjaga rahasia suaminya. Bantuan kepada suami selalu diberikan, dan ia menaati perintah suami. Bila suami sedang bepergian meninggalkan rumah ia akan menjaga diri harta suami dan anak-anaknya.

Wahai para istri shalihah, perhatikanlah akhlak kepada suami dan kerabatnya. Ketahuilah akhlak yang baik itu berat dalam timbangan nanti di hari penghisaban dan akan memasukkan pemiliknya ke dalam surga.

Abu Hurairah ra berkata: “Rasulullah ditanya tentang perkara apa yang paling banyak memasukkan orang ke dalam surga. Beliau menjawab, ‘Takwa kepada Allah dan budi pekerti yang baik. Ketika dita tentang perkara yang paling banyak memasukkan orang ke dalam neraka, beliau jawab ‘Mulut dan kemaluan’.

Untuk para suami, hendak pula memperhatikan pergaulan dengan istri, karena Nabi SAW bersabda: “Mukmin yg paling sempurna iman adl yg paling baik akhlak dan sebaik-baik kalian adl yg paling baik terhadap istri-istrinya.” Wallahua’lam.


*) Mai Muthiah, tinggal di Purwakarta

Sumber :http://pkspesanggrahan.blogspot.com/2012/01/akhlak-dan-perilaku-mulia-dalam.html

Ketika kutatap wajah istriku, betapa aku sangat bersyukur kepada Allah, atas anugerah terbesar yang pernah aku terima. Seorang wanita yang sederhana, namun keridhoan dan keikhlasannya menerima diriku sebagai suaminya, membuat aku tidak berhenti bahkan tidak akan pernah berhenti bersyukur kepada Allah, atas ?kado pernikahan paling indah? yang diberikan kepadaku.

Ketika kutatap wajah istriku, betapa besar rasa maluku, karena masih banyak kekurangan pada diriku. Dan sungguh banyak kelebihannya, yang mungkin aku tidak akan mampu menandinginya. Seorang wanita yang tegar dan tidak banyak menuntut, kecuali tanggung jawabku sebagai suami, ayah dan imam keluarga. Dia wanita yang ikhlas menerima segala kelemahan dan kekuranganku, sebagai suami.

Ketika kutatap wajah istriku, betapa bangga dan bersemangatnya diriku, karena dukungannya terhadap perjuanganku untuk terus memperbaiki diri. Aku memang bukan laki-laki yang sempurna dan dia juga bukan wanita yang sempurna, tetapi Allah telah memilihnya untuk menjadi pasangan hidupku dan juga ibu anak-anakku. Semoga inilih yang terbaik menurut Sang Maha Penentu Takdir.

Ketika kutatap wajah istriku, di saat dia sedang lelap tertidur, tak terasa menetes air mataku, karena rasa syukur kepada Allah atas anugerah terbesar-Nya. Terlihat wajahnya yang kelelahan, karena harus melayani suami dan anak-anak. Tapi aku yakin, lewat keikhlasannya, dia akan menjadi wanita yang mampu terus berjuang di jalan Allah dengan menjadi istri dan ibu anak-anakku. Kukecup keningnya, sambil keberdoa, Ya Allah, jadikanlah dia bidadari syurgaku, sehingga meringankan pertanggungjawabank u, saat menghadap-Mu di Hari Perhitungan kelak. Amin.

Dari suami yang masih banyak kekurangan.. .
Rico Atmaka
Koordinator Majelis Sehati

Daarut Tauhiid Jakarta


Sumber : http://tentang-pernikahan.com/article/articleindex.php?aid=838&cid=2


Oleh: Zahrina Nurbaiti

Mereka yang telah melangsungkan pernikahan, pastinya menginginkan terbentuknya rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah (SAMARA). Terlebih para aktivis dakwah, dimana proses pernikahannya dilalui dengan tanpa pacaran, karena yang ada hanyalah pacaran setelah menikah. “Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk”. (QS Al Isra: 32)

Bisa jadi ada sebagian orang yang bertanya. Bagaimana mungkin cinta bisa tumbuh tanpa terlebih dahulu mengenal calonnya, bagaimana bisa tahu karakter pasangan hidup nantinya jika tidak pacaran lebih dahulu. Secara fitrah seorang pria dan wanita diberikan rasa saling suka, simpati, rasa ketertarikan. Namun mampukah kita menjaga semua perasaan-perasaan itu, sesuai dengan jalan yang diridhoi Allah SWT.

Disinilah peran keimanan kita bermain dan harus yakin akan janji-janji Allah SWT yang pasti benar. “Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji untuk perempuan yang keji pula, sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik pula. Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga). (QS An Nur: 26)

Pertanyaannya, haruskah kita ragu dengan janji-janji Allah SWT? Ya, semua berpulang pada keimanan kita masing-masing dalam meyakini janji tersebut. Kita harus yakin, bahwa Allah SWT akan memberikan jodoh yang terbaik untuk kita, karena pasangan hidup kita adalah refleksi dari diri kita.

Lalu, bagaimana kiat menjaga keharmonisan rumah tangga agar tetap dilimpahkan sakinah mawaddah warahmah hingga kematianlah yang memisahkan dengan pasangan hidup. Pertama, berbagi visi dan cita-cita. Dalam menentukan pasangan hidup, pastikan di awal pernikahan kita harus benar-benar meluruskan niat. Apalagi bagi mereka yang sudah memilih dakwah sebagai jalan hidupnya, maka selayaknya juga berharap pasangan hidupnya adalah seseorang yang juga memahami tentang dakwah itu sendiri.

Dengan kata lain, pasangan kita nantinya adalah yang satu visi dan misi, satu pemikiran. Agar nantinya lebih mudah dalam berkomunikasi dan menentukan arah serta langkah hidup selanjutnya. Maka tidak bisa dibayangkan, jika suami aktif dalam dakwah mendapatkan seorang isteri yang tidak paham akan makna dakwah, atau sebaliknya. Jika hal ini terjadi, tentunya akan sulit terbentuknya rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah.

Kedua, saling percaya. Hal ini merupakan salah satu modal utama yang harus dimiliki pasangan hidup. Kita harus bisa menjaga kepercayaan yang diberikan pasangan hidup kita. Jangan sekali pun mengkhianati perasaan pasangan kita. Jagalah kepercayaan ini dengan baik. Baik kita maupun pasangan hidup kita hendaknya berjalan lurus sesuai tuntunan agama, maka yang akan tumbuh adalah rasa saling percaya.

Ketiga, saling menghargai. Dalam hal ini kita bisa mencontoh Rasulullah SAW yang begitu lembut dan menghargai para isteri beliau. Sampai-sampai, pada suatu hari Rasulullah SAW pulang larut malam dan tak dapat membuka pintu karena isteri beliau tertidur di depannya, maka Rasulullah SAW memutuskan tidur di luar rumah. Subhanallah.

Keempat, mudah memaafkan. Di dalam hidup ini, tentu saja tak ada gading yang tak retak. Karena itu, jika salah satu diantara pasangan hidup kita berbuat salah, maka maafkanlah dan selesaikan semua persoalan sebelum pergi tidur.

Kelima, keterbukaan. Rumah tangga yang baik, sebaiknya menganut sistem manajemen keterbukaan. Jangan pernah ada sedikit rahasiapun diantara kita dengan pasangan hidup kita. Masalah keuangan, dakwah, kawan-kawan facebook, pesan singkat (SMS). Semua hendaknya kita ceritakan dengan pasangan hidup kita. Istilahnya tidak ada dusta diantara kita dan pasangan hidup kita tentunya.

Keenam, bersahabat dalam suka dan duka. Kebahagiaan suami adalah kebahagian kita, kesedihan suami juga kesedihan kita demikian sebaliknya. Hendaknya kita selalu bersama dengan pasangan hidup kita baik suka maupun duka.

Ketujuh, menerima kekurangan pasangan hidup. Di dalam hidup ini, tidak ada manusia yang sempurna, karena manusia tempatnya salah dan lupa. Rasanya kurang bijak, jika menganggap pasangan hidup kita seperti malaikat yang tak punya dosa. Yakinlah, di balik kekurangan pasangan hidup kita, pasti Allah SWT ciptakan berbagai kelebihannya. Jangan pernah membandingkan pasangan hidup kita dengan pasangan hidup orang lain. Yakinlah, pasangan hidup yang dipilihkan Allah untuk kita, adalah yang terbaik. Insya Allah.

Kedelapan, bersikap murah hati dalam kemesraan. Biasanya wanita lebih romantis dibandingkan pria, walaupun tidak semua romantisme milik wanita. Tidak menjadi masalah, jika suami tidak bisa romantic. Justru karena hal itulah, sebagai isteri, bisa bersikap romantis atau sebaliknya. Jangan pernah pelit dengan kata-kata lembut, kata-kata sayang, love much, my honey.

Bisa dilakukan ketika SMS dengan pasangan, pertanyaan mesra dan lainnya. Bisa juga saat SMS atau telepon, buka dengan salam. Assalamualaikum say, sedang apa di kantor? Atau Abi, jangan lupa ya bawakan aku oleh-oleh, love much (mengakhiri sms). Biasanya dengan kelembutan dan kasih sayang, semua akan menjadi cair dan akan bertambah rasa cinta, sayang kita terhadap pasangan hidup kita.

Kesembilan, ciptakan kejutan bagi pasangan. Terkadang, kejutan kecil sangat bermakna bagi pasangan hidup. Hal itu bisa dicoba saat sehabis pulang ceramah, pasangan kita bisa dibelikan semangkok bakso dengan juice jambu kesukaannya, ataupun sebaliknya. Atau saat pulang kerja, tiba-tiba suami dibelikan oleh-oleh kesukaan, begitu pula, bisa dengan majalah atau lainnya.

Hal lainnya, saat suami pulang, sudah kita masakkan masakan kesukaannya. Dalam Islam memang tidak ada hari ulang tahun, namun tidak salahnya kita memberikan hadiah untuk pasangan hidup kita. Bisa sebuah dompet, baju koko atau kemeja kesukaannya. Dan jangan lupa ucapkan terima kasih atas pemberian tersebut, agar bertambah rasa syukur kita pada Allah SWT, yang telah menganugerahkan pasangan hidup untuk kita.

Kesepuluh, ciptakan bulan madu kedua. Sekali-kali ajak pasangan kita untuk berduaan saja tanpa anak-anak, menikmati saat-saat indah berdua saja. Bisa makan berdua di luar rumah, dengan suasana romantis. Tidak perlu yang mahal, yang penting nilai kebersamaannya. Selanjutnya, bisa berbicara dari hati ke hati. Jadilah pendengar yang baik, sampai pasangan kita menyelesaikan pembicaraannya. Bisa juga kita tatap mata pasangan kita dengan penuh cinta dan kasih sayang. Subhanallah, indah sekali. Jika semua pasangan hidup bisa melakukan hal ini, rasanya tidak ada masalah yang tidak dapat dipecahkan di dunia ini. Yakinlah, Insya Allah setelah acara ini, irama hidup pasti berubah.

Kesebelas, jangan sepelekan janji. Bila sudah berjanji dengan pasangan, usahakanlah untuk menepatinya, sekalipun untuk hal-hal kecil atau sepele. Seperti menjemput dari ceramah, atau mengantarkan ke dokter. Namun sebagai seorang isteri, kita juga harus menyadari tugas dan amanah dakwah yang diemban suami. Misalnya, sudah berjanji akan menjemput kita, namun tiba-tiba ada amanah dakwah yang jauh lebih penting, maka kita pun harus ikhlas untuk tidak dijemput. Hal ini bukan berarti pasangan hidup kita ingkar janji. Ya semua akan terasa indah manakala kita dapat memahami setiap pasangan hidup kita. (pkspesanggrahan)

Oleh: Cecep Y Pramana

Mata adalah penuntun, hati adalah pendorong dan penuntut. Dan cinta adalah rahasia Illahi Rabbi. Mata memiliki kenikmatan pandangan dan hati memiliki kenikmatan pencapaian. Keduanya merupakan kawan yang mesra dalam setiap tindakan dan amal perbuatan manusia, dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain.

Kegelisahan, kedukaan dan air mata adalah bagian dari sketsa hidup di dunia. Tetesan air mata yang bermuara dari hati dan berselaputkan kegelisahan jiwa terkadang memilukan, hingga membuat keresahan dan kebimbangan.

Kedukaan karena kerinduan yang teramat sangat dalam menyebabkan kepedihan yang menyesakkan rongga dada. Jiwa yang rapuh pun berkisah pada alam serta isinya, bertanya, dimanakah pasangan jiwa berada. Lalu, hati menciptakan serpihan kegelisahan, bagaikan anak kecil yang hilang dari ibunya di tengah keramaian.

Keinginan bertemu pasangan jiwa, bukankah itu sebuah fitrah? Semua itu hadir tanpa disadari sebelumnya, hingga tanpa sadar telah menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan. Sebuah fitrah pula bahwa setiap wanita ingin menjadi seorang istri dan ibu yang baik ketimbang menjalani hidup dalam kesendirian. Dengan sentuhan kasih sayang dan belaiannya, akan terbentuk jiwa-jiwa yang sholeh dan sholehah.

Duhai...Betapa mulianya kedudukan seorang wanita, apalagi bila ia seorang wanita beriman yang mampu membina dan menjaga keindahan cahaya Islam hingga memenuhi setiap sudut rumahtangganya.

Allah SWT telah menciptakan wanita dengan segala keistimewaannya, hamil, melahirkan, menyusui hingga keta'atan dan memenuhi hak-hak suaminya laksana arena jihad fii sabilillah. Karenanya, yakinkah batin itu tiada goresan saat melihat pernikahan wanita lain di bawah umurnya?

Pernahkah kita menyaksikan kepedihan wanita yang berazam (komitmen) menjaga kehormatan diri hingga ia menemukan kekasih hati? Dapatkah kita menggambarkan perasaannya yang merintih saat melihat kebahagiaan wanita lain melahirkan? Atau, tidakkah kita melihat kilas tatapan sedih matanya ketika melihat aqiqah anak kita?

Dalam Islam, kehidupan manusia bukan hanya untuk dunia fana ini saja, karena masih ada akhirat. Memang, setiap manusia telah diciptakan berpasangan, namun tak hanya dibatasi dunia fana ini saja. Seseorang yang belum menemukan pasangan jiwanya, insya Allah akan dipertemukan di akhirat sana.

Selama ia beriman dan bertaqwa serta sabar atas ujian-Nya yang telah menetapkan dirinya sebagai lajang di dunia fana. Mungkin sang pangeran pun tak sabar untuk bersua dan telah menunggu di tepi surga, berkereta kencana untuk membawamu ke istananya.

Usahlah dirimu bersedih lalu menangis di penghujung malam karena tak kunjung usai memikirkan siapa kiranya pasangan jiwa. Menangislah karena air mata permohonan kepada-Nya di setiap sujud dan keheningan pekat malam. Jadikan hidup ini selalu penuh dengan harapan baik kepada Sang Pemilik Jiwa.

Bersiap menghadapi putaran waktu, hingga setiap gerak langkah serta helaan nafas bernilai ibadah kepada Allah SWT. Tausyiahlah selalu hati dengan tarbiyah Ilahi hingga diri ini tidak sepi dalam kesendirian.

Bukankah kalau sudah saatnya tiba, jodoh tak akan lari kemana. Karena sejak ruh telah menyatu dengan jasad, siapa belahan jiwamu pun telah dituliskan-Nya. Bukankah mentari akan selalu menghiasi pagi dengan kemewahan sinar keemasannya. Malam masih indah dengan sinar lembut rembulan yang dipagar bintang gemintang.

Kicauan bening burung malam pun selalu riang bercanda di kegelapan. Senyumlah, laksana senyum mempesona butir embun pagi yang selalu setia menyapa. Hapuslah air mata di pipi dan hilangkan lara di hati. Songsonglah hari bahagia nan suci. Wallahu’alam


Sumber: http://pangerans.multiply.com
-