Select Menu

Slider

Diberdayakan oleh Blogger.

Berita Haji dan Umroh

Alumni Sahara Kafila

Racing

Video Perjalanan Umroh Sahara Kafila

PT. SAHARA KAFILA WISATA memberangkatkan 44 pax Jamaah Umrah Awal Ramadhan pada tanggal 2 Juli sampai dengan 10 Juli 2014. Rombongan yang dipimpin oleh Ustadz Achmad Al Wasim dari Pesantren Kafila International Islamic School ini berasal dari beberapa daerah perwakilan diantaranya Perwakilan Jogjakarta, Sumbawa, Bandung, Semarang dan Jakarta.
Acara pelepasan yang bertempat di Terminal 2 pintu 3  Soekarno-Hatta International Airport, dihadiri oleh Direktur Utama PT. SAHARA KAFILA WISATA ibu Hj. Widiya Putri Ika Mas’ud beserta Crew petugas handling bandara. Upacara pelepasan yang berlangsung sekitar 15 menit ditutup dengan do’a oleh Ustadz Achmad Al Wasim, setelah itu para Jamaah Umrah langsung masuk ke Imigrasi menuju ruang tunggu Pesawat Saudi Arabia Airlines yang akan take off pada jam 13.05 WIB.  Semoga para Jamaah mendapat Umrah Maqbullah Amiin. (Rully)








MADINAH–Bulan ramadhan menjadi magnet umat islam untuk datang berziarah maupun ibadah ke kota suci Madinah, banyak orang mengunjungi situs bersejarah di kota itu, termasuk situs tempat  kala terjadi perang Uhud pada masa Nabi Muhammad (saw) 625 (3 H).
Ribuan orang mengunjungi bukit Uhud, banyak penduduk lokal mengambil kesempatan untuk mendirikan kios-kios untuk menjual cinderamata, parfum, manik-manik, herbal, buku, Alquran, kalender, minuman ringan dan es krim.
Nurul Haq Siraj, seorang jamaah Umrah asal Pakistan, mengatakan ia membeli beberapa rempah-rempah dan rosario. “Sungguh menakjubkan cara mereka mengemas barang di sini, belum lagi keragaman barang yang dijual,” katanya.
Khaled Ibrahim, seorang peziarah Umrah dari Mesir, bergegas  mengunjungi kios-kios usai berziarah ke makam para sahabat Nabi yang menjadi shuhada dalam perang Uhud. “Saya membeli beberapa pernik bebatuan. Saya juga berfoto di tempat itu. Foto ini akan mengingatkan saya bahwa saya pernah berkunjung ke tempat ini dan diharapkan akan mengingatkan saya tentang ziarah saya ketika saya kembali di masa mendatang, “katanya.
Di satu sisi berdiri tegak gunung Uhud yang dahulu menjadi medan perang, sementara di sisi lain berdiri sebuah bukit yang berbatu-batu, disitulah sekelompok fotografer mengambil gambar para peziarah.
“Banyak peziarah yang ingin memiliki foto mereka diambil di sini untuk mengingatkan mereka dari tempat ini. bukit ini terkenal dan memiliki banyak makna sejarah, “kata Khaled Al-Matarfi.
“Kami memasang tarif untuk satu foto SR 10  dan SR 15 untuk dua foto. Meskipun kamera ponsel telah mengakibatkan penurunan bisnis kami, namun kami masih bisa mendapatkan antara SR 300 sampai SR 200 sehari, “katanya.
Perang Uhud adalah pertempuran kedua antara orang-orang kafir dari Makkah dan Muslim dari Madinah, dimana sebelumnya telah didahului  Perang Badar (624 M / 2 H) di mana pasukan Muslim yang jumlahnya jauh lebih kecil dapat mengalahkan pasukan Mekah yang jauh lebih besar.
Selama Pertempuran Uhud, Nabi Muhammad (SAW) bersama 50 pemanah dan Abdullah bin Jubair berada di bukit Gunung Uhud untuk memastikan musuh tidak menyerang kaum Muslim dari belakang.
Nabi memerintahkan agar 50 orang ini menjaga kaum muslim dan mencegah musuh melewati celah gunung, dan tidak meninggalkan tempat ini dalam situasi kalah atau menang.
Selama pertempuran, setiap kali musuh mencoba menyerang dari belakang, para pemanah dapat memukul mundur. Musuh membuat strategi baru dengan membuang senjata mereka di satu tempat dan mereka mundur dari pertempuran. Saat itulah para pasukan elite terpancing dan turun untuk mengumpulkan barang rampasan perang.
Namun, pada saat yang sama kavaleri musuh yang dipimpin oleh Khaled bin Walid, yang pada waktu itu belum bisa menerima Islam, menyerang kaum Muslim dari belakang datang dari balik bukit itu.
Kala itu merupakan kemunduran besar bagi umat Islam Madinah, perang yang mengakibatkan banyak pengorbanan sahabat terkemuka Nabi, termasuk paman Nabi yaitu Hamzah dan Abdullah bin Jubair. Arabnews/Slamet Riyanto
- See more at: http://www.jurnalhaji.com/wijhat/tempat-bersejarah/uhud-magnet-bagi-jamaah-umrah-saat-ramadhan/#sthash.gqeaaIJD.dpuf
-
Cover buku “Assalamualaikum Beijing!”
Judul: Assalamualaikum, Beijing!
Penulis: Asma Nadia
Penerbit: Noura Books
Cetakan: Pertama, Oktober 2013
Tebal: x + 344 halaman
ISBN: 978-602-1606-15-5

Perjuangan Hidup Gadis Penderita APS

dakwatuna.com – Asma adalah gadis enerjik yang periang sebelum serangan stroke melumpuhkannya. Tapi ternyata, itu baru awal, karena setelahnya dia mengalami serangan jantung dan pingsan berkali-kali. Hingga kemudian diketahui dari hasil pemeriksaan darah bahwa Asma menderita APS—Antiphospholipid Syndrome atau sindrom pengentalan darah. Sederhananya, APS adalah penyakit autoimun yang terjadi karena darah terlalu cepat mengental. Jika darah mengental di ginjal, yang terjadi adalah penderita APS akan terkena penyakit ginjal. Jika pengentalan darah terjadi di mata, mata akan mengalami gangguan penglihatan sampai kebutaan. Asma sendiri mengidap APS Primer, artinya sindrom tersebut akan selamanya berada dalam tubuh (hal. 162-163).

Penyebab APS memang belum bisa diketahui secara pasti. Bisa karena faktor genetik, merokok, mobilitas tinggi, seperti perjalanan panjang dengan pesawat lebih dari enam jam, dehidrasi, dan pil KB (hal. 184).
Sejak saat itulah, hidup Asma seolah jungkir-balik. Dia terpaksa keluar dari pekerjaannya sebagai reporter dan harus lebih sering berbaring istirahat sambil rutin meminum dan disuntik obat pengencer darah. Hubungan cintanya kandas, karena sang pacar justru menikahi gadis lain. Sementara itu, orang yang melimpahinya dengan curahan kasih dan perhatian hanyalah Mama dan Sekar, sahabatnya.

Kehadiran dua orang itu menambah kuat ketahanan diri Asma. Kesadaran betapa semakin kaburnya jarak yang tercipta antara dia dan kematian, memacu semangat gadis itu. Dia semakin gila membaca dan rajin menulis. Asma tidak melawan penyakitnya itu, tapi justru menikmatinya dengan cara memberikan semangat dan membangun persahabatan dengan sesama penderita APS. Dia rajin mengirim catatan doa-doa untuk diamalkan pasien-pasien penderita APS, karena menurutnya, “Doa selalu menenangkan dan memberikan harapan.” (hal. 244).

Hingga suatu ketika, Asma mendapat kunjungan dari Zhongwen, pemuda Tionghoa yang dikenalnya saat meliput berita di Beijing. Pemuda itu mengaku sangat terkesan dan banyak belajar dari kepribadian Asma selama pertemuan mereka di Beijing yang dilanjutkan komunikasi via internet. Dia bahkan memperoleh pencerahan agama setelah banyak berdiskusi dengan Asma. Kunjungan pemuda itu ke Jakarta adalah untuk melamar Asma menjadi istrinya, meski akhirnya dia tahu kalau Asma menderita APS (hal 301).
Tepat setelah ijab kabul pernikahan, Asma justru kembali terkena serangan stroke yang selanjutnya membuat dia kehilangan banyak memori dan sukar bicara. Tapi Zhongwen tidak berpaling. Dia tetap menemani Asma, menyemangati, dan mendoakannya. Setelah keadaan Asma  membaik, mereka bahkan dapat berbulan madu ke Beijing, melakukan napak tilas pertemuan mereka dulu (hal. 326).

Pada akhirnya, novel ini dapat dijadikan penyemangat dan wujud empati bagi saudara-saudara yang berjuang dengan APS, maupun sindrom atau penyakit lainnya.

Sumber : http://www.dakwatuna.com/2014/05/14/51212/assalamualaikum-beijing/
Foto : Republika.co.id

Jakarta (Sinhat)--Dirjen Penyelenggara Haji dan Umroh (PHU) Kemenag, Anggito Abimanyu menegaskan bahwa sampai saat ini tidak ada kasus Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-CoV) yang terjadi di Indonesia. "Jadi tidak ada pemberhentian visa dari Dubes Arab Saudi terkait virus MERS-Cov," tegas Anggito kepada pers di Kantor Kemenag, Jakarta, Selasa (6/5).
Penegasan itu menanggapi pernyataan dari World Health Organization (WHO) bahwa MERS-Cov merupakan situasi serius dan perlu perhatian besar, tapi belum terjadi darurat kesehatan masyarakat. Namun, kata Anggito, WHO tidak menganjurkan penerapan restriksi perjalanan, dan masih dalam status travel advise.

Terkait virus MERS-Cov, Anggito sudah melakukan rapat konsultasi dengan pemerintah dengan asosiasi penyelenggara haji dan umrah, dan mesosialisasikan kepada masyarakat calon jamaah umrah dan haji khusus.

Lebih lanjut Anggito mengatakan, bahwa potensi virus MERS-Cov bisa terjadi, dan jumlah jemaah yang akan menjalankan umrah ke tanah suci terus mengalami peningkatan hingga mencapai 150 ribu perbulan. Karenanya, pihaknya mengantisipasi virus MERS-Cov dengan menyarankan untuk tidak memberangkatkan jemaah umrah yang berusia lebih dari 65 tahun. “Tidak memberangkatkan jemaah yang memiliki riwayat penyakit kronis, seperti jantung, ginjal, saluran pernafasan dan diabetes,” ungkapnya.

Selain itu, para penyelenggara umrah juga disarankan untuk tidak memberangkatkan jemaah dengan defisiensi kekebalan tubuh, wanita hamil dan anak-anak di bawah umur 12 tahun. “Jadi langkah antisipasinya ada 4 kriteria tersebut,” ujarnya.

Antisipasi terhadap virus MERS-Cov lainnya, kata Anggito, agar jemaah umrah dan haji menjaga perilaku hidup bersih dan sehat, istirahat yang cukup, jangan merokok, rajin mencuci tangan dengan sabun, senantiasa menggunakan masker, bila batuk agar menutup mulut dengan tisu atau lengan. “Kalau ada infeksi saluran pernafasan agar segera berobat ke fasilitas kesehatan,” ujarnya.

Ia juga mengimbau kepada jemaah untuk tidak mengunjungi peternakan dan tempat-tempat pemotongan hewan, dan menghindari kontak langsung dengan fasilitas kesehatan yang sudah terkena kasus virus MERS-Cov. “Jadi kewaspadaan dan hati-hati yang harus di utamakan jemaah,” tegasnya

Pentingnya antisipasi virus MERS-Cov tersebut, Anggito juga mengimbau kepada Asosiasi penyelenggara ibadah umrah dan PIHK agar meningkatkan sosialisasi penyebaran virus MERS-Cov kepada anggota, dan calon jemaahnya. “Terpenting jangan sampai menimbulkan kepanikan kepada jamaah,” pungkasnya. (hud/haji.kemenag.go.id)
- - -
Jakarta (Sinhat)--Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan tidak ada penderita Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV) di Indonesia. Kasus yang terjadi di Medan baru sebatas suspect flu Arab dan hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan hasil negatif.
Hal tersebut ditegaskan Kepala Pusat Kesehatan Haji dari Kementerian Kesehatan, Dr. dr. Fidiansjah, SpKJ, MPH, seusai rapat konsultasi dengan Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag, Anggito Abimanyu, dan empat pimpinan Asosiasi Penyelenggara Haji dan Umrah, Selasa (6/5).
Menurut Fidiansjah, syarat suspect biasanya memenuhi dua kriteria yaitu seseorang menderita gejalanya dan baru berkunjung ke negara tempat penyakit tersebut. "Namun suspect belum tentu penderita dan pasien di Medan hasil tes laboratoriumnya negatif," ungkapnya.
Hemat dia, virus juga mengalami mutasi dan terjangkit di lokasi berbeda-beda. Sebelumnya pernah ada flu Hong Kong, dan sekarang di Timur Tengah. "Ini terkait lokasi, jadi mohon tidak dikaitkan dengan hal-hal lain," tegasnya.
Fidiansjah menambahkan bahwa vaksin flu Arab memang belum ditemukan. Bahkan flu burung dengan tingkat kematian pasien 80 persen saja masih belum ditemukan vaksinnya.
Sedangkan proses penularannya pun masih diduga-duga, belum dipastikan apakah dari unta ke manusia atau antar manusia. Lagi-lagi, kata Fidiansjah, pencegahan tetap yang terbaik, termasuk tidak mendekati orang yang terpapar penyakit dan menghindari peternakan unta atau pemotongan hewan.
Ia mengaku optimis dengan langkah antisipatif pemerintah ditambah punya pengalaman dengan flu burung, maka bisa dikatakan kita lebih siap. "Kita tidak bermaksud takabur, kita tetap waspada, namun, jangan membuat panik," tandasnya.
Untuk jemaah umrah dan haji ia menghimbau menjaga perilaku sehat dengan mengkonsumsi makanan bergizi dan tidak makan secara sembarang. Ia menyarankan untuk menjaga stamina jemaah perlu mengkonsumsi vitamin C dosis tinggi atau multivitamin. Menurutnya virus tidak akan menyerang orang yang daya tahan tubuhnya kuat. (so/haji.kemenag.go.id)
- - -
Air Zam zam diyakini bisa mencegah dan menyembuhkan berbagai macam penyakit, tidak terkecuali virus corona. "Air ini berkhasiat," jelas Ketua Pelaksana Majlis Azzikra, Ustaz Abdul Syukur Yusuf, saat dihubungi, Rabu (7/5).
 
Dia mengutip sebuah hadis Rasulullah riwayat Imam Ahmad dari Jabir bin Abdullah. Inti dari hadis itu, pertama, khasiat air ini bergantung dari niat yang tersimpan dalam hati peminumnya. "Ini bisa menjadi syifaan likulli daain wa saqamin (penyembuh segala penyakit, - red)" jelasnya mengutip petikan hadis itu.
 
Ustaz Syukur yang baru saja kembali dari tanah suci belum lama ini menceritakan, kekuatan air zam zam menguatkan keyakinan setiap Umat Islam yang sedang melaksanakan haji dan umrah disana. Di saat pemberitaan mengenai virus Corona menyebar kemana-mana.
 
Bahkan menjadi isu internasional, Umat Islam Indonesia yang sedang beribadah umroh tenang-tenang saja. Mereka tetap menjalankan ibadah dengan khusyu', tanpa terpengaruh pemberitaan itu. "Kekhusyuan seperti itu menghilangkan rasa takut," jelasnya.
 
Dia menerangkan kondisi psikologis ketika beribadah seperti itu membuat segala hal yang lahir terfokus kepada yang batin. Bahkan bisa jadi, kondisi lahir akan semakin kuat, karena ibadah seperti ini menumbuhkan kekuatan batin yang kuat. Rasa percaya diri dan kesehatan bahkan bisa semakin baik. (rol/ds) 
- - -
Cover buku “Fiqih Negara”.
Judul Asli:  Min Fiqh ad-Daulah fil Islam
Terjemahan: Fiqih Negara
Penulis : Dr. Yusuf Qardhawy
Penerjemah: Syafril Halim
Penerbit: Robbani Press – Jakarta
Tebal   : 260 Halaman

Islam adalah agama paripurna yang mengurusi seluruh aspek kehidupan manusia. Mulai dari yang sederhana hingga hal paling rumit. Mulai dari hal terkecil, hingga hal yang terbesar. Islam tidak hanya mengatur kehidupan individu, tetapi juga dalam kehidupan bertetangga, bermasyarakat hingga bernegara. Semua hal ini, telah dicontohkan dengan sangat baik oleh pribadi Rasulullah saw.

Terkait kehidupan bernegara, meskipun sudah dicontohkan dengan sangat baik oleh Rasulullah dan pendahulu terbaik umat ini, kaum muslimin masih berdebat dan berbeda pendapat tentangnya.

Ada kubu yang menganggap bahwa kaum muslimin hanya boleh terjun ke pemerintahan dalam sistem Khilafah. Ada juga yang memilih untuk bertarung dalam sistem apapun demi kemanangan Islam. Pihak lain, justru mengharamkan hal itu karena bukan sistem Islam. Anehnya, jika kemudian kaum muslimin dirugikan, mereka ikut melakukan protes. Padahal, ketika diberi opsi untuk ikut serta secara aktif dalam memenangkan kekuatan kaum muslimin melalui berbagai jalur pemerintahan, kelompok ini merasa enggan. Bahkan, mengharamkannya.

Sehingga, kajian tentang bernegara ini perlu untuk terus digalakkan. Tentu, dengan merujuk kepada sumber primer yakni al-Qur’an, hadits, dan ijma’ ulama’. Karena, pengaturan kehidupan bernegara ini, bukan kreasi gerakan Islam (pendiri dan aktivisnya), tapi merupakan kajian dari teks-teks Islam yang tegas, fakta sejarah yang tidak akan berubah dan karakter dakwah Islam yang komprehensif. (h. 5)

Kajian tentang fiqh Negara ini, setelah membahas tentang asalnya, maka selanjutnya adalah tentang rambu-rambu negara yang dibangun oleh Islam. Negara yang dibangun oleh Islam adalah: negara madani bersumberkan Islam, negara Internasional, negara konstitusional berdasarkan syariat, negara musyawarah bukan kerajaan, negara petunjuk bukan negara pengumpul harta, negara pelindung kaum dhuafa, negara hak asai dan kebebasan, negara prinsip dan moral.(h. 29-58)

Selain rambu-rambu, penting juga untuk dimengerti tentang karakter negara dalam Islam itu sendiri. Pengetahuan tentang karakter ini amatlah penting. Sehingga kita bisa mengetahui tentang mana jalan yang harus ditempuh dan jalan yang harus dihindari.

Bahwa negara Islam bukanlah negara agamawan yang pernah berkuasa di Eropa. Yakni kekuasaan absolut atas nama agama yang kemudian berdampak buruk bagi kesejahteraan masyarakat. Hanya demi kepentingan pribadi dan golongan pengusungnya. Hal inilah yang terus dibisikkan oleh musuh-musuh Islam sehingga kaum muslimin merasa anti dan kemudian memusuhi sesamanya yang berjuang dalam jalur pemerintahan.

Selanjutnya, di dalam buku ini juga dibahas tentang berbagai sistem pemerintahan yang ada saat ini. Mulai dari sistem multipartai, pencalonan wanita untuk dewan perwakilan,  hukum berpastisipasi dalam pemerintahan non-Islam, juga tentang bagaimana hukumnya mencalonan non-Muslim untuk menjadi anggota dewan perwakilan rakyat.

Kajian dalam buku ini, sangat layak untuk dilirik. Jika memang ada yang tak tertarik untuk membahasnya lebih jauh. Syukur-syukur, jika ijtihad penulisnya dalam buku ini, ada yag bisa melengkapi, mengoreksi ataupun membandingkannya dengan ijtihad lain berdasarkan al-Qur’an dan sunnah.

Pasalnya, saat ini, kaum muslimin lebih sibuk untuk membahas perbedaan cara ibadah dan khilaifyah lainnya, dibanding sibuk mengurus negara. Padahal, jika Islam berkuasa, seluruh agama akan dinaungi dalam keadilan dan kesejahteraan. Ini bukan retorika, tapi sudah dibuktikan dalam tinta emas sejarah.