Select Menu

Slider

Diberdayakan oleh Blogger.

Berita Haji dan Umroh

Alumni Sahara Kafila

Racing

Video Perjalanan Umroh Sahara Kafila

SAHARA KAFILA – Jamaah Umrah Paket Promo PT. Sahara Kafila Wisata yang berjumlah 142 orang di bagi menjadi 2 kelompok terbang, Tanggal 4 Januari 2014 yang berjumlah 47 orang dan Tanggal 6 Januari 2014 yang berjumlah 93 orang. Mereka berasal dari beberapa perwakilan, diantaranya Perwakilan Bandung yang dipimpin oleh Bpk. Imam Purnama, Perwakilan Jogjakarta yang di pandu oleh Bpk. Purwana, Perwakilan Salatiga oleh Ibu Nurhadi, Perwakilan Sumbawa oleh Bpk. Gufron dan Jakarta oleh Bpk Ikal.
Acara Pelepasan yang di hadiri oleh Komisaris PT. Sahara Kafila Wisata yaitu Bpk. H. Swadika Yanavi dan Direktur Utama Ibu Hj. Widiya Putri Ika Mas’ud di Terminal 2 D-1 berlangsung hidmat dan semarak diiringi oleh keluarga yang  mengantar keberangkatan jamaah yang berasal dari Jakarta.

Salah satu pengertian haji mabrur yang diungkapkan oleh para ulama adalah haji yang tidak ternodai oleh dosa, hal ini ditandai dengan adanya perbaikan kondisi jamaah haji menjadi lebih baik dari sebelumnya, lebih taat dan tunduk kepada-Nya, bersemangat dalam menjalankan aturan dan hukum yang ditetapkan-Nya serta konsisten melaksanakannya. Inilah indikator yang menjadi tanda akan “kemabruran” haji seseorang.
Maka berbahagialah orang yang diberi kesempatan untuk mengerjakan ibadah haji, karena hanya sedikit dari hamba Allah yang diperkenankan untuk menunaikan ibadah haji yang agung serta predikat haji mabrur.
Dalam rangka mengejar cita-cita itu PT. Sahara Kafila Wisata melakukan persiapan – persiapan dalam bidang keilmuan, kesehatan fisik,  kesehatan ruhani, dan hal- hal teknis di lapangan  untuk kelancaran dan kemudahan serta kemandirian jamaah dalam menjalani rangkaian kegiatan ibadah di tanah suci  yang dikemas dalam suatu acara manasik  .
Bimbingan dan pembekalan ilmu pengetahuan agama tentang tata cara berhaji yang sesuai dengan syariah menjadi landasan utama beramal bagi  calon jamaah haji PT. Sahara Klafila Wisata agar diterima Allah Swt. Medical check up, suntik meningitis dan vaksin influenza untuk menjaga kondisi fisik jamaah agar tetap fit dan semangat dalam beribadah serta yang yang lebih  penting lagi  memahami hakikat  dari  acara ritual ibadah haji sehingga ketika kembali ke tanah air jamaah bertambah taat dan bertambah kebaikannya  kepada sesama manusia dan lingkungan.
Pembekalan terakhir serta karantina calon jamaah haji yang mayoritas berasal dari luar daerah seperti Jogjakarta, Surabaya, Palembang dan Sumbawa ini berjumlah 36 orang setelah pemotongan 20 % kuota, berlangsung selama tiga hari mulai tanggal 1-3 Oktober 2013 di Karsa Garini Halim Perdanakusuma Jakarta dengan Pembimbing Utama DR. KH Muslih Abdul Karim (MUI Pusat), KH. Sulhan Abu Fitra MA (Komisi Fatwa MUI Pusat), dari Halim PK. Jamaah menuju bandara Soekarno-Hatta pada siang harinya  untuk take off ke Arab Saudi pada malam harinya dengan pesawat Kuwait Air.
Selamat jalan saudara-saudara seiman senegara, semoga menjadi haji yang mabrur yang dapat merubah Indonesia menjadi lebih baik, aman sejahtera,rukun dan damai. (rully/skw)
Silaturahim yang mengundang para alumni umrah eksklusif PT. Sahara Kafila Wisata yang berangkat pada bulan Desember 2012. Turut hadir dalam acara tersebut Bp. Komjen Ito Sumardi (mantan Kabareskrim) sebagai tuan rumah, Bp. Dirjen menkominfo dan Bp. Dirjen Pajak serta bapak dan ibu lainnya.
Acara ini diadakan di “rumah kenangan” Jl. Komp. Marinir Cilandak Jakarta Selatan pada hari Ahad pagi tanggal 17 Februari yang berkapasitas 500 tamu undangan. dimulai dengan pemutaran DVD keberangkatan lalu sambutan dari Direktur PT. Sahara Kafila Ibu Hj. Widiya Putri Ika Mas’ud yang menceritakan sejarah berdirinya PT. Sahara Kafila serta ucapan terima kasih kepada keluarga Bapak Ito Sumardi sebagai penggagas sekaligus tuan rumah, disusul sambutan tuan rumah oleh bapak Ito Sumardi yang dilanjutkan dengan nyanyian tentang rasa syukur kepada Allah sehingga menambah kehidmatan dan mencairkan suasana.
Dalam sambutan itu pula Bapak ito Sumardi menyatakan ingin kembali lagi mengikuti program umrah ekslusif yang diadakan setiap akhir tahun beserta keluarga dan kelompok alumni yang dijuluki dengan “Gangnam”, dengan tour leader Bapak W. Dinul M.Inak yang juga menjadi MC pada silaturahim tersebut.
Setelah sambutan dilanjutkan dengan kultum oleh Bapak Ust. Luthfi Rahman yang bertemakan tentang “Keutamaan Silaturahim” serta ditutup dengan do’a bersama seiring dengan datangnya waktu sholat Dzuhur oleh Ust. Hanifuddin, dan sebagai pamungkas dari rangkaian acara silaturahim yaitu Sholat Dzuhur bersama di pendopo dilanjutkan dengan foto bersama dan makan siang bersama. (RL)










Wanita dinikahi bukan untuk melakukan aktivitas memasak dan mencuci. Apabila ia bisa memasak dengan rasa yang lezat itu adalah bonus, bukan kewajiban. Istri adalah manajer di dalam rumah. Namanya manajer seyognyanya punya staf alias anak buah maka tugas suamilah menyediakan pembantu untuk istrinya.

Seorang istri harus memastikan bahwa keadaan dan suasana rumah nyaman bagi penghuninya. Ia akan mengusahakan dengan sekuat tenaga agar anggota keluarga betah dan kerasan tinggal di dalam rumah. Sebagai manajer, ia yang bertanggungjawab atas kerapian, ketertiban, kebersihan dan kenyamanan rumah.

Oleh karena itu, seorang istri tidak boleh terlalu lelah melakukan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat teknis seperti mencuci, ngepel, memasak dan sejenisnya. Sebab, tugas lain selain sebagai manajer juga memerlukan energi yang besar. Apa itu? Istri juga sebagai partner bagi suami. Ia adalah teman diskusi yang cerdas dan menyenangkan bagi suami.

Tugas istri begitu berat, sungguh tidak pantas seorang suami merendahkannya. Apabila ternyata istri Anda belum sanggup berperan sebagai manajer dan partner, maka tugas suamilah menyiapkan dan mendidiknya. Tanpa manajer dan partner yang hebat, pertumbuhan kesuksesan dan kemuliaan hidup Anda bisa terhambat dan tersendat.

Sebagai manajer dan partner, maka perlakukanlah istri secara terhormat. Dia bukan staf atau karyawan Anda. Dia juga bukanlah pembantu Anda. Bila Anda belum punya pembantu atau mungkin pembantu tidak masuk kerja, ringankanlah dan bantulah istri Anda.

Perlakuan kita terhadap istri akan sangat mempengaruhi perlakuan istri kepada anak-anak di rumah. Apabila kita memperlakukan istri secara terhormat maka akan berpeluang besar menghasilkan anak-anak yang percaya diri, memiliki jiwa kepemimpinan dan kemandirian.  Dalam jangka panjang, anak-anak akan tumbuh ke arah hidup yang lebih bermartabat dengan karakter yang kuat.
Sudahkan kita memperlakukan istri sebagai manajer dan partner?

Salam SuksesMulia!
Jamil Azzaini 
Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

http://www.islamedia.web.id/2012/12/istri-adalah-manajer-dan-partner.html

Membahagiakan pasangan kita adalah hal yang sangat penting dalam menjalankan kehidupan berumah tangga. Di dalamnya akan banyak sekali keuntungan yang diperoleh jika pasangan kita merasa berbahagia. Betapa sukses hidup Rasulullah SAW dan para sahabat, karena peran istri-istri mereka karena merasa menjadi manusia yang dibahagiakan oleh suami-suaminya.
Adanya ketenteraman dalam kehidupan berumah tangga merupakan prasyarat bagi lancarnya pencapaian tujuan berumah tangga. Tiap anggota keluarga memiliki tugas dan cita-cita yang harus dikejar dalam hidup ini. Suami bertugas sebagai pemimpin sekaligus pencari nafkah.
Sedangkan istri adalah ratu yang mengatur kondisi rumah tangga sekaligus madrasah bagi anak-anaknya untuk mengenal dunia dan segala tata kehidupannya. Anak-anak adalah tunas yang harus tumbuh dan berkembang hingga dapat menjadi sumber kebahagiaan bagi keluarga dan masyarakat.
Semua tugas dan cita-cita itu hanya bisa terlaksana manakala suasana damai dan tenteram selalu hadir dalam rumah. Betapa sulit mencapai semua tujuan dan cita-cita tersebut manakala suasana yang hadir di rumah dipenuhi dengan amarah, saling curiga dan tak peduli satu sama lain apalagi sampai tak bertegur sapa (komunikasi tidak lancer) hingga berhari-hari lamanya.
Dari banyak kasus, kegagalan (baca; perceraian) dalam membina rumah tangga seringkali dimulai dari tercabutnya rasa aman, damai dan komunikasi yang kurang lancer dari rumah. Dan, peran istri untuk menghadirkan suasana ‘surgawi’ itu tak dapat diganti oleh orang lain, bahkan seorang khadimat (pembantu) sekalipun. Manakala istri merasa bahwa sang suami memberinya kebahagiaan dan keikhlasan, maka tugas mengurus rumah tangga akan mudah dikerjakan.
Kebahagiaan tidak terletak pada banyaknya harta dan tingginya jabatan seseorang, tetapi ia berada di dalam hati. Tumpukan materi dan sanjungan yang tiada henti bukanlah prasyarat seseorang untuk meraih kebahagiaan. Itu semuanya bermuara pada hati. Seorang suami harus memiliki kelembutan dan kepekaan rasa. Ia harus tahu kapan hati istrinya ‘luka’ dan kapan hatinya sedang bahagia.
Wanita pemalu atau pendiam biasanya hanya menyimpan saja luka di dalam hatinya tanpa mau mengatakan kepada siapapun, sekalipun kepada suaminya. Tidak ada satu nasihat pun yang dapat diterima oleh istri manakala kita menyampaikannya dengan kemarahan atau tak melihat perasaan istri.
Rasulullah SAW pun memberi label pada laki-laki, bahwa yang paling di antara mereka (para suami) adalah yang paling baik sikapnya terhadap istrinya. “Dan aku adalah orang yang paling baik di antara kamu terhadap istri.” Demikian sabda Nabi SAW.
…Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya.” (QS. An Nisa: 19)
Marilah kita kenali dan perlakukan hati istri kita dengan baik agar mereka dapat berbahagia, dan agar tujuan dalam membentuk keluarga yang penuh sakinah, mawaddah dan rahmat dapat tercapai. Sudahkah kita memberikan suasana damai dan ikhlas terhadap istri kita. Wallahua’lam.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/12/25650/kebahagiaan-istri-adalah-kebahagiaan-suami/#ixzz2FlL81IIX
-
Islam telah menganjurkan kepada manusia untuk menikah, karena di dalamnya ada banyak hikmah. Pernikahan merupakan fitrah setiap manusia. Manusia diciptakan Allah SWT sebagai makhluk yang berpasang-pasangan. Setiap jenis membutuhkan pasangannya. Seorang lelaki membutuhkan wanita, begitu pun sebaliknya, wanita membutuhkan lelaki. Ini adalah fitrah yang berikan kepada manusia.

Islam diturunkan Allah SWT untuk menata hubungan kedua insan agar menghasilkan sesuatu yang positif bagi umat manusia dan tidak membiarkannya berjalan semaunya sehingga menjadi penyebab bencana.

Dalam pandangan Islam, pernikahan adalah akad yang diberkahi. Di mana seorang lelaki menjadi halal bagi seorang wanita begitu pula sebaliknya. Mereka memulai perjalanan hidup berkeluarga yang panjang, dengan saling cinta, tolong menolong dan toleransi.

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya, ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS Ar Rum: 21).

Ayat di atas menunjukkan bahwa Allah SWT ingin menggambarkan hubungan yang sah itu dengan suasana yang penuh menyejukkan, mesra, akrab, kepedulian yang tinggi, saling percaya, pengertian dan penuh kasih sayang.

Tujuan pernikahan adalah untuk mendapatkan ketenangan dalam hidup karena iklim dalam rumah tangga yang penuh dengan kasih sayang dan mesra. Namun, proses membina pernikahan yang sakinah, mawaddah dan warahmah serta bahagia sering tidak semulus yang dibayangkan oleh kebanyakan pasangan.

Dengan adanya pernikahan, hal itu menunjukkan sejauh mana pasangan mampu merundingkan berbagai hal dan seberapa terampil pasangan suami istri itu mampu menyelesaikan konflik. Pasangan suami istri akan menyadari bahwa hal-hal yang berjalan dengan baik pada tahap-tahap awal pernikahan mungkin tidak dapat berfungsi sebaik pada tahap-tahap berikutnya, yakni ketika pasangan suami istri menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan-keterampilan baru dalam hubungan berumah tangga.

Sepanjang perjalanan pernikahan, semua pasangan pasti akan menghadapi tekanan-tekanan baru. Tekanan-tekanan tersebut bisa berasal dari luar pernikahan, bisa juga dari dalam pernikahan itu sendiri, atau bahkan dari hal-hal yang sudah lama terpendam jauh di dalam diri masing-masing pasangan.

Pasangan suami istri harus dapat dan mampu menyesuaikan diri dengan pasangan, untuk hidup harmonis, menyeimbangkan tugas-tugas, karir yang sedang menanjak, membesarkan anak-anak dan memberikan dukungan satu sama lain adalah tugas yang sangat kompleks dilakukan pasangan suami istri.

Banyak pasangan suami istri yang terkejut, saat mereka mendapati bahwa konflik lama belum terselesaikan. Dia akan muncul dari orang tua, saudara kandung, atau di luar pasangan. Mereka akan muncul kepermukaan dalam hubungan pernikahan. Dan setiap konflik tersebut menunjukkan adanya tuntutan yang besar terhadap pasangan suami istri ketika mereka berusaha menghadapi berbagai persoalan, belajar memahami arti pengorbanan pada berbagai tingkatan yang baru dan bagaimana mempercayai orang yang dicintai.

Pernikahan tidak selalu menghasilkan banyak tuntutan bagi orang-orang yang menjalaninya. Orang-orang tua kita terdahulu tidak begitu peduli dengan hal-hal tersebut. Bagi mereka pada umumnya, pernikahan adalah bagian dari kelangsungan hidup. Suami mencari nafkah sedangkan istri merawat rumah dan anak-anak.

Namun, kini berumah tangga kehidupan semakin kompleks, dan tuntutan adanya keintiman dalam pernikahan generasi pendahulu, yaitu orang tua kita tidaklah sebesar tuntutan generasi sekarang. Dewasa ini, pasangan suami istri menginginkan jauh lebih banyak hal dari pernikahan.

Mulai dari kehidupan materialist, fisik yang indah, keilmuan, ras, sosial masyarakat. Harapan-harapan yang lebih tinggi itu, pasangan terkadang lupa pada tanggung jawab masing-masing, oleh karena itu pasangan suami istri sangat perlu mengetahui arti pernikahan.

Ya, karena pernikahan merupakan jalan yang aman bagi manusia untuk menyalurkan naluri seks. Pernikahan dapat memelihara dan menyelamatkan keturunan secara baik dan sah. Di samping itu, pernikahan pada dasarnya menjaga martabat wanita sesuai dengan kodratnya.

Pernikahan juga merupakan suatu ikatan yang kuat dengan perjanjian yang teguh yang ditetapkan di atas landasan niat untuk bergaul antara suami istri dengan abadi. Supaya dapat memetik buah kejiwaan yang telah digariskan oleh Allah dalam Al Quran yaitu ketenteraman, kecintaan dan kebahagiaan. Wallahua’lam.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/12/25406/jalan-panjang-bernama-pernikahan/#ixzz2FPHlvOCM
-