Select Menu

Slider

Diberdayakan oleh Blogger.

Berita Haji dan Umroh

Alumni Sahara Kafila

Racing

Video Perjalanan Umroh Sahara Kafila

kuucapkan dengan linangan air mata
kukatakan dengan suara parau
kusampaikan bersama isakan halusku

selamat jalan ayah
selamat bertemu Allah Rabb yg selalu kau Agungkan
Selamat bertemu Rasulullah sosok yg selalu kau rindukan
selamat bertemu para syuhada mereka yg selalu kau ceritakan padaku

selamat jalan ayah
sampai bertemu di syurga
sampai bertemu di "rumah" kita
sampai bertemu dengan keluarga kita

selamat jalan ayah
dari anakmu yang akan selalu merindukanmu


=== Joy ===


Mengapa tak mau peduli
Pura buta
Pura tuli
Pura bisu

Apalagi yang harus kuperbuat
Agar kau bisa
Melihat
Mendengar
Bicara

Tak perlu menjadi muslim
Untuk tunjukan kepedulian mu
Cukup tunjukan nurani mu pada kemanusiaan

Bagaimana bila itu terjadi
Pada diri dan bangsa mu?

Jika itu terjadi
Aku tak akan bungkam
Apalagi
Pura buta
Pura tuli
Pura bisu


=== Joy ===

Saat malam dalam keheningan
Ada tangis anak-anak 
Memanggil-manggil
Ayah...ayah...ayah
Ada tangis anak-anak
Memanggil-manggil
Bunda...bunda...bunda

Mendengar tangisan itu
Terbangunlah ayah atau bunda
Dekap erat buah hati
Redakan tangis malam sang putra-putri
Begitulah ayah bunda melewati malam bersama anak-anak di rumah

Teruntuk anak-anak ku di Palestina
Nak...maafkan ayah yang hanya bisa saksikan tangis mu dari kejauhan
Nak...tangismu adalah tangis ayah
Nak...meski kau bukan anak kandung kami
Nak...aku seorang ayah yang bila melihat anak terluka, hati ku pun ikut terluka
Nak...tangis mu ku dengar
Nak...jeritmu ku dengar
Nak...maafkan ayah yang hanya bisa belai mu dalam doa
Nak...maafkan ayah yang tak mampu peluk erat tubuh mu
Nak...melihat mu seperti melihat anak-anak ku sendiri
Nak...ada salam cinta dari anak-anak ayah bunda di sini
Nak...ada salam merdeka dari anak-anak Indonesia

Nak...ingin ayah dekat agar kau bisa menangis dipangkuanku
Menggantikan pangkuan ayah mu yang lebih dulu syahid
Bilakah?

Nak...tidurlah
Malam semakin larut
Percayalah nak, ayah bunda yang telah syahid
Kini berada di tempat terbaiknya

Nak...meski tanpa ayah bunda
Kau tak boleh putus asa
Teruskan perjuangan ayah bunda
Agar Palestina merdeka
Ayah bunda tak mengenal kata kalah
Ayah bunda hanya menanamkan pohon keyakinan didadamu
Bahwa hanya ada hidup mulia atau syahid
Semoga pohon keyakinan itu akarnya kuat menghujam disanubarimu

Nak...wajah-wajah mu
Adalah wajah-wajah kemenangan
Karena kau terlahir di Palestina
Negeri terlahirnya para syuhada
Nak...ayah yakin semua bisa kau lalui
Meski tanpa ayah bunda

Peluk cium hangat penuh cinta kasih untuk anak-anak ku di bumi Palestina

AllahuAkbar

#PrayForGaza


=== Joy ===

Manusia Bawah Tanah
Kematian Datang Dari Atas dan Bawah
Dulu Mereka Anggap Manusia Bawah Tanah Adalah Ilusi
Kini Mimpi di Siang Bolong Hantui Setiap Detik Jam yang Berdetak

Hidup mu Gelisah, Takut dan Ancaman Bayang Kematian Begitu Dekat
Kematian Datang Dari Atas dan Bawah
Kau semakin panik

Manusia Bawah Tanah
Ahli Strategi Perang, dulu Mencibir Manusia Bawah Tanah
Kini Para Pejabat Militer Tak Bisa Lagi Tidur Nyenyak
”Ini membawa kita sedikit ke masa kecil, seperti dongeng dari setan,” Itu Kata Ilmuwan Politik yang Kian Hari Bertambah Gusar

Senjata Canggih mu Tak Banyak Berarti
Kau Hanya Menghilangkan Nyawa Kami
Tapi Kau Tak Bisa Bunuh Semangat Kami
Karena Barisan Tentara mu Adalah Robot Bernyawa yang Tak Punya Hati

Senang Melihat Mati
Setelah Perang Terbirit-birit Cepat Pergi
Kau Bukan Prajurit Sejati
Kau Hanya Banci Berseragam yang Takut Mati

Camkan Ini!
Kau Kalah Sebelum Berperang
Kau Kalah Sebelum Berperang
Kau Kalah Sebelum Berperang
Kau Kalah Sebelum Berperang
Kau Kalah Sebelum Berperang
Kau Kalah Sebelum Berperang
Kau Kalah Sebelum Berperang
Kau Kalah Sebelum Berperang
Kau Kalah Sebelum Berperang
Kau Kalah Sebelum Berperang
Kau Kalah Sebelum Berperang
Kau Kalah Sebelum Berperang

Kini Otak Licik , Mulai Otak Atik
Butuh Waktu Satu Tahun Setiap Harinya
Untuk Hancurkan Manusia Bawah Tanah
Dan Butuh Biaya USD 2 Juta

Kau Sudah Tahu Gerak Manusia Tanah Sejak 2003
Tapi...Sampai Hari Ini, Kau Tak Bisa Menaklukannya
Kau Semakin Panik, Gencatan Senjata Adalah Tanda Kepanikan mu
Gencatan Senjata Bukan Murni Untuk Perdamaian
Namun Strategi dan akal Bulus mu
Menarik Simpati Dunia
Dan Dunia Tidak Bodoh
Karena Hafal dengan Tabiat mu

Amerika Kalah Perang dengan Vietnam
Indonesia Berada di Balik Kegemilangan Kemenangan Itu

Hari ini
Aku, Kau , Kita dan Siapa Saja
Ingin Lihat Palestina Juga Menang
Seperti Vietnam yang Dapat Memukul Balik Amerika
Hingga Pasukan Amerika Pulang dengan Kepala Tertunduk, Kalah...

Indonesia Menjadi Inspirasi Kemenangan Vietnam
Dengan Dada Bergetar
Dan Kedua Tanganku yang Merinding Mengetiknya
Aku Katakan Pada mu Bogie
Indonesia Kembali Akan Menjadi Inspirasi Kemenangan Bagi Palestina

Ingat Bogie
Kematian Datang Dari Atas dan Bawah
Kekalahan Pasukan mu Sudah Semakin Dekat
Manusia Bawah Tanah Terus Bergerilya
Untuk Palestina Merdeka

AllahuAkbar

#Gaza_Menang
#Palestina_Menang

=== Joy ===



Bayi terlahir di mana pun sama
Tak bisa menentukan siapa 
ibunya
ayahnya
terlahir di negara mana
Bayi terlahir sama saja
tak bisa apa-apa
tak punya apa-apa

Bayi beranjak besar
mulai mengenal ayah bunda
dan belajar pada sekitar
agar dewasa bisa berpijar

Sinar mata mu
tajam dan kokoh
menjadi dewasa lebih cepat dari usia fisik
moga ini tanda keberkahan untuk mu

Sinar mata mu
menandakan kau memang harus lebih cepat berlari
bahkan untuk mengejar bayang
namun bukan untuk mengejar bayang semu
kau harus mengejar bayang dan warna keabadian, syahid..

Saat masih dalam kandungan
kau sudah di latih oleh keadaan
di tempa oleh ganasnya ambisi israel yang pongah
dan keyakinan mu terpancar dalam sorot mata yang kokoh
keyakinan mu tatap masa depan terpancar
Palestina harus merdeka
meski tangan kecil mu terkulai lemas
di hantam bom israel saat kau masih menetek pada puting ibu mu
dan ibu mu pergi dalam balutan kemenangan abadi, syahid..

Aku titipkan kemenangan Palestina pada mu
dari sorot mata mu yang kokoh
ada asa terpancar
kaulah pembebas Al Aqsho
kaulah pembebas Gaza
kaulah pembebas Palestina
bersama jutaan anak-anak di seluruh dunia
yang beranjak dewasa

Semoga kau tercatat sebagai barisan para syuhada...aamiin.

Allahu Akbar
Allahu Akbar
Allahu Akbar 


=== Joy ===


Berjumpa sang kekasih. Berlanjut dalam pernikahan suci. Dua hati bersatu dalam jalinan kasih biduk rumah tangga. Tak hanya bermodal jatuh cinta. Namun bangun cinta menjadi jalan menuju sakinah mawaddah warohmah.

Bertemunya kekasih dalam bahtera rumah tangga adalah jalan pengabdian. Pengabdian pada Allah. Bahwa pertemuan cinta dua insan ini, cintanya tak boleh melebihi cinta pada Allah. Bagaimana pun cantik atau gantengnya serta kelebihan lain yang melekat pada kekasih.

Setelah akad, sang suami pergi menjalankan tugas suci. Istri yang sholehah melepas dengan doa dan cinta. Meski sudah dalam ikatan suci, sejatinya kita semua adalah milik Allah.

Air mata kebahagiaan berderai. Linangan suka cita perlahan basahi pipi. Kasih ku, aku rela melepas mu dengan cinta. Aku tahu cinta mu tulus dan murni.

Suami ku....kata-kata mu begitu indah dan agung.

" Kunikahi mu tak untuk ku sakiti,
Tapi syahid beri syafaat untuk 70 keluarga
Ku inging engkau menjadi pendamping ku di surga "

Sang suami pulang menepati janji pada istrinya. Sang suami syahid dan tengah menanti kehadiran istri tercinta di surga. Sang suami sangat suka cita menanti tibanya waktu itu. Sebagaimana ia sangat bahagia di dunia berada bersama istri yang sholehah.

Sesungguhnya Engkau tahu bahwa hati ini telah berhimpun dalam cintaMu
Dan kami berharap...
Kami adalah pengantin surga...aamiin.

#SaveGaza


=== Joy ==



Langkah kaki Ihsan sudah sampai pada halaman Masjid Lailatul Qadar. Duduk di atas sebuah anak tangga teras masjid, Ihsan membuka kedua sepatunya lalu beranjak naik ke teras. Ihsan kemudian melangkah menuju tempat mengambil air wudhu. Tapi sebelum sampai ke sana, langkah Ihsan terhenti di depan majalah dinding yang berada pada salah satu sudut beranda masjid. 

Di mading masjid Lailatul Qadar itu terdapat daftar acara I’tikaf yang diselenggarakan di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Ihsan mengamati daftar itu. Acara kajian dhuha dan qiyamul lail diisi oleh ustadz-ustadz ternama di kotanya. Bangkit gairah di hati Ishan untuk menuntaskan Ramadhan tahun ini dengan I’tikaf sepuluh hari penuh. 

Tiba-tiba sebuah bayangan terbentuk pada kaca mading itu. Terlihat bayangan itu makin mendekat ke arah mading. Dan setelah dekat, Ihsan merasakan tepukan agak kuat di pundaknya disertai suara keras yang mencoba mengejutkan Ihsan. “DAAARR..”

“Gak kaget Bud. Kalo mau ngagetin orang, pake jurus anti bayangan dulu. Ente udah keliatan gerak-geriknya sama ane di kaca.” Ujar Ihsan. 

“Hehe… setidaknya udah bisa mukul pundak ente.” Jawab orang yang memukul pundak Ihsan. 

“Ente ngapain ke sini?” Tanya Ihsan. 

“Ada syuro panitia I’tikaf. Antum jadi I’tikaf di sini kan? Insya Allah rame tapi tetep khusyu’ seperti tahun-tahun sebelumnya.” 

Ihsan tersenyum, lalu menganggukkan kepala. “Insya Allah. Ane udah ambil cuti supaya bisa I’tikaf sepuluh hari terakhir.” Ujarnya. 

“Ente gak pulang kampung?” 

“Enggak. Insya Allah lebaran di sini.” 

“Orang tua gimana? Mereka gak masalah?” 

“Enggak kok.” 

“Sip…” 

Dialog itu berakhir dan bertepatan pula dengan suara adzan Ashar berkumandang. Mereka berdua menuju tempat pengambilan air wudhu’. 

I’tikaf sepuluh hari penuh sudah menjadi tekad dan keinginan Ihsan sejak lama. Tak pernah ia merasakan I’tikaf sepuluh hari penuh. Selalu terkendala dengan pulang kampung. Bila ia pulang ke kampung, tak dapat ia melakukan I’tikaf dengan khusyuk. Selain tidak ada masjid yang punya tradisi I’tikaf di kampungnya itu, juga masakan orang tuanya menggodanya untuk berbuka dan sahur di rumah. 

Tahun ini Ihsan sudah mengambil cuti dari jauh-jauh hari agar bisa I’tikaf selama sepuluh hari terakhir. 

***** 

Matahari makin dekat ke ufuk barat. Ini hari ke 20 Ramadhan. Setelah matahari terbenam, maka malam ke 21 pun dimulai. Rasulullah mengabarkan adanya malam lailatul qadar, malam yang memiliki derajat keistimewaan lebih baik dari 1000 bulan, yang terdapat pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan. 

Di kamar kosnya, Ihsan menyiapkan beberapa helai pakaian, handuk, peralatan mandi, tak lupa Al-Qur’an dan buku bacaan. Barang-barang itu disusun rapi pada sebuah tas ransel. Ihsan benar-benar mempersiapkan I’tikaf tahun ini dengan matang. 

Setelah semuanya siap, Ihsan dengan langkah pasti menuju pintu untuk keluar menuju Masjid Lailatul Qadar. Tapi sebelum sampai di pintu, telepon genggamnya berdering dari saku celana. Ihsan dengan sigap mengambil telepon genggam itu. Terlihat di layar, nomor itu dari telepon rumah ibunya di kampung. Ihsan menekan tombol untuk menjawab panggilan. 

“Assalamu’alaikum.” Ucapnya. 

“Wa’alaikum salam. Ihsan, kamu lagi ngapain?” 

Ihsan hapal betul suara itu. Suara ibunya. 

“Aku lagi siap-siap mau ke masjid, Bu. Mau I’tikaf.” 

“Oo.. Kamu sehat?” 

“Sehat bu. Ibu bagaimana? Bapak sehat?” 

“Sehat. Sehat semuanya di sini. Kamu tanggal berapa pulang ke kampung?” 

“Saya rencananya gak pulang bu. Mau lebaran di sini saja.” 

“Lho.. bagaimana kamu ini. Kamu gak kepengen kumpul dengan kakak dan adik-adikmu lebaran kali ini?” 

“Ngg… Nggak dulu bu. Saya ingin lebaran di sini. Saya mau mencoba suasana lebaran di sini. Tahun ini saya mau I’tikaf sepuluh hari penuh. Maaf ya bu.” 

“Lalu kapan kamu pulang? Pas hari raya?” 

“Ngg.. Saya gak pulang bu. Mungkin… awal tahun depan saya pulang, insya Allah. Tapi lebaran kali ini saya gak pulang.” 

“Pulang lah Ihsan! Belum tentu bapak dan ibumu masih hidup sampai tahun depan. Lebaran kali ini anak-anak Ibu yang ada di rantau semuanya pulang. Kalau kamu tidak pulang, kita gak kumpul lengkap. Jarang-jarang keluarga kita kumpul semua. Ibu ingin lebaran kali ini kita semua kumpul lengkap. Pulang ya!” 

"Aduh bu… Saya udah susun rencana…” 

“Untuk ibu dan bapak kamu, kamu ubahlah rencana kamu.” 

Ihsan terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. Ia bingung. 

“Sudah dulu. Sudah mau maghrib di sini. Cepat kabari kami kamu mau pulang tanggal berapa. Assalamu’alaikum.” Putus ibu Ihsan. 

“Wa’alaikum salam…” 

***** 

“Ane bingung ustadz…” 

Ihsan terlibat dialog dengan seorang ustadz peserta I’tikaf. Selepas tarawih, Ihsan meminta ustadz itu untuk berkonsultasi. Bersandar pada salah satu sisi tembok masjid, Ihsan menceritakan tentang rencananya yang terancam batal. 

“Ente belum komunikasikan rencana lebaran tahun ini ke orang tua sebelumnya?” Tanya ustadz itu. 

“Belum ustadz. Ane pikir, orang tua ane akan menerima begitu saja rencana ane.” 

Sang ustadz mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kapan ente terakhir pulang mengunjungi ortu ente?” 

“Mmm… Lebaran tahun lalu.” 

“Udah setahun. Ente belum pernah pulang setelah lebaran tahun lalu?” 

Ihsan menggelengkan kepalanya. 

“Berapa jam sih perjalanan ke kampung ente?” 

“Dua belas jam perjalanan darat, ustadz.” 

“Ooo…” 

“Jadi bagaimana ustadz? Ana ingin bersikeras untuk I’tikaf full tahun ini. Ana ingin menolak permintaan orang tua ane. Tapi bagaimana ya bilangnya?” 

“Ehem.. Kalau orang tua sudah menyuruh pulang… Tampaknya ada yang sudah dipersiapkan buat ente di kampung.” Sang ustadz tersenyum nakal. 

“Maksudnya ustadz?” 

“Ya ente lihat saja lah nanti apa yang telah dipersiapkan orang tua ente. Mudah-mudahan dia sholehah.” Sang ustadz tertawa. 

“Ih.. Ane dijodohin, gitu?” 

“Hehehe… Sepertinya sih begitu. Soalnya ente belum menikah juga sampai sekarang. Mungkin orang tua ente cemas.” 

“Ah… Bisa aja ustadz. Ustadz, gimana niiih? Ana harus bilang apa?” 

“Pulang lah, Ihsan! Patuhi permintaan orang tua kamu. Kamu bisa I’tikaf di sini sampai melewati malam 27. Setelah itu pulang lah. Ente kan bisa I’tikaf di kampung, kalau ente mau.” 

“Berarti ana gak full dong I’tikafnya? Sayang ustadz, dua belas jam perjalanan itu bisa ane pergunakan untuk menyelesaikan tiga sampai empat juz bacaan Al-Qur’an. Itu dengan istirahat. Kalau tanpa istirahat, mungkin bisa khatam.” 

“Ente harus pahami prioritasnya. Bahkan seorang yang hendak berjihad, tapi memiliki orang tua yang perlu diasuhnya, tidak diperkenankan berjihad oleh Rasulullah. Lagi pula, 12 jam itu ente senantiasa dalam kebaikan manakala mematuhi permintaan orang tua. Dalam 12 jam itu apa ente tidak bisa tilawah di mobil?” 

“Kepala ana pusing kalau baca buku di mobil.” 

“Oh.. ya minimal muroja’ah hafalan. Ente setel mp3 murotal. Gak sia-sia kan?” 

“Ya sih.. tapi ana ngejer target tiga kali khatam Qur’an. Kalau waktu 12 jam gak terpakai untuk tilawah, bisa-bisa target ane gak kesampaian.” 

“Yaaa… kembali ke hal yang lebih prioritas tadi, Ihsan. Orang tua juga punya hak untuk ente kunjungi. Apalagi sudah setahun. Semua ini salah ente.” 

“Salah ane?” 

“Ya… Pertama, ente belum komunikasikan rencana lebaran tahun ini pada orang tua. Ente jangan pernah berpikir bahwa orang tua akan cuek bila anak-anaknya tidak bersama mereka saat lebaran. Justru saat-saat lebaran itu mereka melepas rindu dengan anak-anaknya. Kedua, ente sudah satu tahun tidak pulang. Ini masalah. Betapa cueknya ente kepada orang tua. Andaikan dalam setahun mereka sudah dikunjungi tiga atau empat kali, mereka mungkin bisa maklum. Jadi ente harus camkan, orang tua juga punya hak atas diri ente.” 

“Orang tua ane punya hak atas diri ane.” Ihsan mengulang dengan pelan. 

“Ya. Penuhilah hak mereka. Dikunjungi, dihubungi lewat telepon, bahkan dikirimi uang belanja.” 

Ihsan mengangguk. 

Ustadz melanjutkan, “Persiapan untuk I’tikaf Ramadhan ini bukan cuma sekedar persiapan pakaian, atau pun kesehatan. Tapi persiapkan agar tidak ada hal-hal yang bisa mengganggu I’tikaf. Salah satunya adalah orang tua. Ente harus komunikasikan dengan orang tua dari jauh hari. Kalau ente sering mengunjungi mereka, kan gak susah untuk minta izin supaya bisa I’tikaf sepuluh hari penuh.” 

“Ya ustadz.” 

“Ya begitu. Sekarang semuanya terserah ente. Ya mudah-mudahan orang tua ente masih bisa diminta kemaklumannya. Tapi kalau tidak, sebaiknya pulang saja.” 

“Insya Allah ustadz.” 

Dialog itu terhenti. Sang ustadz sudah beranjak dari duduknya. Tinggallah Ihsan yang agak lama merenungi sikapnya yang tidak acuh dengan keberadaan orang tuanya selama ini. Ia mulai menyadari kesalahannya. Pulang hanya setahun sekali saja rupanya sudah merupakan sebuah kesalahan. Ihsan mulai mengubah rencana. Setelah beberapa menit, ia beranjak ke tempat pengambilan air wudhu untuk melanjutkan tadarusnya. 

“Robbirhamhuma kama robbayani shighoro..” Ihsan berdoa lirih untuk kedua orang tuanya. Air matanya menitik haru. (islamedia.co)

andaleh