Slider
Diberdayakan oleh Blogger.
Arsip Blog
-
▼
2014
(83)
-
▼
September
(12)
- FINAL UPDATE Jadual Pemberangkatan dan Pemulangan ...
- Pelepasan Kloter I Jamaah Calon Haji SOC
- Pemerintah Arab Saudi Larang Jamaah Haji Memasak d...
- Keluarga Besar Bpk.Priyo Budi Santoso (Wakil DPR-RI)
- DR.Ito Sumardi,SH,MH,MBA,Komjen Polisi,Purn
- DR.Letjen (Purn) Nono Sampono (Mantan Komandan Pas...
- KH. DR. Ma'ruf Amin (Ketua MUI Pusat) Beserta Kelu...
- DR. Syamsul Ma'arif (Hakim Agung RI)
- Perjalanan Umroh Jamaah Sahara Kafila 2 Mei 2013
- Perjalanan Umroh Jamaah Sahara Kafila 15 Mei 2013
- Perjalanan Umroh Jamaah Sahara Kafila 3 Juni 2012
- Perjalanan Umroh Jamaah Sahara Kafila 23 April 2013
-
▼
September
(12)
Berita Haji dan Umroh
Alumni Sahara Kafila
Racing
Video Perjalanan Umroh Sahara Kafila
Bayi terlahir di mana pun sama
Tak bisa menentukan siapa
ibunya
ayahnya
terlahir di negara mana
Bayi terlahir sama saja
tak bisa apa-apa
tak punya apa-apa
Bayi beranjak besar
mulai mengenal ayah bunda
dan belajar pada sekitar
agar dewasa bisa berpijar
Sinar mata mu
tajam dan kokoh
menjadi dewasa lebih cepat dari usia fisik
moga ini tanda keberkahan untuk mu
Sinar mata mu
menandakan kau memang harus lebih cepat berlari
bahkan untuk mengejar bayang
namun bukan untuk mengejar bayang semu
kau harus mengejar bayang dan warna keabadian, syahid..
Saat masih dalam kandungan
kau sudah di latih oleh keadaan
di tempa oleh ganasnya ambisi israel yang pongah
dan keyakinan mu terpancar dalam sorot mata yang kokoh
keyakinan mu tatap masa depan terpancar
Palestina harus merdeka
meski tangan kecil mu terkulai lemas
di hantam bom israel saat kau masih menetek pada puting ibu mu
dan ibu mu pergi dalam balutan kemenangan abadi, syahid..
Aku titipkan kemenangan Palestina pada mu
dari sorot mata mu yang kokoh
ada asa terpancar
kaulah pembebas Al Aqsho
kaulah pembebas Gaza
kaulah pembebas Palestina
bersama jutaan anak-anak di seluruh dunia
yang beranjak dewasa
Semoga kau tercatat sebagai barisan para syuhada...aamiin.
Allahu Akbar
Allahu Akbar
Allahu Akbar
=== Joy ===
Tak bisa menentukan siapa
ibunya
ayahnya
terlahir di negara mana
Bayi terlahir sama saja
tak bisa apa-apa
tak punya apa-apa
Bayi beranjak besar
mulai mengenal ayah bunda
dan belajar pada sekitar
agar dewasa bisa berpijar
Sinar mata mu
tajam dan kokoh
menjadi dewasa lebih cepat dari usia fisik
moga ini tanda keberkahan untuk mu
Sinar mata mu
menandakan kau memang harus lebih cepat berlari
bahkan untuk mengejar bayang
namun bukan untuk mengejar bayang semu
kau harus mengejar bayang dan warna keabadian, syahid..
Saat masih dalam kandungan
kau sudah di latih oleh keadaan
di tempa oleh ganasnya ambisi israel yang pongah
dan keyakinan mu terpancar dalam sorot mata yang kokoh
keyakinan mu tatap masa depan terpancar
Palestina harus merdeka
meski tangan kecil mu terkulai lemas
di hantam bom israel saat kau masih menetek pada puting ibu mu
dan ibu mu pergi dalam balutan kemenangan abadi, syahid..
Aku titipkan kemenangan Palestina pada mu
dari sorot mata mu yang kokoh
ada asa terpancar
kaulah pembebas Al Aqsho
kaulah pembebas Gaza
kaulah pembebas Palestina
bersama jutaan anak-anak di seluruh dunia
yang beranjak dewasa
Semoga kau tercatat sebagai barisan para syuhada...aamiin.
Allahu Akbar
Allahu Akbar
Allahu Akbar
=== Joy ===
Sastra
Berjumpa sang kekasih. Berlanjut dalam pernikahan suci. Dua hati bersatu dalam jalinan kasih biduk rumah tangga. Tak hanya bermodal jatuh cinta. Namun bangun cinta menjadi jalan menuju sakinah mawaddah warohmah.
Bertemunya kekasih dalam bahtera rumah tangga adalah jalan pengabdian. Pengabdian pada Allah. Bahwa pertemuan cinta dua insan ini, cintanya tak boleh melebihi cinta pada Allah. Bagaimana pun cantik atau gantengnya serta kelebihan lain yang melekat pada kekasih.
Setelah akad, sang suami pergi menjalankan tugas suci. Istri yang sholehah melepas dengan doa dan cinta. Meski sudah dalam ikatan suci, sejatinya kita semua adalah milik Allah.
Air mata kebahagiaan berderai. Linangan suka cita perlahan basahi pipi. Kasih ku, aku rela melepas mu dengan cinta. Aku tahu cinta mu tulus dan murni.
Suami ku....kata-kata mu begitu indah dan agung.
" Kunikahi mu tak untuk ku sakiti,
Tapi syahid beri syafaat untuk 70 keluarga
Ku inging engkau menjadi pendamping ku di surga "
Sang suami pulang menepati janji pada istrinya. Sang suami syahid dan tengah menanti kehadiran istri tercinta di surga. Sang suami sangat suka cita menanti tibanya waktu itu. Sebagaimana ia sangat bahagia di dunia berada bersama istri yang sholehah.
Sesungguhnya Engkau tahu bahwa hati ini telah berhimpun dalam cintaMu
Dan kami berharap...
Kami adalah pengantin surga...aamiin.
#SaveGaza
=== Joy ==
Bertemunya kekasih dalam bahtera rumah tangga adalah jalan pengabdian. Pengabdian pada Allah. Bahwa pertemuan cinta dua insan ini, cintanya tak boleh melebihi cinta pada Allah. Bagaimana pun cantik atau gantengnya serta kelebihan lain yang melekat pada kekasih.
Setelah akad, sang suami pergi menjalankan tugas suci. Istri yang sholehah melepas dengan doa dan cinta. Meski sudah dalam ikatan suci, sejatinya kita semua adalah milik Allah.
Air mata kebahagiaan berderai. Linangan suka cita perlahan basahi pipi. Kasih ku, aku rela melepas mu dengan cinta. Aku tahu cinta mu tulus dan murni.
Suami ku....kata-kata mu begitu indah dan agung.
" Kunikahi mu tak untuk ku sakiti,
Tapi syahid beri syafaat untuk 70 keluarga
Ku inging engkau menjadi pendamping ku di surga "
Sang suami pulang menepati janji pada istrinya. Sang suami syahid dan tengah menanti kehadiran istri tercinta di surga. Sang suami sangat suka cita menanti tibanya waktu itu. Sebagaimana ia sangat bahagia di dunia berada bersama istri yang sholehah.
Sesungguhnya Engkau tahu bahwa hati ini telah berhimpun dalam cintaMu
Dan kami berharap...
Kami adalah pengantin surga...aamiin.
#SaveGaza
=== Joy ==
Sastra
Langkah kaki Ihsan sudah sampai pada halaman Masjid Lailatul Qadar. Duduk di atas sebuah anak tangga teras masjid, Ihsan membuka kedua sepatunya lalu beranjak naik ke teras. Ihsan kemudian melangkah menuju tempat mengambil air wudhu. Tapi sebelum sampai ke sana, langkah Ihsan terhenti di depan majalah dinding yang berada pada salah satu sudut beranda masjid.
Di mading masjid Lailatul Qadar itu terdapat daftar acara I’tikaf yang diselenggarakan di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Ihsan mengamati daftar itu. Acara kajian dhuha dan qiyamul lail diisi oleh ustadz-ustadz ternama di kotanya. Bangkit gairah di hati Ishan untuk menuntaskan Ramadhan tahun ini dengan I’tikaf sepuluh hari penuh.
Tiba-tiba sebuah bayangan terbentuk pada kaca mading itu. Terlihat bayangan itu makin mendekat ke arah mading. Dan setelah dekat, Ihsan merasakan tepukan agak kuat di pundaknya disertai suara keras yang mencoba mengejutkan Ihsan. “DAAARR..”
“Gak kaget Bud. Kalo mau ngagetin orang, pake jurus anti bayangan dulu. Ente udah keliatan gerak-geriknya sama ane di kaca.” Ujar Ihsan.
“Hehe… setidaknya udah bisa mukul pundak ente.” Jawab orang yang memukul pundak Ihsan.
“Ente ngapain ke sini?” Tanya Ihsan.
“Ada syuro panitia I’tikaf. Antum jadi I’tikaf di sini kan? Insya Allah rame tapi tetep khusyu’ seperti tahun-tahun sebelumnya.”
Ihsan tersenyum, lalu menganggukkan kepala. “Insya Allah. Ane udah ambil cuti supaya bisa I’tikaf sepuluh hari terakhir.” Ujarnya.
“Ente gak pulang kampung?”
“Enggak. Insya Allah lebaran di sini.”
“Orang tua gimana? Mereka gak masalah?”
“Enggak kok.”
“Sip…”
Dialog itu berakhir dan bertepatan pula dengan suara adzan Ashar berkumandang. Mereka berdua menuju tempat pengambilan air wudhu’.
I’tikaf sepuluh hari penuh sudah menjadi tekad dan keinginan Ihsan sejak lama. Tak pernah ia merasakan I’tikaf sepuluh hari penuh. Selalu terkendala dengan pulang kampung. Bila ia pulang ke kampung, tak dapat ia melakukan I’tikaf dengan khusyuk. Selain tidak ada masjid yang punya tradisi I’tikaf di kampungnya itu, juga masakan orang tuanya menggodanya untuk berbuka dan sahur di rumah.
Tahun ini Ihsan sudah mengambil cuti dari jauh-jauh hari agar bisa I’tikaf selama sepuluh hari terakhir.
*****
Matahari makin dekat ke ufuk barat. Ini hari ke 20 Ramadhan. Setelah matahari terbenam, maka malam ke 21 pun dimulai. Rasulullah mengabarkan adanya malam lailatul qadar, malam yang memiliki derajat keistimewaan lebih baik dari 1000 bulan, yang terdapat pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan.
Di kamar kosnya, Ihsan menyiapkan beberapa helai pakaian, handuk, peralatan mandi, tak lupa Al-Qur’an dan buku bacaan. Barang-barang itu disusun rapi pada sebuah tas ransel. Ihsan benar-benar mempersiapkan I’tikaf tahun ini dengan matang.
Setelah semuanya siap, Ihsan dengan langkah pasti menuju pintu untuk keluar menuju Masjid Lailatul Qadar. Tapi sebelum sampai di pintu, telepon genggamnya berdering dari saku celana. Ihsan dengan sigap mengambil telepon genggam itu. Terlihat di layar, nomor itu dari telepon rumah ibunya di kampung. Ihsan menekan tombol untuk menjawab panggilan.
“Assalamu’alaikum.” Ucapnya.
“Wa’alaikum salam. Ihsan, kamu lagi ngapain?”
Ihsan hapal betul suara itu. Suara ibunya.
“Aku lagi siap-siap mau ke masjid, Bu. Mau I’tikaf.”
“Oo.. Kamu sehat?”
“Sehat bu. Ibu bagaimana? Bapak sehat?”
“Sehat. Sehat semuanya di sini. Kamu tanggal berapa pulang ke kampung?”
“Saya rencananya gak pulang bu. Mau lebaran di sini saja.”
“Lho.. bagaimana kamu ini. Kamu gak kepengen kumpul dengan kakak dan adik-adikmu lebaran kali ini?”
“Ngg… Nggak dulu bu. Saya ingin lebaran di sini. Saya mau mencoba suasana lebaran di sini. Tahun ini saya mau I’tikaf sepuluh hari penuh. Maaf ya bu.”
“Lalu kapan kamu pulang? Pas hari raya?”
“Ngg.. Saya gak pulang bu. Mungkin… awal tahun depan saya pulang, insya Allah. Tapi lebaran kali ini saya gak pulang.”
“Pulang lah Ihsan! Belum tentu bapak dan ibumu masih hidup sampai tahun depan. Lebaran kali ini anak-anak Ibu yang ada di rantau semuanya pulang. Kalau kamu tidak pulang, kita gak kumpul lengkap. Jarang-jarang keluarga kita kumpul semua. Ibu ingin lebaran kali ini kita semua kumpul lengkap. Pulang ya!”
"Aduh bu… Saya udah susun rencana…”
“Untuk ibu dan bapak kamu, kamu ubahlah rencana kamu.”
Ihsan terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. Ia bingung.
“Sudah dulu. Sudah mau maghrib di sini. Cepat kabari kami kamu mau pulang tanggal berapa. Assalamu’alaikum.” Putus ibu Ihsan.
“Wa’alaikum salam…”
*****
“Ane bingung ustadz…”
Ihsan terlibat dialog dengan seorang ustadz peserta I’tikaf. Selepas tarawih, Ihsan meminta ustadz itu untuk berkonsultasi. Bersandar pada salah satu sisi tembok masjid, Ihsan menceritakan tentang rencananya yang terancam batal.
“Ente belum komunikasikan rencana lebaran tahun ini ke orang tua sebelumnya?” Tanya ustadz itu.
“Belum ustadz. Ane pikir, orang tua ane akan menerima begitu saja rencana ane.”
Sang ustadz mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kapan ente terakhir pulang mengunjungi ortu ente?”
“Mmm… Lebaran tahun lalu.”
“Udah setahun. Ente belum pernah pulang setelah lebaran tahun lalu?”
Ihsan menggelengkan kepalanya.
“Berapa jam sih perjalanan ke kampung ente?”
“Dua belas jam perjalanan darat, ustadz.”
“Ooo…”
“Jadi bagaimana ustadz? Ana ingin bersikeras untuk I’tikaf full tahun ini. Ana ingin menolak permintaan orang tua ane. Tapi bagaimana ya bilangnya?”
“Ehem.. Kalau orang tua sudah menyuruh pulang… Tampaknya ada yang sudah dipersiapkan buat ente di kampung.” Sang ustadz tersenyum nakal.
“Maksudnya ustadz?”
“Ya ente lihat saja lah nanti apa yang telah dipersiapkan orang tua ente. Mudah-mudahan dia sholehah.” Sang ustadz tertawa.
“Ih.. Ane dijodohin, gitu?”
“Hehehe… Sepertinya sih begitu. Soalnya ente belum menikah juga sampai sekarang. Mungkin orang tua ente cemas.”
“Ah… Bisa aja ustadz. Ustadz, gimana niiih? Ana harus bilang apa?”
“Pulang lah, Ihsan! Patuhi permintaan orang tua kamu. Kamu bisa I’tikaf di sini sampai melewati malam 27. Setelah itu pulang lah. Ente kan bisa I’tikaf di kampung, kalau ente mau.”
“Berarti ana gak full dong I’tikafnya? Sayang ustadz, dua belas jam perjalanan itu bisa ane pergunakan untuk menyelesaikan tiga sampai empat juz bacaan Al-Qur’an. Itu dengan istirahat. Kalau tanpa istirahat, mungkin bisa khatam.”
“Ente harus pahami prioritasnya. Bahkan seorang yang hendak berjihad, tapi memiliki orang tua yang perlu diasuhnya, tidak diperkenankan berjihad oleh Rasulullah. Lagi pula, 12 jam itu ente senantiasa dalam kebaikan manakala mematuhi permintaan orang tua. Dalam 12 jam itu apa ente tidak bisa tilawah di mobil?”
“Kepala ana pusing kalau baca buku di mobil.”
“Oh.. ya minimal muroja’ah hafalan. Ente setel mp3 murotal. Gak sia-sia kan?”
“Ya sih.. tapi ana ngejer target tiga kali khatam Qur’an. Kalau waktu 12 jam gak terpakai untuk tilawah, bisa-bisa target ane gak kesampaian.”
“Yaaa… kembali ke hal yang lebih prioritas tadi, Ihsan. Orang tua juga punya hak untuk ente kunjungi. Apalagi sudah setahun. Semua ini salah ente.”
“Salah ane?”
“Ya… Pertama, ente belum komunikasikan rencana lebaran tahun ini pada orang tua. Ente jangan pernah berpikir bahwa orang tua akan cuek bila anak-anaknya tidak bersama mereka saat lebaran. Justru saat-saat lebaran itu mereka melepas rindu dengan anak-anaknya. Kedua, ente sudah satu tahun tidak pulang. Ini masalah. Betapa cueknya ente kepada orang tua. Andaikan dalam setahun mereka sudah dikunjungi tiga atau empat kali, mereka mungkin bisa maklum. Jadi ente harus camkan, orang tua juga punya hak atas diri ente.”
“Orang tua ane punya hak atas diri ane.” Ihsan mengulang dengan pelan.
“Ya. Penuhilah hak mereka. Dikunjungi, dihubungi lewat telepon, bahkan dikirimi uang belanja.”
Ihsan mengangguk.
Ustadz melanjutkan, “Persiapan untuk I’tikaf Ramadhan ini bukan cuma sekedar persiapan pakaian, atau pun kesehatan. Tapi persiapkan agar tidak ada hal-hal yang bisa mengganggu I’tikaf. Salah satunya adalah orang tua. Ente harus komunikasikan dengan orang tua dari jauh hari. Kalau ente sering mengunjungi mereka, kan gak susah untuk minta izin supaya bisa I’tikaf sepuluh hari penuh.”
“Ya ustadz.”
“Ya begitu. Sekarang semuanya terserah ente. Ya mudah-mudahan orang tua ente masih bisa diminta kemaklumannya. Tapi kalau tidak, sebaiknya pulang saja.”
“Insya Allah ustadz.”
Dialog itu terhenti. Sang ustadz sudah beranjak dari duduknya. Tinggallah Ihsan yang agak lama merenungi sikapnya yang tidak acuh dengan keberadaan orang tuanya selama ini. Ia mulai menyadari kesalahannya. Pulang hanya setahun sekali saja rupanya sudah merupakan sebuah kesalahan. Ihsan mulai mengubah rencana. Setelah beberapa menit, ia beranjak ke tempat pengambilan air wudhu untuk melanjutkan tadarusnya.
“Robbirhamhuma kama robbayani shighoro..” Ihsan berdoa lirih untuk kedua orang tuanya. Air matanya menitik haru. (islamedia.co)
andaleh
Sastra
Ibu..aku tahu ayah telah tiada
Ibu..aku tahu roket israel menghancurkan rumah kita
Ibu..aku tahu hari-hari berikutnya tanpa ayah lagi di sisi kita
Ibu..bantu aku agar ayah bisa tersenyum pada kita
Ibu..aku tahu, kau begitu sedih
Ibu..aku pun merasakan kesedihan itu
Ibu..bagi yang masih punya nurani, pasti akan merasakan kesedihan kita
Ibu..hari-hari yang kita lalui masih panjang
Ibu..aku ingin menjadi pejuang Palestina
Ibu..aku ingin melihat Palestina merdeka
Ibu..aku ingin bisa bermain dengan tenang bersama kawan-kawan
Ibu..hari-hari bermainku bersama teman-teman telah di rampas israel
Ibu..izinkan aku mengembalikan keceriaan anak-anak Palestina
Ibu..doa dan bimbinganmu sangat berarti bagiku
Ibu..kita jangan terlalu lama bersedih
Ibu..yakinkan aku, bahwa ini adalah air mata bahagia, karena ayah syahid
Ibu..aku pun ingin sayhid seperti ayah
Ibu..Palestina mendidik kita untuk tegar
Ibu..bunyi tembakan, roket dan bom sudah sering kudengar
Ibu..dan hal itu tak membuatku gentar menjadi seperti ayah
Ibu..semangat juangku ada dalam doamu
Ibu..tegarlah, usap air mata kita
Ibu..mulia atau menang, hanya itu yang ingin tertanam dijiwaku dari ibu
Ibu..kita sudah sama-sama menangis untuk ayah dan Palestina
Ibu..kini usai sudah tangis, dan kita ganti dengan semangat jihad
Ibu..aku tak melarang ibu menangis, menangislah dalam sujud
Ibu..menangislah dalam doa-doa yang panjang untuk ayah
Ibu..menangislah dalam sepertiga malam untuk aku
Ibu..menangislah memohon kememerdekaan pada Allah untuk Palestina
"Wahai ibu kehidupan akan berjalan seperti biasa, aku masih di sini wahai ibu.."
Selamat jalan ayah, aku tahu ayah masih hidup di sisi Allah
Ayah..kita hanya berpisah sementara
Ayah..aku juga ingin syahid seperti ayah
Peluk cium hangat dan dari hati yang paling terdalam dari aku dan ibu untuk ayah..
Allahu Akbar...
Allahu Akbar...
Allahu Akbar...
=== Joy ===
Ibu..aku tahu roket israel menghancurkan rumah kita
Ibu..aku tahu hari-hari berikutnya tanpa ayah lagi di sisi kita
Ibu..bantu aku agar ayah bisa tersenyum pada kita
Ibu..aku tahu, kau begitu sedih
Ibu..aku pun merasakan kesedihan itu
Ibu..bagi yang masih punya nurani, pasti akan merasakan kesedihan kita
Ibu..hari-hari yang kita lalui masih panjang
Ibu..aku ingin menjadi pejuang Palestina
Ibu..aku ingin melihat Palestina merdeka
Ibu..aku ingin bisa bermain dengan tenang bersama kawan-kawan
Ibu..hari-hari bermainku bersama teman-teman telah di rampas israel
Ibu..izinkan aku mengembalikan keceriaan anak-anak Palestina
Ibu..doa dan bimbinganmu sangat berarti bagiku
Ibu..kita jangan terlalu lama bersedih
Ibu..yakinkan aku, bahwa ini adalah air mata bahagia, karena ayah syahid
Ibu..aku pun ingin sayhid seperti ayah
Ibu..Palestina mendidik kita untuk tegar
Ibu..bunyi tembakan, roket dan bom sudah sering kudengar
Ibu..dan hal itu tak membuatku gentar menjadi seperti ayah
Ibu..semangat juangku ada dalam doamu
Ibu..tegarlah, usap air mata kita
Ibu..mulia atau menang, hanya itu yang ingin tertanam dijiwaku dari ibu
Ibu..kita sudah sama-sama menangis untuk ayah dan Palestina
Ibu..kini usai sudah tangis, dan kita ganti dengan semangat jihad
Ibu..aku tak melarang ibu menangis, menangislah dalam sujud
Ibu..menangislah dalam doa-doa yang panjang untuk ayah
Ibu..menangislah dalam sepertiga malam untuk aku
Ibu..menangislah memohon kememerdekaan pada Allah untuk Palestina
"Wahai ibu kehidupan akan berjalan seperti biasa, aku masih di sini wahai ibu.."
Selamat jalan ayah, aku tahu ayah masih hidup di sisi Allah
Ayah..kita hanya berpisah sementara
Ayah..aku juga ingin syahid seperti ayah
Peluk cium hangat dan dari hati yang paling terdalam dari aku dan ibu untuk ayah..
Allahu Akbar...
Allahu Akbar...
Allahu Akbar...
=== Joy ===
Sastra
Nak...luka dan simbah darahmu belum lagi kering
Tarikan surga begitu kuat memanggilmu
Ada banyak cara menuju cinta Allah
Dan kau wahai pujaan hatiku
Syahid menjadi jalanmu menuju cinta abadi Allah
Ibu sangat merasakan perih dan pedihnya berpisah denganmu
Pelukan ini serasa begitu lama sekali
Pelukan ini begitu mendalam dan hati ibu masih bisa rasakan getaran cinta yang kuat darimu nak..
Ibu tahu dan yakin seyakinnya bahwa kau masih hidup
kau hidup disisiNya nak...
Doa'kan ibu agar segera menjadi syuhada
Nak...dekap cinta ini
Nak...peluk cinta ini
Bukanlah peluk dan dekap penyesalan
Ini adalah dekap dan peluk cinta yang selalu hangat kuberikan untukmu
Dekap dan peluk cinta ini
Ingin kutunjukan pada dunia
Sebelum kau dipeluk bumi didalam tanah nanti
Pertama akan kukabarkan pada seseorang
Entah siapa dia yang telah merampas kemesraan kita
Tega menghabisi nyawa buah hatiku yang masih kecil
TATAPLAH DALAM-DALAM FOTO INI!
APA YANG KAU RASAKAN?
BAGAIMANA JIKA SUATU SAAT ISTRIMU DAN ANAKMU MENGALAMI HAL YANG SAMA?
Kedua akan kukabarkan pada seluruh ibu-ibu di Palestina
Bahwa dekap dan peluk cinta ini adalah asa untuk seluruh ibu-ibu di Palestina
Teruslah menjadi rahim lahirnya mujahid-mujahid baru
Teruslah menjadi rahim lahirnya syuhada-syuhada baru
Ketiga ingin kusampaikan pada seluruh dunia
Selama masih ada rahim-rahim ibu-ibu Palestina
Selama itu pula mujahid-mujahid baru akan tumbuh
Roket dan bom serta timah panas yang disarangkan ketubuh kami
Hanya menembus kulit kami saja
Tak akan mampu menembus hati kami
Hati kami sangat kuat bergantung pada Allah
Dan tak pernah tergoyahkan oleh dentuman bom kebengisan darimu
Nak...doa dan peluk ini
Adalah tumpukan rasa cinta yang terus menggunung
Kini sementara waktu kita berpisah
Ibu tak akan luput memelukmu dalam doa
Ya Robb..pertemukan kami kembali di surgaMu..aamiin
=== Joy ===
Sastra
![]() |
| Foto: Khairuddin Safri |
apa yang terjadi di sana?
Ayah ceritakan padaku
apa yang terjadi di Palestina?
Ayah ceritakan padaku
mengapa tangan-tangan kecil kawanku penuh darah?
Ayah ceritakan padaku
salah apa teman-temanku ditembaki?
Ayah ceritakan padaku
salah apa teman-temanku di bom?
Ayah ceritakan padaku
mengapa anak-anak kecil Palestina begitu tegar hadapi semua ini?
Ayah ceritakan padaku
agar bisa kubawa mimpi pada malam ini!
Ayah ceritakan padaku
agar aku juga bisa tegar seperti teman-teman di Palestina
Ayah ceritakan padaku
mengapa teman-teman di Palestina memuji anak-anak Indonesia?
saya belum banyak berbuat apa-apa, mengapa mereka memuji kami di sini?
merekalah yang hebat ayah!
bahkan seorang ratu pun sampai iri terhadap anak-anak Indonesia..mengapa ayah, ceritalah?
Ayah ceritakan padaku
ada apa antara anak-anak Indonesia dan Palestina?
ribuan kilo meter memisahkan kita
namun mengapa cinta dan hati kami tak bisa dipisahkan?
Ayah ceritakan padaku
bagaimana caranya membalas cinta anak-anak Palestina yang diberikan untuk anak-anak Indonesia?
Ayah ceritakan padaku
agar aku bisa berterima kasih atas pelajaran hidup yang sangat berarti dari teman-teman Palestina
Ayah sampaikan cinta dan kasihku
untuk seluruh anak-anak Gaza
untuk seluruh anak-anak Palestina
Ayah sampaikan cinta dan kasih
seluruh anak-anak Indonesia
untuk..
seluruh anak-anak di Gaza
untuk...
seluruh anak-anak di Palestina
=== Joy ===
Sastra
![]() |
| Imam Masjidil Haram, Syaikh Abdurrahman As-Sudais (Today’ Opinion) |
Imam Masjidil Haram, Syaikh Abdurrahman As-Sudais menghimbau umat Islam yang sudah pernah melaksanakan haji dan umrah untuk tidak berangkat ke Mekkah tahun ini. Himbauan ini disebabkan sedang dilaksanakan pembangunan besar-besaran di areal Masjidil Haram. Demikian diberitakan Today’s Opinion, Senin (14/7/2014) kemarin.
As-Sudais mengatakan, “Proyek-proyek pembangunan di Masjidil Haram saat ini adalah proyek yang raksasa dan perluasan yang bersejarah. Seusai proyek ini akan terjadi perubahan dan perbaikan yang sangat besar dalam melayani para jamaah.”
Beliau melanjutkan, “Karena proyek-proyek ini masih terus berjalan, terjadi penyempitan tempat untuk tawaf. Orang-orang yang melaksanakan tawaf sangat berdesakan. Ini akan sangat membahayakan keselamatan dan kenyamanan para jamaah. Oleh karena itu, demi kemaslahatan bersama, untuk sementara jumlah jemaah haji dan umrah harus dikurangi sampai proyek-proyek selesai.”
Pengurangan itu, menurut beliau, hendaknya dilakukan pada para jamaah yang sudah pernah melaksanakan ibadah haji dan umrah. Sebaiknya mereka tidak mengulanginya lagi, untuk memberikan kesempatan kepada saudara-saudaranya yang belum melaksanakan. (msa/dakwatuna)
Berita - Info Umroh dan Haji - Slider
Langganan:
Postingan (Atom)








Recent Comments