Slider
Diberdayakan oleh Blogger.
Arsip Blog
-
▼
2014
(83)
-
▼
September
(12)
- FINAL UPDATE Jadual Pemberangkatan dan Pemulangan ...
- Pelepasan Kloter I Jamaah Calon Haji SOC
- Pemerintah Arab Saudi Larang Jamaah Haji Memasak d...
- Keluarga Besar Bpk.Priyo Budi Santoso (Wakil DPR-RI)
- DR.Ito Sumardi,SH,MH,MBA,Komjen Polisi,Purn
- DR.Letjen (Purn) Nono Sampono (Mantan Komandan Pas...
- KH. DR. Ma'ruf Amin (Ketua MUI Pusat) Beserta Kelu...
- DR. Syamsul Ma'arif (Hakim Agung RI)
- Perjalanan Umroh Jamaah Sahara Kafila 2 Mei 2013
- Perjalanan Umroh Jamaah Sahara Kafila 15 Mei 2013
- Perjalanan Umroh Jamaah Sahara Kafila 3 Juni 2012
- Perjalanan Umroh Jamaah Sahara Kafila 23 April 2013
-
▼
September
(12)
Berita Haji dan Umroh
Alumni Sahara Kafila
Racing
Video Perjalanan Umroh Sahara Kafila
Pernikahan adalah ibadah. Ia tidak sekedar upacara untuk mengumumkan kepada masyarakat mengenai status pernikahan.
Niatkan bahwa pernikahan sebagai wujud pelaksanaan ketaatan kepada Allah SWT dan RasulNya. Jadi dalam pernikahan ada sebuah amanah, langsung dari Allah dan Rasul-Nya.
Tekadkanlah dalam hati, sejak dari awal, untuk menjaga amanah ini hingga ajal tiba. Ini menjadi amat penting dalam proses kehidupan pasangan suami istri (Pasutri) selanjutnya. Karena dengan menempatkan niat dan tekad itu, Allah SWT akan selalu berkenan hadir dalam kehidupan pasutri selanjutnya, baik dikala gembira maupun disaat duka.
Al Quran mengajarkan kepada kita semua bahwa melalui pernikahan seharusnya terwujud suasana kasih sayang, sebuah kebahagiaan, sebuah oase surgawi di dunia. Keluarga adalah sebuah wahana untuk mewujudkan kebahagiaan bukan yang lain atau sebaliknya.
Berkeluarga adalah sebuah komitmen untuk mewujudkan kebahagiaan. Sungguh tidak mudah mendefinisikan kebahagiaan namun jelas bahwa ia berlawanan dengan kekecewaan, kesedihan, kegelisahan, kelesuan, kegaluan dan sejenisnya.
Kebahagiaan adalah nuansa atau karakteristik surgawi dan oleh karenanya kepemilikannya oleh manusia amat tidak disukai oleh Iblis. Sebagai musuh abadi manusia, Iblis sang pewaris neraka akan terus merongrong kebahagiaan yang menjadi milik manusia, anak keturunan Adam, para calon pewaris surga.
Salah satu benteng terkuat untuk menjaga kebahagiaan pasutri dalam keluarga dari rongrongan itu adalah kemaafan. Bukalah pintu kemaafan selebar-lebarnya dan selama-lamanya karena ia akan mencegah masuknya kemarahan, awal dari intervensi Iblis dalam menghancurkan kebahagiaan anak-anak Adam.
Karena setiap pasutri mempunyai karakteristik sendiri-sendiri yang unik, lengkap dengan kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Melalui pernikahan ini hendak dipersatukan dalam sebuah rumah tangga. Konsekuensinya adalah bahwa kesalahpahaman adalah sebuah keniscayaan. Karena itu membuka pintu maaf seluas-luasnya adalah salah satu resep abadi dan ampuh dalam membangun rumah tangga bahagia.
Agama mengatur tanggung jawab, peran dan fungsi pasutri dalam kehidupan berkeluarga. Sempurnakanlah dan tunaikanlah hal tersebut dalam perjalanan membangun rumah tangga yang akan dirahmati dan diberkahi oleh Allah SWT. Wallahua’लम
http://pkspesanggrahan.blogspot.com/2012/03/pernikahan-adalah-ibadah.html
Keluarga - Pernikahan

Ditulis oleh: Cecep Y Pramana
Jika semua bahtera dunia menjadi nyata
Betapa indah tepa selira
Saling dukung tuk menumbuhkan Cinta
Menggapai ridha dari Sang pemilik Cinta
Jika saja cinta tak pernah ada dalam kamus hati
Niscaya tak kan berarti diri berdekat Ilahi
Semua manusia bersatu janji
Sujud padamu wahai sang Rabbi
Jika saja berandai-andai bukan barang haram
Tak kan kulepas semua khayalan
Namun semua bukanlah kenyataan
Karena hanya amal yang membuktikan
Wahai Rabb Dzat pemilik Iqab
RahmatMu terbentang tak berbataskan
Bagi setiap hamba yang mengharapkan
CintaMu luas meliputi langit dan Bumi
KaryaMu nyata bagai surya di jagad raya
Ampuni hamba yang terlelap dosa
Berderap langkah dengan banyak manusia
Diatas keterbatasan segala daya
Wahai Al-Jaliil pemilik ghafur
Izinkan hamba sujur tersungkur
Tanda rasa cinta beriring syukur
dihadapanMu memuji syukur
Atas rahmat yang Engkau tabur
Semoga Cinta menjadi bunga
Sahabat menjadi pemicu Asa
Semerbak di hati setiap manusia
Mengawal panji sang Maha Esa
Wahai Rabb, dekatkan cinta dari hati ini
Pada setiap manusia yang memujiMu
Tumbuhkan ia dengan cintaMu
Pada sesama saudara yang mencintaiMu
Biarlah cinta menjadi saksi
Pada setiap manusia yang Engkau ridhoi
Jika menuntun kami pada jalanMu ke Surga nanti
Ya Rabb
Jauhkanlah benci dari hati kami
Wahai Dzat pemilik Rahman
Andai ia hanya mampu berkaca diri tanpa mampu berbaik diri
Sayangilah saudaraku yang akan melangsungkan resepsi Cinta
Yang karena cintanya pada Engkau
Ampunilah saudaraku jika mereka terselip dosa
Hingga ajal menjemput nanti
Kumpulkan kami di SurgaMu nanti
Sungguh indah dan Adil Engkau wahai Dzat pemilik segala iradah
Engkau ciptakan Cinta dan Benci
Penghias hidup sebelum mati
Tumbuhkanlah keduanya ya Allah
Dalam bahtera suci
Dalam bahtera cinta
Dalam mahligai rumah tangga
Jadikanlah kami orang yang mencintai
Dan membenci hanya karena Engkau
Sumber: dakwatuna.com
Keluarga - Pernikahan

Gelisah, duka dan air mata adalah bagian dari sketsa hidup kita di dunia. Tetesan air mata yang bermuara dari hati dan berselaputkan kegelisahan jiwa terkadang memilukan, hingga membuat keresahan dan kebimbangan hadir memenuhi rongga kehidupan.
Disaat hatinya ‘galau’ menanti pangeran ataupun bidadari yang tidak kian datang, tanganpun membentangkan sajadah setiap malam. Duka yang datang karena kerinduan yang sangat mendalam menyebabkan kepedihan yang menyesakkan rongga dada.
Jiwa yang rapuh bisa berkisah pada alam serta isinya. Lalu ia bertanya, dimanakah pasangan jiwanya berada, apakah akan datang hari ini, esok, lusa atau kapan?. Lalu, hati pun menciptakan serpihan kegelisahan, bagaikan anak kecil yang hilang dari ibunya di tengah keramaian.
Keinginan yang kuat untuk bertemu pangeran dan bidadari serta belahan jiwa, bukankah itu sebuah fitrah dari manusia? Allah SWT berikan itu semuanya. Semua itu hadir tanpa disadari sebelumnya, hingga tanpa sadar telah menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan.
Dan sebuah fitrah pula jika setiap wanita ingin menjadi seorang istri dan ibu yang baik bagi anak-anaknya ketimbang menjalani hidup dalam kesendirian. Dengan sentuhan kasih sayang dan belaiannya, akan terbentuk jiwa-jiwa yang shaleh dan shalehah.
Dan setiap pria ingin menjadi seorang suami dan ayah yang bertanggungjawab bagi anak-anaknya daripada memikirkan kehidupan yang di jalani dalam kesendirian. Dengan sentuhan motivasi dan jiwa kesatria, akan terbentuk pribadi-pribadi terbaik dan mumpuni.
Wahai jiwa yang gelisah, janganlah dirimu selalu bersedih dan menangis di setiap penghujung malam, karena hanya tak kunjung usai memikirkan siapa kiranya pangeran dan bidadari belahan jiwa dan hatinya.
Menangislah karena air mata permohonan kepadaNya di setiap sujud dan keheningan pekat sepertiga malam. Jadikan hidup ini selalu penuh dengan harapan baik dan keridhaan kepada Sang Pemilik Jiwa, Allah Rabbul Izzati.
Bersiap menghadapi putaran waktu, hingga setiap gerak langkah serta helaan nafas bernilai ibadah kepada Allah SWT. Siramlah selalu hati ini dengan tarbiyah Ilahi, hingga diri ini tidak sepi dalam kesendirian yang terus panjang. Karena pastinya akan menemukan kedamaian dan kesejukan hati.
Wahai jiwa yang sedang gelisah, bukankah jika sudah saatnya tiba, maka ‘jodoh’ tak akan lari kemana. Dia tidak akan salah jalan atau salah menemukan pasangannya. Karena sejak ruh telah menyatu dengan jasad, siapa belahan jiwamu pun telah dituliskanNya, hanya ikhtiar pembangkit motivasi jiwa.
Bukankah mentari akan selalu menyinari sekaligus menghiasi pagi dengan kemewahan dan kegagahan sinar keemasannya. Malam masih indah dengan sinar lembut rembulan yang dipagar bintang gemintang. Hari-hari terbaik akan selalu menjadi belahan jiwa kita, menemani dan menanti datangnya sang pangeran dan bidadari pujaan hati dan belahan jiwanya.
Rabbana hablana milladunka zaujan thayyiban wayakuna shahiban lii fiddini waddunya wal akhirah 'Ya Tuhan kami, berikanlah kami pasangan yang terbaik dari sisiMu, pasangan yang juga menjadi sahabat dalam urusan agama, urusan dunia dan akhirat'. Wallahua'lam
Oleh Pramana Asmadiredja
Keluarga - Pernikahan

Memilih jalan dakwah sebagai jalan hidup, tentu saja memiliki konsekuensi yang harus diambil atau jalani manakala diri ini telah tersibghoh (tercelup) dengan nilai-nila Islam.
Hal ini bisa dilihat di dalam QS Al Baqarah: 208 yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh) dan janganlah ikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagimu”.
Salah satu konsekuensi yang harus diambil setelah memutuskan untuk berhijrah yaitu menikah tanpa melalui pacaran. Karena dalam Islam memang tidak ada konsep pacaran (lihat QS 17: 32). Bagi seorang aktivis dakwah yang telah memutuskan untuk menikah tanpa melalui proses pacaran (dikenal dengan istilah ta’aruf secara Islami), terkadang yang tergambar dibenak kita adalah seorang ikhwan yang akan menjadi pendamping hidup kita adalah seorang ikhwan yang benar-benar mengamalkan apa yang telah dicontohkan Rasulullah SAW.
Ya, itu keinginan yang wajar serta manusiawi jika ingin pasangan hidup kita shalih/shalihah, menjaga pandangan pada yang bukan muhrimnya, berusaha selalu membantu pekerjaan isteri, dan sebagainya.
Selama ini penulis sering mendapatkan pertanyaan seputar rumah tangga, suami dan keluarga. Terkadang ada suami yang santai membaca koran, sedangkan isterinya sibuk memasak dan mengurus anak-anak, tanpa peduli untuk membantunya. Lalu bagaimanakah sikap kita terhadap pasangan hidup kita?
Berikut adalah tips bagaimana kita menyikapi pasangan hidup kita yaitu sebagai berikut: Pertama, terimalah ia apa adanya. Pernikahan adalah menyatukan dua keluarga besar yang berbeda suku, kultur dan budaya serta pola asuh yang diterapkan pada masing-masing keluarga. Tentu saja tidak mudah merubah karakter yang telah melekat pada pasangan hidup kita. Namun Insya Allah dengan ikut tarbiyah, tentu saja perlahan-perlahan kita berusaha untuk menjadi pribadi yang kaffah.
Jangan pernah sekali-kali menbandingkan pasangan hidup kita dengan pasangan hidup teman kita. Yakinlah bahwa Allah pasti memberikan jodoh yang sekufu untuk kita. Bukankah Allah tidak pernah mengingkari janji-janjiNya?
Kedua, pandai bersyukur atas anugerah suami yang shalih. Sebagai seorang aktivis tentu saja, alhamdulillah kita harus bersyukur pada Allah SWT, yang telah memberikan anugerah terindah dalam hidup kita yaitu seorang ikhwan yang se-visi dan se-misi dalam mengarungi rumah tangga dan juga dakwah yang mulia ini.
Coba kita bayangkan rumah tangga yang suaminya selingkuhlah, yang melakukan KDRT dalam rumah tanggalah, yang suami tidak salatlah. Sementara alhamdulillah, Allah SWT anugerahkan pasangan hidup kita yang selalu tilawah, rajin datang pertemuan mingguan, aktif dalam dakwah di masyarakat, mengerjakan yang sunnah. Sementara rumah tangga lain, mungkin suaminya sering berkata-kata kasar? Sementara kita?
Alhamdulillah, suami kita selalu berkata-kata lembut dan sangat menjaga perasaan kita, sebagai seorang isteri. Insya Allah karena suami kita memahami sebuah hadits yang mengatakan, “Sebaik-baik pria adalah yang paling baik sikapnya terhadap keluarga.” Nikmat Allah mana lagi yang kita dustakan?
Ketiga, saling menutup aib pasangan hidup kita. Sebagai aktivis, tentu saja kita juga manusia biasa yang tidak luput dari dosa dan kesalahan. Tetapi idealnya memang kesalahan para aktivis dakwah harus lebih sedikit dibandingkan yang lain. Bukankah kita selalu mengajak orang lain untuk menjadi lebih baik, kita harus lebih dahulu mengamalkan apa yang kita sampaikan/ceramahkan?
Sebaiknya dalam berumah tangga, aib pasangan hidup kita, harus kita tutupi, tidak perlu kita ceritakan pada orang lain, sekalipun kepada keluarga dekat kita. Biarlah semua hanya suami dan isteri saja yang tahu akan aib pasangan hidup kita. Yakinlah di setiap kekurangan pasangan hidup kita, pasti Allah berikan banyak kelebihan pada dirinya. Bukankah setiap pasangan hidup merupakan pakaian bagi pasangan hidupnya?
Keempat, saling meningkatkan diri dan potensi pasangan hidup kita. Sebagaimana kita ketahui, ada beberapa gambaran rumah tangga, yaitu rumah tangga laba-laba, rumah tangga seperti rumah sakit, rumah tangga seperti rumah tangga pasar dan rumah tangga kuburan. Yang terbaik adalah rumah tangga seperti rumah tangga masjid. Di mana dalam rumah tangga tersebut tercipta suasana saling asih, asah dan asuh.
Suami dan isteri pun harus meningkat dari sisi ketakwaan, dari sisi pendidikan, dari sisi ekonomi, sehingga tercipta rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah. Suami tidak boleh membiarkan isteri untuk tidak berkembang, terutama dari sisi tsaqofah (pengetahuan). Jika memang ada rezeki, tidak salah jika isteri diizinkan untuk melanjutkan kuliah kembali, atau meneruskan kuliahnya kembali (karena keburu dikhitbah) ketika skripsinya misalnya. Insya Allah indah sekali manakala kita mampu menciptakan rumah tangga seperti rumah tangga masjid.
Semoga dengan tulisan sederhana ini, insya Allah mampu memberikan semangat dan motivasi untuk kawan-kawan semuanya, yang shalih dan shalihah untuk segera mewujudkan niat yang suci yaitu menggenapkan setengah dien, yakinlah menikah tidaklah serumit dan sekompleks apa yang dibayangkan sebagian orang.
Justru dengan menikah, insya Allah kekuatan kontribusi dakwah akan semakin besar, karena di tengah lelahnya kita pulang berdakwah, sudah menanti pasangan hidup kita, yang siap kita berlabuh dan berbagi tentang suka duka kehidupan ini.
Insya Allah untuk masalah rezeki, yakinlah apa yang kita berikan untuk pasangan hidup kita, akan menjadi tambahan amal shalih kita dan akan Allah cukupkan rezekiNya bagi yang ingin menggenapkan setengah dien nya. Amin ya Robbal ‘Alamin.
Oleh: Zahrina Nurbaiti
Sumber :http://pkspesanggrahan.blogspot.com/2012/01/cintai-pasangan-kita-apa-adanya.html
Keluarga
Wahai sang suami ....
Adakah yang menghalangi untuk tersenyum di hadapan istri ketika masuk rumah menemui istri tercinta.
Adakah yang membebani untuk berwajah berseri- seri ketika melihat anak dan istri.
Adakah yang menyulitkan untuk memeluk istri, mengecup pipi serta bercumbu disaat "menghampiri".
Adakah yang memberatkan untuk mengangkat sesuap nasi dan meletakkan di mulut istri, karena yang demikian mendapat pahala.
Adakah susah, ketika masuk rumah mengucapkan salam dengan lengkap: "Assalamu`alaikum Warahmatullah Wabarakatuh" agar meraih 30 kebaikan.
Apa yang membebani, untuk menuturkan untaian kata-kata baik yang disenangi kekasih, dengan segala ketulusan.
Tanyalah keadaan istri saat masuk rumah.
Adakah yang memberatkan, sekiranya menuturkan kepada istri saat masuk rumah: "Berpisah sesaat meninggalkanmu serasa bagaikan setahun". Sesungguhnya, untuk betul-betul mengharapkan pahala dari Allah walau letih dan lelah, mendekati sang istri tercinta dan "menghampirinya", mendapatkan pahala dari Allah, karena Rasulullah bersabda:
"Dan di air mani seorang diantara kalian ada sedekah".
Apakah melelahkan, untuk berdoa: "Ya. Allah perbaikilah istriku dan berkatilah daku pada dirinya".
Wahai sang Istri ...
Apakah akan membahayakan sekiranya menemui suami dengan wajah berseri, dihiasi senyum manis di saat dia masuk rumah.
Apakah memberatkan, apabila menghapus debu dari wajahnya, kepala, dan baju serta
mengecup pipinya.
mengecup pipinya.
Apakah merasa sulit, menunggu sejenak di saat dia memasuki rumah dan tetap berdiri sampai dia duduk. Mungkinkah menyulitkan, jika berkata kepada suami: "Alhamdulillah atas keselamatan Kanda, kami sangat rindu kedatanganmu, selamat dating kekasihku".
Beratkah berdandan untuk suami -mengharap pahala dari Allah di waktu berdandan, karena Allah itu Indah dan mencintai keindahan- memakai parfum, dan bermake up, serta memakai busana indah menyambut suami. Itu lebih tepat daripada dilakukan hanya ketika akan keluar dari rumah.
Tidak bisakah menjauhi bermuka masam dan cemberut. Menghindari perusak dan pengacau yang akan merusak dan mengacaukan keharmonisan dengan suami.
Beratkah menghilangkan raut sedih dan gelisah, berlindung kepada Allah dari rasa gelisah, sedih, malas dan lemah.
Sulitkah tidak berbicara terhadap laki-laki lain dengan lemah-lembut berlebihan, sehingga orang yang di hatinya ada penyakit mendekati dan mengira hal-hal yang jelek terhadap dirimu
Tidak baikkah selalu berada dalam keadaan lapang dada, hati tentram dan ingat kepada Allah setiap saat. Tidak bisakah meringankan suami dari setiap keletihan, kepedihan dan musibah serta kesedihan yang menimpanya.
Mendidik anak-anak dengan baik, Mengisi rumah dengan tasbih, tahlil, tahmid, dan takbir, memperbanyak membaca Al-Quran terutama surat Al-Baqarah, karena surat itu dapat mengusir syeitan.
Membangunkan suami untuk melaksanakan shalat malam, mendukung untuk puasa sunat, mengingatkan keutamaan bersedekah dan tidak menghalangi untuk menjalin hubungan siraturrahim dengan karib kerabat. Memperbanyak beristighfar untuk diri, suami, serta kedua orang tua dan seluruh kaum muslimin. Berdoa kepada Allah, agar dianugerahkan keturunan yang baik, niat yang baik serta kebaikan dunia dan akhirat.
Ketahuilah sesungguhnya Rabbmu Maha Mendengar doa dan mencintai orang yang berulang dalam meminta. Allah berfirman: "Dan Rabbmu berkata : serulah Aku niscaya Aku penuhi doamu" (Al-Ghafir : 60).
Alangkah indahnya dunia bagi orang yang beriman. Dengan mengikuti garis dan ketentuan dari Allah segalanya penuh kebaikan. Demikianlah luasnya keagungan Nya. Ucapan baik adalah sedekah. Wajah yang berseri dan senyum yang manis di hadapan istri/ suami adalah sedekah. Mengucapkan salam mengandung beberapa kebaikan. Berjabat tangan menggugurkan dosa-dosa. Berhubungan badan mendapatkan pahala.
Sumber : http://streamingnurisfm.blogspot.com/2011/10/pasangan-suamii-stri-keindahan-yg.html
Sumber : http://streamingnurisfm.blogspot.com/2011/10/pasangan-suamii-stri-keindahan-yg.html
Keluarga
Allah SWT menciptakan makhluk untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah yang mencakup cinta kepada-Nya dan mengutamakan ridha-Nya, serta yang menuntut adanya makrifah terhadap-Nya.
Allah menganugerahkan ilmu kepada hamba-hamba-Nya yang tiada kesempurnaan bagi mereka tanpanya, sehingga semua gerak-gerik mereka sesuai dengan apa yang dicintai dan yang diridhai Allah SWT.
Allah mengutus para rasul-Nya, menurunkan kitab-kitab-Nya, dan menetapkan syariat-Nya. Kesempurnaan hakiki seorang hamba adalah kalau gerak dan aktivitasnya selaras dengan apa yang dicintai Allah SWT. Allah menjadikan ittibaa' (mengikuti) rasul-Nya sebagai bukti cinta kepada-Nya. "Katakanlah, 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Ali Imran: 31)
Orang yang benar-benar cinta akan menganggap dirinya berkhianat kepada kekasihnya apabila dia bergerak dengan seenaknya sendiri di luar keridhaan kekasihnya. Dan apabila ia melakukan suatu perbuatan yang dibolehkan karena dorongan tabiat manusiawi dan instingnya sendiri, ia pun bertaubat seperti taubat karena dosa.
Hal ini makin menguat pada dirinya sampai akhirnya segala hal yang dibolehkan baginya berubah menjadi bernilai taat dan ibadah. Tidur, makan atau istirahatnya berpahala seperti nilai tahajud, puasa, dan amalan lainnya. Senantiasa berada antara kebahagiaan yang ia syukuri dan malapetaka yang ia sabar menghadapinya. Selalu berjalan menuju Allah SWT kala tidur maupun sadar.
Orang yang benar-benar jatuh cinta, bila berkata, ia berkata karena Allah SWT, dan bila diam juga diam karena Dia. Jika bergerak, geraknya itu adalah karena perintah Allah SWT; dan apabila diam, maka diamnya itu untuk mengumpulkan tenaga guna melaksanakan ibadah. Dirinya untuk Allah SWT, karena Allah SWT, dan bersama Allah SWT.
Tanpa ilmu tidak dapat membedakan mana gerak yang dicintai Allah SWT dan yang dibenci, mana diam yang disukai Allah dan mana yang dibenci. Saat ditanya siapakah orang yang hina-dina itu, Dzun Nun menjawab, "Orang yang tidak mengetahui jalan menuju Allah SWT dan tidak berupaya mengetahuinya."
Siapa yang telah mengetahui jalan kebenaran, maka terasa mudah baginya menempuhnya. Tidak ada petunjuk di jalan itu selain mengikuti Rasulullah saw. dalam perkataan, perbuatan, dan sikap beliau.
Sumber : http://streamingnurisfm.blogspot.com/2012/01/cinta.html
Keluarga
Oleh: Mai Muthiah
Seringkali pihak ketiga dianggap faktor utama yang memicu pertikaian di dalam rumah tangga. Namun jika kita pelajari lebih dalam lagi, segala ketidakserasian rumah tangga yang terjadi lebih disebabkan oleh akhlak dan perilaku serta komunikasi suami atau istri sendiri.
Terkadang sikap jauh dari tuntunan agama yang dipraktikkan dapat memupuk tiap perselisihan antara suami dan istri, kemudian menumbuhkan konflik yang dapat berbuah perceraian.
Tidak ada manusia yang lebih sempurna akhlak dan perilakunya daripada Nabi SAW sebagai panutan sekaligus suatu anugerah dari Allah SWT yang telah memberi taufik kepada beliau. Tidak ada satu pun kebagusan dan kemuliaan melainkan didapatkan pada diri beliau dalam bentuk yang paling sempurna dan paling utama. Sahabat Anas bin Malik ra yang selalu menyertai Nabi SAW menyatakan, “Adalah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam manusia yang paling bagus akhlaknya”.
Gambaran apa saja yang diperintahkan Alquran selalu beliau lakukan. Dan apa saja yang dilarang Alquran beliau tinggalkan. Selain Allah SWT menciptakan beliau dengan tabiat dan akhlak yang mulia seperti rasa malum, dermawan, berani, penuh pemaafan, sangat sabar dan lain sebagai dari perangai-perangai yang baik.
Kebagusan akhlak beliau juga ditunjukkan ketika bergaul dengan istri, sanak family, sahabat, masyarakat bahkan dengan musuhnya sekalipun. Maka tidak heran masyarakat Quraisy yang paganis ketika itu memberi gelar pada beliau “Al Amin” artinya orang yang terpercaya, jujur, tidak pernah dusta lagi amanah sebagai bentuk pengakuan terhadap salah satu pekerti beliau yang mulia.
Keberadaan Rasulullah SAW sebagai pemimpin tiap hari tersibukkan dengan beragam persoalan umat, mengurusi dan membimbing mereka bukanlah menjadi alasan beliau untuk tidak meluangkan waktu membantu istri di rumah. Bahkan didapati beliau adalah orang yang perhatian terhadap pekerjaan di dalam rumah sebagaimana persaksian Aisyah ra ketika ditanya tentang apa yang dilakukan Rasulullah SAW di dalam rumah.
Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan: “Beliau biasa membantu istrinya. Bila datang waktu shalat beliau pun keluar untuk menunaikan shalat”. Sifat penuh pengertian, kelembutan, kesabaran dan mau memaklumi keadaan istri amat lekat pada diri Rasul.
Cerita dan kisah di atas memberikan gambaran kepada kita semua tentang indahnya rumah tangga seorang muslim yang memerhatikan akhlak mulia dalam pergaulan suami istri sebagaimana rumah tangga Rasulullah SAW.
Sehingga perhatian terhadap kemuliaan akhlak ini menjadi satu keharusan bagi seorang suami maupun seorang istri. Karena terkadang ada orang yang bisa bersopan santun berwajah cerah dan bertutur manis kepada orang lain di luar rumah namun hal yang sama sulit ia lakukan di dalam rumah tangganya.
Ada orang yang bisa bersikap pemurah kepada orang lain, ringan tangan dalam membantu, suka memaafkan dan berlapang dada, namun giliran berhadapan dgn “orang rumah” istri ataupun anak sikap seperti itu tidak tampak pada dirinya.
Menyinggung akhlak Rasulullah SAW kepada keluarga, maka hal ini tidak hanya berlaku kepada para suami, sehingga para istri merasa suami sajalah yang tertuntut untuk berakhlak mulia kepada istrinya. Sama sekali tidak dapat dipahami seperti itu. Karena akhlak mulia ini harus ada pada suami dan istri sehingga bahtera rumah tangga dapat berlayar di atas kebaikan. Memang suamilah yang paling utama harus menunjukkan budi pekerti yang baik dalam rumah tangga karena dia sebagai qawwam, sebagai pimpinan.
Lalu suami juga dituntut untuk mendidik anak istri di atas kebaikan sebagai upaya menjaga mereka dari api neraka. “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakar adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yg diperintahkan”. (QS At Tahrim: 6)
Seorang istri juga harus memerhatikan perilaku kepada sang suami sebagai pemimpin hidupnya. tidak pantas seorang istri “memperlihatkan” kepada suami ucapan yang kasar, sikap membangkang, membantah dan mengumpat.
Tidak semestinya ia tinggi hati terhadap suami baik dari sisi keturunan, kekayaan dan setinggi apa kedudukannya. Tidak boleh juga ia melecehkan keluarga suami, menyakiti orang tua suami, menekan suami agar tidak memberikan nafkah kepada orang tua dan keluarganya.
Dan kenyataannya, banyak didapati istri yang berani kepada suaminya, bahkan tidak segan saling berbantah dengan suami bahkan lebih parahnya lagi adu fisik. Ia tidak merasa berdosa ketika membangkang pada perintah suami dan tidak menuruti kehendak suami. Ia merasa tenang-tenang saja ketika hak suami ia abaikan.
Nabi SAW juga memberi kabar gembira kepada para sahabat tentang perbendaharaan harta mereka yang terbaik di mana harta ini lebih baik dan lebih kekal yaitu istri yang shalihah, yang cantik lahir batin. Karena istri yang seperti ini akan selalu menyertai suaminya. Bila dipandang suami ia akan menyenangkannya.
Ia tunaikan kebutuhan suami bila suami membutuhkannya. Ia dapat diajak bermusyawarah dalam perkara suami dan ia akan menjaga rahasia suaminya. Bantuan kepada suami selalu diberikan, dan ia menaati perintah suami. Bila suami sedang bepergian meninggalkan rumah ia akan menjaga diri harta suami dan anak-anaknya.
Wahai para istri shalihah, perhatikanlah akhlak kepada suami dan kerabatnya. Ketahuilah akhlak yang baik itu berat dalam timbangan nanti di hari penghisaban dan akan memasukkan pemiliknya ke dalam surga.
Abu Hurairah ra berkata: “Rasulullah ditanya tentang perkara apa yang paling banyak memasukkan orang ke dalam surga. Beliau menjawab, ‘Takwa kepada Allah dan budi pekerti yang baik. Ketika dita tentang perkara yang paling banyak memasukkan orang ke dalam neraka, beliau jawab ‘Mulut dan kemaluan’.
Untuk para suami, hendak pula memperhatikan pergaulan dengan istri, karena Nabi SAW bersabda: “Mukmin yg paling sempurna iman adl yg paling baik akhlak dan sebaik-baik kalian adl yg paling baik terhadap istri-istrinya.” Wallahua’lam.
*) Mai Muthiah, tinggal di Purwakarta
Sumber :http://pkspesanggrahan.blogspot.com/2012/01/akhlak-dan-perilaku-mulia-dalam.html
Keluarga
Langganan:
Postingan (Atom)


Recent Comments