Select Menu

Slider

Diberdayakan oleh Blogger.

Berita Haji dan Umroh

Alumni Sahara Kafila

Racing

Video Perjalanan Umroh Sahara Kafila

Judul: Pesona Cinta Masjid Nabawi
Penulis: Inayatullah Hasyim
Penerbit: Rumah Adib – Bogor
Tebal: 210 Halaman.

Ketika Cinta Seputih Kain Ihram
Anisa, gadis mandiri nan cantik jelita, berkesempatan menunaikan ibadah umrah. Dalam perjalanan umrah yang singkat itu, ia mendapati begitu banyak pesona cinta; baik saat di Madinah ataupun di Makkah.

Pesona cinta itu telah membuatnya tertegun. Seperti saat Abu Bakar ditanya tentang Rasulullah, Abu Bakar menjawab, “Kupandangi al-Mustafa dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Tahukah kalian, apa yang menjelma? Cinta!”. Demikian halnya Bilal bin Rabah yang berjanji tak akan lagi kumandangkan adzan setelah Rasulullah wafat semata karena ia tak mampu mengenang wajah yang penuh cinta.

Anisa terhenyak, hingga ia pun menulis, “Kini, aku benar-benar dalam pilihan sulit. Nael al-Zaydan –sosok tampan- di Madinah; dan Mas Idil –sosok mempesona- di Makkah. Ya Allah bimbinglah aku dalam menentukan pendamping hidupku. Jadikanlah umrah-ku sebagai umrah yang makbul hanya karena-Mu. Dan dua laki-laki ini adalah “bonus” untuk shalat istikharahku.”

Kekuatan novel ini, saya kira, pada kemampuan penulis mengekplorasi sejarah nabi (sirah nabawiyah) untuk dipadukan dengan kisah romantis perjalanan hidup seorang anak gadis bernama Anisa.
Dalam testimoninya, ustadz Samson Rahman, penerjemah buku fenomenal Laa Tahzan, menulis, “Membaca novel karya saudara Inayatullah Hasyim dengan judul Pesona Cinta Masjid Nabawi seakan kita diajak menjelajahi lorong-lorong sejarah Rasulullah dan jejak-jejak mulia perjalanan hidup beliau, tanpa terasa.”
Lebih jauh, ustadz Samson Rahman mengatakan, “Bagi saya novel ini adalah sebuah kebangkitan baru novel religi dengan seting tempat, Masjid Nabawi dan Mekkah, yang beberapa lama tidak diambil oleh para penulis novel lainnya. Saya teringat pada novel tak lekang Hamka Di Bawah Lindungan Ka’bah yang hingga kini masih enak dibaca. Semoga saya tak berlebihan jika saya katakan, bahwa novel ini, melanjutkan tradisi cemerlang Hamka. Hadirnya novel ini, terasa Hamka muda hadir di tengah kita.”

Novel ini singkat dan padat. Hanya 200-an halaman. Pembaca dibuat penasaran dengan akhir cerita. Kelebihan lainnya, novel ini ditulis di sela-sela waktu sang penulis menunaikan ibadah umrah. Hal demikian, diakui sendiri oleh penulisnya.

Katanya,  “Alhamdulillah, karya sederhana ini akhirnya hadir juga ke hadapan Anda, para pembaca yang mulia. Gagasan untuk menulis novel ini bermula saat saya menunaikan ibadah umrah, Januari 2014. Suasana kota Madinah yang dingin, tertib dan penuh pesona membuat daya imajinasi saya tumbuh, merantau jauh ke zaman Rasulullah dan para sahabatnya. Kita tahu, Madinah adalah contoh peradaban yang mengedepankan nilai-nilai humanisme sebenarnya. Bukankah Rasulullah pernah berkata, “Sebaik-baik zaman adalah zamanku.” Ya, zaman ketika beliau sering berkata pada Bilal, “Rehatkanlah kami dengan kau (kumandangkan) shalat (azan).” Keterbatasan waktu dan keterikatan dengan agenda perjalanan umrah membuat perjalanan cinta Nisa berliku. Riuh rendah dalam gelombang harapan kepastian dan kemurnian getarannya.”

Bagi saya, novel ini bagaikan kisah cinta yang putih, bukan seputih salju. Tetapi seputih kain ihram sebab ia mulai tumbuh saat berada di tanah suci. Dan semoga buku kecil ini bermanfaat dan memotivasi kita semua untuk menunaikan ibadah haji dan umrah.
Cover buku “Membentuk Pribadi Muslim Ideal (Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah)”.
Judul Asli:  Syakhsiyatul Muslim Kamaa Yasyughuhal Islam Filkitab Wa Sunnah
Terjemahan: Membentuk Pribadi Muslim Ideal (Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah)
Penulis: Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi
Penerjemah: H. Gozali J. Sudirjo Lc, Asep Sobari Lc
Penerbit: Al-I’tishom – Jakarta
Tebal: 322hal ; 15,5 x 24 cm
ISBN: 978-979-3071-98-5
Cetakan: I; Maret 2012

dakwatuna.com – Islam adalah agama paripurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Mulai dari keshalihan individu, sosial hingga kehidupan bernegara dan antar negara dalam tatanan global. Karena sejatinya, Islam adalah sistem integral yang bertujuan untuk menyebarkan kasih sayang kepada seluruh alam. Hal ini bisa difahami karena Islam merupakan agama langit yang langsung diatur oleh Allah. Sedang Dialah Yang Maha Mengetahui akan semua kebutuhan dan kebaikan bagi hamba-hamba-Nya.

Sayangnya, kecemerlangan Islam seringkali tidak berkorelasi positif dengan fenomena akhlak kaum Muslimin. Ada seorang hafizh al-Qur’an yang melakukan korupsi, ada juga ustadz yang melakukan perbuatan cabul, atau seorang beragama Islam yang mencuri, melakukan tindakan kriminal dan kekejian lainnya.

Tentu, ini bukan justifikasi. Karena banyak juga kaum Muslimin yang baik secara akhlak dan dalam kehidupan antar umat manusia. Syeikh Ali al-Hasyimi, menghabiskan waktu selama sepuluh tahun untuk melakukan riset dan kemudian menuliskan buku yang ada di tangan pembaca ini. Tujuannya, agar Islam yang cemerlang bertemu secara sempurna dengan kecemerlangan-kecemerlangan pemeluknya.

Sebelum baik kepada siapapun, Muslim yang ideal haruslah baik hubungannya dengan Allah Sang Pencipta. Kebaikannya ini bisa dilihat dari kualitas ibadahnya. Bukan saja ibadah yang terlihat secara indrawi, tetapi lebih dari itu adalah ibadah batin yang hanya diketahui oleh dirinya dan Allah.

Maknanya, shalatnya yang terlihat secara fisik, haruslah terkoneksi dengan baik dalam tataran batin. Yakni merasa diawasi oleh Allah sehingga shalatnya bisa menjadi pencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Selain shalat, ia adalah sosok yang sedikit sekali lalai, menunaikan zakat, memampukan diri untuk beribadah haji, dan melakukan semua amalan untuk mengundang ridha dan ampunan Allah.

Berikutnya, Muslim ideal adalah orang yang baik dengan dirinya sendiri. Ia tak pernah zhalim. Karena sadar sepenuhnya, bahwa dirinya adalah anugerah dari Allah sehingga harus disyukuri dengan berbuat kebaikan. Maka, dia menjaga fisik, akal dan jiwanya.

Fisiknya dijaga dengan mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal, baik dan mengundah berkah. Ia tak lupa istirahat, berolah raga dan berpenampilan sebaik mungkin guna mensyiarkan nikmat yang telah Allah berikan.

Akalnya dibagusi dengan banyak membaca, menulis dan memikirkan ciptaan Allah. Ia tak mudah lalai apalagi terlena. Menuntu ilmu menjadi ciri khasnya, dilengkapi dengan keilmuan kekinian dan juga menguasai bahasa asing. Ia melakukan hal itu karena kesadaran. Bahwa ilmu adalah milik Allah, dan kaum muslimin wajib untuk menguasainya.

Jiwanya dirawat dengan sangat baik. Hatinya sibuk berzikir, rajin mendekati orang shalih, dan tak luput dari doa-doa di sepanjang kehidupannya. Tak ada kesia-siaan yang dia lakukan kecuali hanya sedikit saja.
Di sepanjang amal untuk menyelesaikan urusan terkait dirinya sendiri itu, Muslim ideal juga menjalin hubungan baik dengan sekitarnya. Dengan orang tua sebagai kunci surga dan ridha Allah, pasangan hidup sebagai partner sejati untuk mengejawantahkan cinta kepada Allah dan bersama menuju-Nya, juga kepada anak-anak dan keluarga dekatnya sebagai objek dakwah yang pertama.

Ia juga baik kepada tetangga, sahabat dan seluruh masyarakatnya. Tak lupa, ia memenuhi kewajiban-kewajibannya kepada semua orang. Ia adalah pribadi jujur, suka berbagi dan menerima nasehat, pemalu, penyayang, luwes, pemaaf, mudah bergaul, menahan diri, wajah yang selalu berseri, dermawan, tidak berbuat zhalim, tidak munafik, jauh dari riya’, menghindari ghibah dan seterusnya.

Disajikan dalam bentuk tebal, membuat buku ini wajib dimiliki oleh setiap kaum Muslimin sebagai rujukan. Mudahnya, sajian di dalamnya disajikan perbab dan kemudian dibagi menjadi sub-bab-sub-bab singkat sehingga mudah dibaca dan difahami. Sajiannya merupakan potongan-potongan taujih sehingga tidak harus dibaca dari depan dan bisa dimulai dari bagian yang paling menarik benak kita.

Dilengkapi dengan dalil al-Qur’an, sunnah Rasulullah dan kisah para pendahulu umat ini, menjadikan buku ini memiliki nilai lebih. Semoga Allah memudahkan kita untuk membaca, menelaah dan mempraktekan ajaran dalam buku ini sebagai bentuk melakukan apa yang Allah perintahkan melalui Kalam-Nya.
Cover buku “Ensiklopedia Mini Masjid Al-Aqsha”.
Judul Buku: Ensiklopedia Mini Masjid Al-Aqsha
Penulis: Tim Kajian ASPAC
Penerbit: ASPAC Publishing
Cetakan 1: Januari 2014
Jumlah halaman: xx +452 halaman
ISBN: 978-602-14856-1-3

Buku Ensiklopedia Mini Masjid Al-aqsha menjelaskan cukup detail Landmark Masjid Al-Aqsha. Pembaca akan dibawa berjalan-jalan mengelilingi masjid ini, dari lorong-lorongnya. Kemudian mengenal sejarahnya dan masjid-masjid serta tempat-tempat shalat yang ada di dalamnya. Termasuk nama-nama yang dikenal dari dulu hingga saat ini.

Manakah yang dinamakan Masjid Al-Aqsha? Apakah masjid berkubah emas yang dikenal sebagai Qubbatu sh Shshakhrah? Ataukah Masjid Qibli yang di dalamnya terdapat mihrab utama? Seberapa luaskah kompleks Masjid Al-Aqsha?  Melalui buku ini, pembaca bisa menemukan jawaban-jawaban dari  pertanyaan tersebut.

Jumlah menara, lengkungan, sekolah-sekolah dan majelis ilmu, pelataran serta seni arsitektur, sedikit banyak terurai di dalamnya. Sumur-sumur tua, tempat penyediaan air minum serta tempat wudhu dan berbagai hal lainnya terdapat dalam buku ini.

Dengan pengetahuan fisik dan sejarah yang detil akan terasa betapa situs penting umat Islam ini memiliki nilai yang luar biasa. Baik secara ideologis, maupun sebagai budaya sekaligus merupakan simbol yang ikonik dengan tempat suci bagi umat Islam. Para Nabi pernah singgah di sana. Sebagian terlahir dan besar di sana. Sebagian lagi dimakamkan di dekatnya. Sebagian bersama-sama Rasulullah saw menunaikan shalat menjelang keberangkatan beliau ke Sidratil Muntaha.

Lalu, apa motivasi Zionis menguasai Palestina dan Al-Quds khususnya? Mereka juga mengincar Masjid Al-Aqsha dengan dalih sejarah yang direkayasa. Apa saja yang dilakukan mereka dan bagaimana mengantisipasinya? Semuanya terjawab dalam buku ini.

Di samping itu, buku ‘emas’ ini menampilkan komentar tokoh-tokoh dunia dan  kalender penting dari tahun ke tahun yang berkaitan dengan Masjid Al-Aqsha. Perjanjian-perjanjian antara pejuang dan pemerintah Palestina dengan Zionis, aksi dan sejarah perlawanan bisa juga pembaca jumpai dalam buku ini. Dikupas pula secara gamblang mengapa Anda memiliki kewajiban membela Masjid Al-Aqsha dan memperjuangkan hak-hak bangsa Palestina?
Masjidil Haram (ilustrasi). Foto: Blogspot.com
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia. Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS Ali Imran: 96-97).

Kedua ayat ini mengisyaratkan dengan jelas bahwa rumah ibadah yang dibangun pertama kali di bumi adalah Baitullah. Kedua ayat ini pun menjelaskan tentang keeucian dan kehormatan yang terdapat padanya, beserta berbagai petunjuk, bukti, dan jejak yang ada padanya. Di antaranya adalah Maqam Ibrahim.
Al-Mawardi meriwayatkan dari Atha’, dari Ibnu Abbas, bahwa tatkala Adam diturunkan dari surga ke bumi, Allah SWT berfirman kepadanya, “Wahai Adam, pergilah dan dirikanlah sebuah rumah untuk-Ku. Lalu berthawaflah padanya. Sebutlah nama-Ku di dekatnya, sebagaimana engkau saksikan para malaikat melakukannya di seputar Arsy.”

Adam pun memijakkan kakinya di muka bumi. Setiap tepat yang dilewatinya kelak menjadi wilayah-wilayah yang berpenghuni. Ketika Adam sampai di lokasi Baitullah yang suci, Jibril memukulkan kedua sayapnya di bumi. Lalu, menyembullah fondasi yang tertancap erat dari atas lapisan bumi yang ketujuh. Para malaikat melemparkan kepadanya batu berat yang tidak akan sanggup diangkat oleh 30 orang laki-laki. Kemudian Adam membangun Baitullah dengan batu yang berasal dari lima gunung: Hira, Thur Sina, Lebanon, Jud, dan Thur Zait. Sedangkan batu pertamanya berasal dari gunung Hira.

Sebagian riwayat menyatakan, telah diturunkan sebuah kemah dari surga untuk Adam. Kemah tersebut dipasang di lokasi Ka’bah agar Adam dapat tinggal di dalamnya dan berthawaf di sekelilingnya. Kemah tersebut tetap berada di sana sampai Adam wafat. Setelah itu, barulah Allah mengangkatnya. Riwayat ini disampaikan melalui jalur Wahb bin Munabbih.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa telah diturunkan bersamanya Baitullah. Di sanalah Adam dan anak cucunya yang beriman melakukan thawaf. Namun, ketika bumi tenggelam oleh air bah, Allah mengangkat Baitullah ke langit. Baitullah itulah yang disebut dengan Baitul Ma’mur. Riwayat ini berasal dari Qatadah seperti yang ditulis Al-Halimi dalam kitabnya, Minhaj Ad-Din.

Al-Halimi mengatakan bahwa pengertian yang dikatakan Qatadah tentang ‘telah diturunkan Baitullah bersama Adam’ yakni diturunkan pula bersamanya ukuran rumah yang dibangun, baik panjang, lebar, maupun tingginya. Kemudian diperintahkan kepada Adam, “Bangunlah sesuai dengan ukurannya. Perhatikan posisinya, yaitu sekitar lokasi Ka’bah.”

Dia pun membangunnya di sana. Inilah pembangunan yang dilakukan Adam, dan kelak akan diteruskan oleh Ibrahim.

Redaktur: Chairul Akhmad Sumber: Atlas Haji & Umrah karya Sami bin Abdullah Al-Maghlouth


Sumber : http://www.jurnalhaji.com/wijhat/tempat-bersejarah/sejarah-pembangunan-baitul-haram/#sthash.5364HhKy.dpuf
-
SAHARA KAFILA – Judul cerita yang diangkat sebagai Tema nonton bareng adalah “99 Cahaya di langit Eropa” merupakan lanjutan kisah yang bercerita tentang perjuangan mahasiswa muslim Indonesia yang mempertahankan keyakinan di tengah budaya sekulerisme Eropa. Film yang dalam episode sebelumnya banyak bercerita tentang perjalanan Hanum (Acha Septriasa) dan Rangga (Abimana Aryasatya) di Vienna dan Paris, pada “99 Cahaya di langit Eropa Part 2” ini lebih banyak bercerita tentang perjalanan mereka di Cordoba Spanyol dan Istambul Turki.
Nonton bareng yang dihadiri  jamaah umroh  PT. Sahara Kafila diantaranya berasal dari :
1. Bank Syari’ah Mandiri Pusat Divisi Haji dan Umroh.
2. Jamaah Umroh Tanjung Mas.
3. Jamaah Umroh Pinang Ranti.
4. Jamaah Umroh Gudang Air.
Mereka sangat puas dan berkesan tentang cerita yang di sajikan, seperti ada beberapa komentar dari sebagian jamaah yang menonton diantaranya, “kisah ini sangat menguras emosi dan air mata, film ini menampilkan sosok suami yang luar biasa, film ini penting ditonton bagi siapa saja yang ingin mengetahui jejak peninggalan Islam di Eropa.”
Adapun maksud dan tujuan diadakannya nonton bareng bersama PT. Sahara Kafila di XXI Kramat jati Jakarta  adalah untuk mengajak para alumni jamaah Umroh agar berziarah dan napak tilas ke tempat-tempat yang menyimpan misteri tentang Islam di Eropa, bahwa Islam dulu pernah menjadi sumber cahaya terang benderang ketika Eropa diliputi abad kegelapan. Islam pernah bersinar sebagai peradaban paling maju di Eropa ketika dakwah bisa bersatu dengan pengetahuan dan kedamaian, bukan dengan teror atau kekerasan.
Semoga dengan nonton bareng ini hubungan persaudaraan diantara jamaah semakin akrab serta diberikan kemudahan untuk berumroh kembali dan napak tilas ke benua Eropa bersama-sama dengan sanak-saudara, handai-tolan, rekan-sejawat  tentunya dengan Penyelenggara Umroh dan Haji PT. Sahara Kafila Wisata.
Masjid Quba (Republika/Tommy Tamtomo)
Menunaikan ibadah haji, tak lengkap tanpa berkunjung ke tempat-tempat bersejarah di tanah suci kelahiran para nabi. Di Madinah, masjid Quba merupakan salah satu masjid yang sayang sekali untuk dilewatkan. Inilah masjid pertama yang didirikan Nabi Muhammad SAW. Rasul yang mendesain masjid ini, bahkan ikut pula memikul batu bata dalam proses pembangunannya. 

Masjid Quba merupakan salah satu dari tiga masjid yang disebutkan dalam Alquran, selain Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa. 

Alquran surat At-taubah 108 mencatat bahwa masjid Quba didirikan atas dasar takwa. “Sesungguhnya masjid itu yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba) sejak hari pertama adalah lebih patut bagimu (Hai Muhammad) bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya terdapat orang-orang yang ingin membersihkan diri”. (Surat At-taubah : 108) 

Masjid Quba terletak di perkampungan Quba, kira-kira 5 kilometer dari arah tenggara kota Madinah. Ini adalah masjid bersejarah karena dibangun oleh nabi Muhammad, yang ikut memikul batu bata saat pembangunannya. Ketika itu, Senin 8 Rabiul Awwal atau 23 September 622 M, para sahabat membawa bahan bangunan yang lain, sementraa Rosul memikul batu bata. 

Masjid dengan luas tanah sekitar 5.035 meter persegi ini awalnya merupakan tanah bekas kebun korma milik seorang sahabat Rasulullah. Ketika pertama dibangun, masjid ini hanya memiliki luas 1.200 meter persegi. Di sinilah tonggak pertama syiar Islam yang bakal menerangi seluruh dunia dengan cahaya Ilahiah. 

Ketika pembangunan masjid ini selesai, Rosul mengimami shalat selama 20 hari. Semasa hidupnya, lelaki yang dijuluki Al-Amin ini selalu pergi ke Masjid Quba setiap hari Sabtu, Senin dan Kamis. Setelah Nabi wafat, para sahabat menziarahi masjid ini dan melakukan salat di sana. 

Shalat di masjid Quba memiliki keutamaan. Menurut hadits nabi yang diriwayatkan oleh Abu bin Sahl bin Hunaif radhiyallahu ‘anhum, ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda: “Barangsiapa bersuci di rumahnya, kemudian mendatangi Masjid Quba, lalu ia shalat di dalamnya, maka baginya pahala seperti pahala umrah”. 

Masjid Quba telah beberapa kali mengalami renovasi. Sebelum diperluas, pada zaman Rasulullah, masjid ini hanya memiliki luas 1.200 meter persegi. Menara masjid setinggi 47 meter dibangun pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. 

Buku berjudul “Sejarah Madinah Munawarah” karangan Dr Muhamad Ilyas Abdul Ghani menyebutkan masjid Quba telah direnovasi dan diperluas pada masa Raja Fahd ibn Abdul Aziz pada 1986. Renovasi dan peluasan hingga memiliki daya tampung 20 ribu jamaah ini menelan biaya sebesar 90 juta riyal. Saat ini, yang bertanggung jawab atas renovasi masjid adalah keluarga Saud. 

Kini masjid ini memiliki 19 pintu, terdiri dari tiga pintu utama dan 16 pintu lain. Dua pintu utama disediakan bagi jamaah laki-laki dan satu pintu untuk jamaah perempuan untuk memasuki masjid. 

Reporter: Dwi Murdaningsih, dari berbagai sumber - 

Sumber : http://www.jurnalhaji.com/wijhat/tempat-bersejarah/masjid-quba-rasul-yang-mendesain-dan-ikut-memikul-batu-batanya/#sthash.GBEJmCsV.dpuf
-
Merupakan suatu kehormatan untuk PT. Sahara Kafila Wisata dapat melayani tamu Allah SWT. Apa lagi tamu Allah SWT tersebut adalah Ulama, yang dalam hadits adalah Pewaris para Nabi. Beliau adalah KH. DR. Ma’ruf Amin, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat . Beliau beserta keluarga besarnya mempercayakan Perjalanan Umrah plus Turki bersama PT. Sahara Kafila Wisata.
Umrah plus Turki yang dipandu oleh Pembimbing Utama Sahara Kafila Wisata, KH. Sulhan Abu Fitra, MA  berjumlah 24 orang diantaranya Keluarga Besar KH. Ma’ruf Amin, Hakim Agung DR. Syamsul Ma’arif, Pengurus Yayasan STAI Sholahuddin Al Ayyubi Jakarta dan jamaah lainnya. Pelepasan berlangsung di Bandara Soetta Terminal 2 D-1, dihadiri oleh Komisaris dan Direktur Utama PT. Sahara Kafila Wisata beserta kru dan staf, dan keluarga jamaah yang mengantar ke bandara.,Acara dimulai dengan sambutan Bp. H. Swadika Yanavi dari pihak Management dan ditutup dengan do’a oleh KH. Ma’ruf Amin.
KH. DR. Ma’ruf Amin bersama Direktur Sahara Kafila Wisata Ibu Widya Putri Ika Mas’ud dan Komisaris Bpk. Swadika Yanavi
KH. DR. Ma’ruf Amin (Ketua MUI Pusat) Bersama Keluarga Di Bandara Soekarno Hatta Jakarta
Karyawan Sahara Kafila berfoto bersama KH. DR. Ma’ruf Amin