Select Menu

Slider

Diberdayakan oleh Blogger.

Berita Haji dan Umroh

Alumni Sahara Kafila

Racing

Video Perjalanan Umroh Sahara Kafila

Tahun 2001 saya pernah bermimpi membaca surat Al Fatihah dan bertemu dengan seorang kakek memakai jubah putih. Orang yang saya jumpai dalam mimpi itu berpesan bahwa seandainya ketakutan, sakit atau apapun saya disuruh membaca surat Al Fatihah.

Saya sama sekali tidak tahu apa makna Al Fatihah walapun ketika SD saya sering mendengar teman-teman baca surat itu. Saya tanya kepada teman maksud mimpi saya disuruh membaca Al Fatihah. Akhirnya saya diberi Alquran terjemahan dan saya baca artinya ternyata maknanya sangat mendalam. Saya tahu bahwa Al Fatihah hanya milik umat Islam.

Mimpi itu barangkali tidak begitu mengusik bintang sinetron Natalie Sarah, bila datang saat ini. Hanya saja, mimpi itu mengampiri saat ia berusia 18 tahun dan belum menjadi seorang Muslimah. Tak lama setelah mimpi itu, ia menjadi mualaf. Ketakutan bakal diusir dari keluarga, dijauhi teman-teman, dan saudara menghantuinya begitu ia mengikrarkan memeluk Islam Juli 2001.

Gadis berdarah Aceh-Sunda kelahiran 1 Desember 1983 ini sadar, keluarganya begitu fanatik memegang agamanya. Begitu juga keluarga besarnya. Sangat sulit bagi mereka untuk menerima jika salah satu anggota keluarganya menjalani keyakinan lain.

Tapi tekadnya sudah bulat. Ia pun memantapkan keyakinannya dalam pelukan Islam. ''Jauh sebelum saya mengucapkan dua kalimah syahadat untuk masuk Islam, sudah kepikiran nantinya bakal jadi urusan keluarga. Ternyata memang benar.

Semua mualaf mengalamai hal seperti itu,'' ujarnya, di sela-sela shooting untuk acara Jelang Senja Ramadhan (JSR) yang dilakukan Jamaah Syamsu Rizal (JSR) di kediaman Fahmi Darmawansyah, Senin (3/10/2005).

Sarah menemukan Islam di usia belia. Saat itu, rumah tangga orang tuanya di ambang perceraian. Tak ingin kehilangan sandaran, ia mencari pegangan hidup sendiri. Beruntung, ia bertemu sahabat yang benar. Ia kerap mengikuti sahabatnya mengaji di Pesantren Daarut Tauhid yang diasuh KH Abdullah Gymnastiar. Lama-lama, ia menemukan damai dalam Islam.

Islam yang dipelajarinya, adalah Islam yang sejuk. Islam yang mengajarkan bagaimana menata hati. Hal itu bertolak
belakang dengan pemahamannya sebelumnya tentang Islam. ''Karena selama ini saya mendengar bagaimana banyak ustadz ceramahnya hanya mendiskreditkan agama tertentu,'' akunya. Bahkan di hari pertama mengaji, ia sudah menitikkan air mata. ''Ketika itu ada segmen kembali kepada diri kita sendiri atau merenung, saya menangis di situ. Waktu pengajiannya malam setelah shalat Isya.''

Sarah pun ketagihan mengaji pada Aa Gym, walaupun saat itu ia belum menjadi Muslimah. Bahkan, saat temannya yang pertama kali mengajak mengaji mulai jarang datang, ia tetap bersemangat. Ia sengaja mengikuti pengajian di malam hari. ''Takut teman-teman lain yang tahu saya non-Muslim teriak, Sarah, elu ngapain bukan Muslim ada di sini?''
ujarnya. Setelah sangat yakin dengan Islam, ia pun memutuskan masuk Islam. Ia mengucapkan dua kalimat syahadat di Bandung saat masih duduk di bangku kelas tiga SMK, beberapa saat menjelang kelulusan. Karena alasan takut itu, ia pun bersyahadat secara sembunyi-sembunyi.

Hari-hari setelah menjadi Muslimah dilaluinya dengan banyak cobaan. ''Komunitas bermain saya sedikit-demi sedikit
berubah,'' ujarnya. Di sisi lain, ada ketakutan yang sangat akan sikap keluarganya. Lulus SMA, ia pindah ke Jakarta menemani ibunya, Nurmiaty, yang sudah bercerai dengan ayahnya. ''Akhirnya, di sana saya benar-benar seperti ayam
kehilangan induk, karena nggak ada teman. Sementara sejumlah keluarga mama sering datang ke rumah dan mengajak pergi beribadat,'' ujarnya.

Sarah berusaha berkelit untuk tidak pergi dengan berbagai alasan; malas, ketiduran, dan sebagainya. ''Tapi, lama-
lama keluarga saya bisa curiga, kenapa ini anak? Nanti bisa ketahuan.'' Lalu diatur lagi siasat setiap malam Minggu
ia menginap di rumah teman. Sesekali, ia turut ke tempat ibadat agama keluarganya. Namun ia mengunci mulutnya sambil mengucapkan doanya sendiri pada Allah SWT. ''Teman ada yang menegur, 'Sar, kamu kok nggak nyanyi?' Saya bilang, 'Itu lagu baru, saya nggak hafal.' Dalam hati saya sibuk berzikir pada Allah.''

Ia pun selama beberapa tahun sembunyi-sembunyi melakukan ibadah. Pernah suatu hari tas miliknya diperiksa dan
ternyata ada buku panduan shalat di dalamnya. Mengetahui hal ini, ia berujar, ''Buku itu milik teman yang
ketinggalan dan saya bawa.'' Di kalangan teman-temannya, ia tetap mengaku sebagai pemeluk agama lamanya. Begitu pula ketika ia memasuki dunia sinetron. ''Semua kru menganggap saya Kristen. Tapi, ada beberapa teman yang membocorkan bahwa saya ini sudah masuk Islam tapi tidak mau mengaku.''

Ketika masuk waktu shalat, ia melaksanakan shalat sendirian secara sembunyi-sembunyi setelah pemain dan kru lain
selesai shalat. Sejak 2001 sampai memasuki awal tahun 2003, ia beribadah secara sembunyi-sembunyi.

Tabir mulai terbuka pertengahan tahun 2003. Pamannya yang Muslim meninggal dunia. Sama seperti dia, sang paman juga menyembunyikan identitas kemuslimannya. Saat itu keluarga besarnya hampir menguburnya sebagai seorang Kristen, sampai ditemukan identitas yang menunjukkan kemuslimannya. Dari kejadian pamannya itu, Sarah seperti mendapat sindiran dari lingkungan keluarga. ''Makanya kalau agama itu harus jelas. Islam ya ngaku Islam, kalau Kristen ya Kristen. Kalau seperti kejadian ini serba tanggung jadi dikuburnya bingung,'' tandas salah seorang keluarga seakan menohok dirinya.

Namun lagi-lagi, ia tak punya nyali untuk mengaku telah menjadi Muslimah pada keluarganya. Ia hanya berpesan pada
sahabatnya, ''Seandainya saya meninggal, tolong dikuburkan secara Islam. Itu wasiat lisan kepada teman karena soal
umur siapa yang tahu.'' Kini pertimbangannya bukan lagi takut diusir keluarganya. Secara ekonomi, ia sudah mapan. Ia
hanya kasihan pada mamanya, yang pasti akan dihujat keluarga besarnya.

Ia menuturkan, tahun 2003 sebenarnya kabar keislamannya sudah tercium media infotainment. ''Mereka memberitakan Natalia Sarah telah menjadi seorang mualaf,'' ujar pemilik nama Natalia Sarah, namanya sebelum menjadi Muslim.

Untungnya jam tayangnya pagi hari, sehingga tak banyak orang-orang dekatnya yang tahu. Memasuki 2004 berita itu
semakin santer. Keluarganya banyak yang tahu. Tapi mereka diam karena beranggapan nanti bakal balik lagi seperti
artis yang lainnya.

Namun, ''Juni 2005 saya punya keinginan kuat berumrah. Mendengar kabar saya mau umrah, keluarga geger. Mereka pun datang ke rumah untuk menyidang saya,'' ujarnya. Keinginan itu berawal dari sibuknya dia hingga jatuh sakit dan tak berpuasa. Ia sempat pingsan sejenak dan tiba-tiba dia merasa tengah berada di tengah lautan manusia yang sedang berthawaf. Bahkan sampai tersadar, bibirnya masih melafalkan labaika Allahumma labaika. ''Sejak hari itu saya
menabung dan meniatkan berumrah.'' Ketika hendak berangkat, Sarah menemui keluarganya dan sempat menangis. Ia berujar lirih, ''Ya Allah, masak saya tidak boleh untuk menginjakkan kaki ini ke Tanah Suci-Mu.'' Kini, keluarga besarnya sudah memahami pilihannya memeluk Islam. Mereka menghormati. Begitu juga mama dan adik-adiknya. Ia sungguh bersyukur. Dan pada 6 April 2007 lalu, Sarah dinikahi oleh Abdullah Rizal. Baik Sarah dan Ijal, kini bertambah kebahagiaan karena hadirnya si jabang bayi. (sumber: Dokumentasi Republika)

Natalie Sarah

Tanggal Lahir : 1 Desember 1983
Pekerjaan : Bintang Sinetron dan Presenter
Aktivitas : Anggota pengajian Jamaah Syamsu Rizal (JSR)

Allah SWT memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki. Begitulah yang terjadi pada diri Cindy Claudia Harahap, putri sulung dari musisi veteran Rinto Harahap. Saat usia belasan tahun, Cindy terombang-ambing hidup di tengah-tengah keluarga Muslim dan non-Muslim. Keluarga ayahnya non-Muslim sementara keluarga dari ibu beragama Islam. Suatu saat, sekitar tahun 1991, penyanyi kelahiran Jakarta, 5 April 1975 ini sedang tiduran tengah malam di atas rumput halaman asrama di Australia.

Saat itu, Cindy bersama sahabat karibnya yang juga artis papan atas Indonesia, Tamara Blezinsky, sedang menempuh pendidikan di St Brigidf College. Setiap hari mereka ngobrol karena hanya mereka berdua orang Indonesia. Mereka juga mempunyai kondisi yang sama tentang orang tua. Suatu malam Cindy benar-benar diperlihatkan keagungan Allah. Ketika memandang ke langit yang cerah terlihat bulan sabit yang bersebelahan dengan bintang yang indah sekali.

''Saya bilang sama Tamara, kayaknya saya pernah lihat ini di mana ya, kok bagus banget. Kayaknya lambang sesuatu, apa ya?'', kenang penyanyi dan pencipta lagu ini. Tamara menjawab kalau itu lambang masjid. ''Jangan-jangan ini petunjuk ya kalau kita harus ke masjid,'' jawab Cindy selanjutnya. Ia memang jarang sekali melihat masjid selama di Australia. Cindy pun berfikir dan mengajak Tamara masuk Islam.

''Suatu hari saya terpanggil untuk memeluk agama Islam,'' kata sulung tiga bersaudara. Setelah kembali ke Indonesia, Cindy dan Tamara pun lama berpisah. Saat kemudian bertemu di Jakarta, ternyata mereka sudah sama-sama menjadi mualaf. Pelantun tembang melankolis ini mengungkapkan inti dirinya masuk Islam lebih pada panggilan jiwa dan hati. Karena, lanjutnya, orang memeluk agama itu sesuatu yang tidak bisa dipaksakan, tergantung masing-masing orang.

Selain dari diri sendiri adakah pihak lain yang mempengaruhi? Cindy mengatakan selain mamanya juga Mas Thoriq (Thoriq Eben Mahmud, suaminya). Dari awal saat pacaran, Cindy banyak belajar tentang Islam dari Thoriq, laki-laki keturunan Mesir. Mereka sering berdiskusi dan Thoriq pun menjelaskan dengan bijaksana dan kesabaran. Menurut Cindy, Thoriq tidak pernah memaksanya bahkan dia sering membelikan buku-buku tentang Islam.

''Terkadang kayak anak TK dibelikan juga buku cerita yang bergambar. Tapi justru jadi tertarik, sampai akhirnya saya dibelikan Alquran dan benar-benar saya baca apa artinya,'' tutur artis yang menikah 4 juli 1998. Cindy melisankan Dua Kalimat Syahadat di hadapan seorang guru agama Islam SMA 34 Jakarta. ''Di sebuah tempat yang sangat sederhana, tepatnya di mushalla kecil sekolah itu, saya mulai memeluk Islam,'' katanya.

Dalam proses mempelajari Islam, istri mantan pilot Sempati ini mengakui tidak menghadapi banyak kendala yang berarti, cuma memang harus menyesuaikan diri. Cindy sudah terbiasa melihat ibadah keluarganya yang beragama Islam. Bahkan sebelum masuk Islam, ia sudah sering ikut-ikutan puasa.

Dalam belajar mengaji, Cindy mendatangkan ustad ke rumah. Pada awalnya memang ada kesulitan, tapi akhirnya bisa berjalan lancar. Cindy mengatakan, keluarganya sangat toleran terhadap agama karena pada dasarnya semua agama itu sama, mengajarkan yang baik hanya caranya yang berbeda-beda. ''Papa pernah bilang apapun agama yang saya putuskan untuk dianut itu terserah.

Yang penting dilaksanakan dengan sungguh-sungguh,'' ujar artis yang sedang syuting sinetron untuk Ramadhan mendatang. Sebelumnya, Cindy sempat berfikir menjadi Muslimah sepertinya repot sekali. Kalau mau masuk masjid untuk shalat, misalnya, harus wudhu dan harus pakai mukena dulu. ''Mau shalat saja harus repot. Apalagi ada bulan Ramadhan yang harus puasa.

Saya sempat berfikir kalau Islam agama yang repot,'' ujar ibu dua anak bernama Sabrina Aisya Putri dan Aprilia Omar Syarif ini. Setelah mempelajari Islam dengan benar, Cindy menyadari itulah kelebihan Islam bila dibandingkan dengan agama lain. ''Kalau kita hendak menghadap Allah, kita harus benar-benar dalam kondisi yang bersih.

Bersih jiwa dan bersih diri,'' tuturnya. Cindy mengungkapkan, alangkah bahagianya kita sebagai umat Islam dikasih bulan ramadhan, di mana kita diberi kesempatan untuk membenahi diri. ''Menurut saya, bulan Ramadhan itu bulan bonus dan setiap tahun saya merasa kangen dengan Ramadhan''.

Selama ini Cindy selalu berusaha membagi waktu sebisa mungkin tidak meninggalkan ibadah. ''Kalau kita ada waktu ya ibadah harus dilakukan. Cuma saya tidak munafik, sebagai manusia masih harus berusaha agar ibadah tidak bolong dan tetap lancar,'' penyanyi yang sudah menelorkan enam album ini menuturkan. Ia mengakui bila jadwal syuting padat, ibadah shalat suka terlewatkan.

Tapi bila sedang berada di rumah, bersama suami menunaikan shalat jamaah. Cindy pun sejak dini memperkenalkan kepada anaknya kehidupan agama dengan memasukkan anak pertamanya ke TPA (Tempat Pendidikan Alquran) di masjid dekat rumah. Cindy mengisahkan beberapa bulan setelah menikah diberi hadiah pernikahan oleh mertua berupa umrah bersama suami.

Ia merasa sangat berkesan saat pertama melihat Ka'bah karena sebelumnya hanya disaksikan lewat televisi atau gambar saja. Waktu itu, Cindy berangkat umrah bulan Ramadhan dan ia sedang hamil enam bulan. Cindy mengaku justru bisa menunaikan ibadah puasa di sana yang tadinya di Jakarta tidak bisa puasa. ''Alhamdulillah, sampai di sana tidak ada kendala atau kejadian buruk apapun,'' kata penyanyi yang sedang mempersiapkan album bernuansa dakwah.


DATA PRIBADI
Nama: Cindy Claudia Harahap
Kelahiran: Jakarta, 5 April 1975
Nama ayah: Rinto Harahap
Anak: Sabrina Aisya Putri, Aprilia Omar Syarif, Suami: Thoriq Eben Mahmud
Menikah: 4 Juli 1998
Pendidikan: - High School, St Brigidf College, Australia - Universitas Indonesia Esa Unggul (sampai semester III)
Sinetron: - Bidadari yang Terluka
Album: - Aku Sayang Padamu - Berdua - Cuma Buat Kamu - Mengapa Sampai Berpisah - Salahkan Aku (Penulis c12/

Dokumentasi REPUBLIKA/30 Agustus 2002)



Sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/09/01/08/24876-cindy-claudia-hidayah-dari-bulan-dan-bintang

TERUNTUK istriku tersayang, Ummi Shalihah dalam perjuangan mewujudkan ideal ismenya.
Alhamdulillah, alhamdulillah wa ba'da dzalika alhamdulillah... Puji syukur atas kemurahan Allah yang masih deras mengucurkan rahmat-Nya mengiringi langkah-langkah rumah tangga kita hingga hari ini. Betapa besar kasih sayang dan kelembutan-Nya pada diri kita, sehingga la masih berkenan memberikan hidayah kepada kita, meski ibadah tak sepadan dengan limpahan nikmat yang tak terhitung jumlahnya.

Mi, tak terasa cukup lama kita rajut untaian benang rumah tangga kita. Ada tawa dalam canda, senyum dalam duka dan air mata bahagia. Meski tak jarang, seringkali kulihat engkau menahan tangis dan menyimpannya jauh dalam hatimu ketika menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Tangisan hanyalah kelegaan sementara dan tidak akan menyelesaikan permasalahan. Yang kita lakukan adalah mencari solusi mengatasi persoalan tersebut, bukan menangisinya. Demikian ujarmu meghibur diri dengan nafas panjang dan seulas senyum kegetiran.

Mi, aku masih ingat saat itu. Engkau menghela nafas sambil menatap laci lemari yang kosong melompong. Laci itu memang menjadi saksi bisu manakala rizki kita mengalir, juga ketika tak ada rizki yang mampir. "Nggak ada uang ya Bi.." desismu lirih. Kamu pun duduk di sampingku dan menemaniku menekuri lantai semen kamar kita berdua, diiringi dengkuran halus kedua anak kita yang masih balita. Kita pun hanya diam. Larut dalam pikiran kita masingmasing.

Uang kita habis Mi. Saat itu memang kita tak punya uang kecuali beberapa recehan dan tiga lembar seribuan di dompetku. Tak ada uang tersisa di laci lemari kita. Barangkali, kita terlalu jelas mendefinisikan 'tidak ada', sehingga 'tidak ada' bagi kita adalah nol rupiah atau kosong melompong. Namun bukan berarti kita tidak punya rizki hari itu. Allah masih memberikan nikmat yang tak terhingga jumlah dan kualitasnya. Sayangnya, kita sering merumuskan rizki itu dengan uang dan materi. Padahal desah nafas, berfungsinya organ-organ tubuh kita dengan baik, sehatnya anak-anak dan diri kita adalah rizki yang luar biasa besarnya.

Mi, rizki materi milik kita sudah tertakar rapi sesuai dengan kadar kebutuhan yang ditetapkan oleh-Nya. Selama kita tak berpangku tangan, terus berusaha, berdoa dan bertawakkal, kita yakin rizki kita tak akan lari kemana-mana. Lantaran itulah aku yakin kamu tidak akan menyesal menikah denganku. Tempaan tarbiyah telah mengajarimu tentang hal itu dan kamu pun lebih tahu bagaimana kehidupan rumah tangga akhwat yang bersuamikan ikhwan sepertiku.

Kita memang masih jauh dari ukuran kemapanan clan penghasilan yang ideal. Bukan berarti karena kita mengabaikan begitu saja lowongan pekerjaan serta peluang yang tersebar itu. Melainkan karena kita begitu selektif dalam memilih ladang rizki. Bagi kita, pekerjaan tidak lepas dari perhitungan-perhitungan syar'i termasuk kadar ikhtilat di dalamnya. Masih terekam dalam memoriku ketika seorang kerabat menawarimu posisi strategis di kantornya karena melihatmu yang berpotensi dan lulusan S1 cumlaude yang masih nganggur. Syaratnya, asalkan kamu mau merubah tampilan jilbab dan jubah lebarmu supaya terlihat Iebih modis dan cantik. Kamu pun menolak dengan santun.

Mi, perjalanan iqamatuddin itu panjang, seperti rentangan garis lurus yang tak bertepi. Kata orang Matematlka, garis itu adalah himpunan titik-titik. Kamu bisa membayangkan, berapa milyar titik yang dlbutuhkan untuk membentuk sebuah garis, apatah lagi jika garis Itu tak terhingga panjangnya.

Titik-titik yang terhimpun di sepanjang garis Itu pada hakikatnya adalah cobaan dakwah kita. Begitu banyak dan njlimet. Lihatlah perjalanan iqamatuddin para Nabi dan Rasul serta pengikut-pengikutnya, betapa beragam cobaan dakwahnya, Mi. Hal itupun akan datang pada kita sebagaimana mereka mengalaminya. Mihnah (cobaan) dakwah diberikan oleh Allah untuk mengukur konsistensi kita. Bukankah AI-Qur'an telah memberi kabar itu.

"Apakah kamu menglra bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka dltimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta dlgoncangkan dengan bermacam-macam cobaan sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat, (QS. AlBagarah : 214)

Kita baru dicoba oleh Allah pada titlk kenyataan sosial yang klta hadapi. Tarikan-tarikan sosial yang menguji keyakinan dan cita-cita, memang kerap muncul di tengah rumah tangga ikhwan-akhwat yang mencoba hidup mandiri dan menentukan jalan hidupnya sesuai dengan manhaj dan sunah Rasul-Nya. Berapa banyak diantara kita terpaksa mengalaml "perang dingin" dengan mertua atau keluarga dekat lainnya, lantaran mereka menganggap kita lain jika dibandingkan dengan kehidupan keluarga pada umumnya.
Mereka tldak salah Mi, karena kenyataannya memang demlklan. "Frame" berplklr kebanyakan masyarakat kita telah dibentuk oleh alam materialisme, sehingga terkadang mereka I upa terhadap nilai sebuah rumah tangga yang seharusnya. Kita harus kuat menerima kenyataan ini tanpa perlu bersitegang dengan mereka. Yang penting, klta berupaya mewujudkan sebuah rumah tangga yang sakinah di atas nilai-nilai yang klta pahaml dan yakini kebenarannya.

Mi... semua yang kita alami, hanyalah sepersekian dari rencengan mihnah yang akan klta hadapi. Belum ada apa-apanya jika dlbandingkan dengan saudara-saudara klta di Afghanistan, Palestina dan tempat-tempat lain yang tengah ditindas. Mereka kokoh dan tegar, bertahan dan berjuang. Bahkan dari merekalah ruhul jihad menggetarkan dan menggemuruhkan dada umat Islam dl belahan buml yang lain. Apalagi jika klta mau membandingkannya dengan Rasulullah dan para shahabat yang meletakkan asas di tengah-tengah kejahillyahan. Rasanya, malu untuk mengatakan bahwa kita tengah dicoba
Sabar ya Mi, bukankah karena kesabaranlah, para malaikat memasuki tempat-tempat di jannah dari semua pintu; seraya mengucapkan: "Salamun 'alaikum bima shabartum (kesela ma ta n atasmu, berkat kesabaranmu)" (QS Ar-Ra'du:24)... Semoga Allah mengumpulkan kita di Istana Firdaus-Nya yang indah, ya Mi.. .

Sumber : http://nurisfm.blogspot.com/2012/07/sepucuk-surat-untuk-istri.html

Membangun rumah tangga muslim merupakan ibadah. Dasar membangun rumah tangga adalah keikhlasan karena perintah Allah SWT dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW, bukan hanya ingin mendapatkan pasangan hidup.

Dalam pelaksanaannya pun seperti apa yang dicontohkan Rasulullah SAW, bukan dengan cara-cara lain yang dilarang.

Sedangkan tujuan akhir dari pembentukannya adalah hanya untuk mencari keridhaan Allah SWT, bukan kedudukan, harta atau keridhaan manusia. Karena itulah perlu adanya usaha ekstra, baik dalam mempersiapkan, memasuki gerbangnya dan berjalan diatas keagungan nilainya.

Kehidupan sebuah rumah tangga dapat diumpamakan sebagai sebuah bahtera. Keselamatan bahtera itu sangat tergantung dari kewaspadaan para penumpang diatasnya. Rasulullah saw memberikan gambaran bagaimana seharusnya hidup bersama dalam berumah tangga.

Rasulullah saw bersabda: "Perumpamaan orang-orang yang menjaga batas-batas Allah SWT dengan mereka yang melanggarnya, bagaikan satu kaum yang menaiki sebuah bahtera. Sebagian mendapat tempat di atas dan sebagian lagi di bawah".

Dalam mengarungi samudra kehidupan terkadang bahtera itu miring ke kiri dan ke kanan. Satu saat tenang, dan di saat lain dihempas gelombang. Untuk itulah sejak awal bahtera harus dipersiapkan dan diperkuat di segala sisinya. Caranya adalah dengan selalu menjaga langkah agar tidak keluar dari tujuan asasinya serta selalu menjaga keutuhan dan kesejahteraan keluarga.

Kesejahteraan keluarga bukanlah terletak pada aspek fisik materi, tapi keterikatan anggota keluarga dengan aqidah, ibadah, akhlak dan pergaulan Islam, hingga seluruh kehidupan terwarnai dengan identitas Islam secara utuh.

Bagaimana kehidupan yang islami, dapat kita lihat dari suri tauladan kita Rasulullah saw. Karena Allah SWT sendiri telah menyatakan dalam Al-Qur'an : "Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari akhir dan dia banyak mengingat Allah." (QS 33: 21)

Kita bisa mencontoh bagaimana Beliau salat dan beribadah, makan, minum, tidur, menjalin sillaturrahmi dengan para sahabatnya, dan sebagainya। Semoga dengan mencontoh perikehidupan Nabi SAW, kita juga bisa membangun keluarga terbaik dengan keridhaan dari Allah SWT.


Oleh Pramana Asmadiredja
http://pkspesanggrahan.blogspot.com/2012/03/oleh-tarwiyah-membangun-rumah-tangga.html

Pernikahan adalah ibadah. Ia tidak sekedar upacara untuk mengumumkan kepada masyarakat mengenai status pernikahan.

Niatkan bahwa pernikahan sebagai wujud pelaksanaan ketaatan kepada Allah SWT dan RasulNya. Jadi dalam pernikahan ada sebuah amanah, langsung dari Allah dan Rasul-Nya.

Tekadkanlah dalam hati, sejak dari awal, untuk menjaga amanah ini hingga ajal tiba. Ini menjadi amat penting dalam proses kehidupan pasangan suami istri (Pasutri) selanjutnya. Karena dengan menempatkan niat dan tekad itu, Allah SWT akan selalu berkenan hadir dalam kehidupan pasutri selanjutnya, baik dikala gembira maupun disaat duka.

Al Quran mengajarkan kepada kita semua bahwa melalui pernikahan seharusnya terwujud suasana kasih sayang, sebuah kebahagiaan, sebuah oase surgawi di dunia. Keluarga adalah sebuah wahana untuk mewujudkan kebahagiaan bukan yang lain atau sebaliknya.

Berkeluarga adalah sebuah komitmen untuk mewujudkan kebahagiaan. Sungguh tidak mudah mendefinisikan kebahagiaan namun jelas bahwa ia berlawanan dengan kekecewaan, kesedihan, kegelisahan, kelesuan, kegaluan dan sejenisnya.

Kebahagiaan adalah nuansa atau karakteristik surgawi dan oleh karenanya kepemilikannya oleh manusia amat tidak disukai oleh Iblis. Sebagai musuh abadi manusia, Iblis sang pewaris neraka akan terus merongrong kebahagiaan yang menjadi milik manusia, anak keturunan Adam, para calon pewaris surga.

Salah satu benteng terkuat untuk menjaga kebahagiaan pasutri dalam keluarga dari rongrongan itu adalah kemaafan. Bukalah pintu kemaafan selebar-lebarnya dan selama-lamanya karena ia akan mencegah masuknya kemarahan, awal dari intervensi Iblis dalam menghancurkan kebahagiaan anak-anak Adam.

Karena setiap pasutri mempunyai karakteristik sendiri-sendiri yang unik, lengkap dengan kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Melalui pernikahan ini hendak dipersatukan dalam sebuah rumah tangga. Konsekuensinya adalah bahwa kesalahpahaman adalah sebuah keniscayaan. Karena itu membuka pintu maaf seluas-luasnya adalah salah satu resep abadi dan ampuh dalam membangun rumah tangga bahagia.

Agama mengatur tanggung jawab, peran dan fungsi pasutri dalam kehidupan berkeluarga. Sempurnakanlah dan tunaikanlah hal tersebut dalam perjalanan membangun rumah tangga yang akan dirahmati dan diberkahi oleh Allah SWT. Wallahua’लम

http://pkspesanggrahan.blogspot.com/2012/03/pernikahan-adalah-ibadah.html
-

Ditulis oleh: Cecep Y Pramana


Jika semua bahtera dunia menjadi nyata
Betapa indah tepa selira
Saling dukung tuk menumbuhkan Cinta
Menggapai ridha dari Sang pemilik Cinta

Jika saja cinta tak pernah ada dalam kamus hati
Niscaya tak kan berarti diri berdekat Ilahi
Semua manusia bersatu janji
Sujud padamu wahai sang Rabbi

Jika saja berandai-andai bukan barang haram
Tak kan kulepas semua khayalan
Namun semua bukanlah kenyataan
Karena hanya amal yang membuktikan

Wahai Rabb Dzat pemilik Iqab
RahmatMu terbentang tak berbataskan
Bagi setiap hamba yang mengharapkan
CintaMu luas meliputi langit dan Bumi
KaryaMu nyata bagai surya di jagad raya
Ampuni hamba yang terlelap dosa
Berderap langkah dengan banyak manusia
Diatas keterbatasan segala daya

Wahai Al-Jaliil pemilik ghafur
Izinkan hamba sujur tersungkur
Tanda rasa cinta beriring syukur
dihadapanMu memuji syukur
Atas rahmat yang Engkau tabur

Semoga Cinta menjadi bunga
Sahabat menjadi pemicu Asa
Semerbak di hati setiap manusia
Mengawal panji sang Maha Esa

Wahai Rabb, dekatkan cinta dari hati ini
Pada setiap manusia yang memujiMu
Tumbuhkan ia dengan cintaMu
Pada sesama saudara yang mencintaiMu

Biarlah cinta menjadi saksi
Pada setiap manusia yang Engkau ridhoi
Jika menuntun kami pada jalanMu ke Surga nanti

Ya Rabb
Jauhkanlah benci dari hati kami
Wahai Dzat pemilik Rahman
Andai ia hanya mampu berkaca diri tanpa mampu berbaik diri

Sayangilah saudaraku yang akan melangsungkan resepsi Cinta
Yang karena cintanya pada Engkau
Ampunilah saudaraku jika mereka terselip dosa
Hingga ajal menjemput nanti

Kumpulkan kami di SurgaMu nanti
Sungguh indah dan Adil Engkau wahai Dzat pemilik segala iradah
Engkau ciptakan Cinta dan Benci
Penghias hidup sebelum mati
Tumbuhkanlah keduanya ya Allah

Dalam bahtera suci
Dalam bahtera cinta
Dalam mahligai rumah tangga
Jadikanlah kami orang yang mencintai
Dan membenci hanya karena Engkau

Sumber: dakwatuna.com
-

Gelisah, duka dan air mata adalah bagian dari sketsa hidup kita di dunia. Tetesan air mata yang bermuara dari hati dan berselaputkan kegelisahan jiwa terkadang memilukan, hingga membuat keresahan dan kebimbangan hadir memenuhi rongga kehidupan.

Disaat hatinya ‘galau’ menanti pangeran ataupun bidadari yang tidak kian datang, tanganpun membentangkan sajadah setiap malam. Duka yang datang karena kerinduan yang sangat mendalam menyebabkan kepedihan yang menyesakkan rongga dada.

Jiwa yang rapuh bisa berkisah pada alam serta isinya. Lalu ia bertanya, dimanakah pasangan jiwanya berada, apakah akan datang hari ini, esok, lusa atau kapan?. Lalu, hati pun menciptakan serpihan kegelisahan, bagaikan anak kecil yang hilang dari ibunya di tengah keramaian.

Keinginan yang kuat untuk bertemu pangeran dan bidadari serta belahan jiwa, bukankah itu sebuah fitrah dari manusia? Allah SWT berikan itu semuanya. Semua itu hadir tanpa disadari sebelumnya, hingga tanpa sadar telah menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan.

Dan sebuah fitrah pula jika setiap wanita ingin menjadi seorang istri dan ibu yang baik bagi anak-anaknya ketimbang menjalani hidup dalam kesendirian. Dengan sentuhan kasih sayang dan belaiannya, akan terbentuk jiwa-jiwa yang shaleh dan shalehah.

Dan setiap pria ingin menjadi seorang suami dan ayah yang bertanggungjawab bagi anak-anaknya daripada memikirkan kehidupan yang di jalani dalam kesendirian. Dengan sentuhan motivasi dan jiwa kesatria, akan terbentuk pribadi-pribadi terbaik dan mumpuni.

Wahai jiwa yang gelisah, janganlah dirimu selalu bersedih dan menangis di setiap penghujung malam, karena hanya tak kunjung usai memikirkan siapa kiranya pangeran dan bidadari belahan jiwa dan hatinya.

Menangislah karena air mata permohonan kepadaNya di setiap sujud dan keheningan pekat sepertiga malam. Jadikan hidup ini selalu penuh dengan harapan baik dan keridhaan kepada Sang Pemilik Jiwa, Allah Rabbul Izzati.

Bersiap menghadapi putaran waktu, hingga setiap gerak langkah serta helaan nafas bernilai ibadah kepada Allah SWT. Siramlah selalu hati ini dengan tarbiyah Ilahi, hingga diri ini tidak sepi dalam kesendirian yang terus panjang. Karena pastinya akan menemukan kedamaian dan kesejukan hati.

Wahai jiwa yang sedang gelisah, bukankah jika sudah saatnya tiba, maka ‘jodoh’ tak akan lari kemana. Dia tidak akan salah jalan atau salah menemukan pasangannya. Karena sejak ruh telah menyatu dengan jasad, siapa belahan jiwamu pun telah dituliskanNya, hanya ikhtiar pembangkit motivasi jiwa.

Bukankah mentari akan selalu menyinari sekaligus menghiasi pagi dengan kemewahan dan kegagahan sinar keemasannya. Malam masih indah dengan sinar lembut rembulan yang dipagar bintang gemintang. Hari-hari terbaik akan selalu menjadi belahan jiwa kita, menemani dan menanti datangnya sang pangeran dan bidadari pujaan hati dan belahan jiwanya.

Rabbana hablana milladunka zaujan thayyiban wayakuna shahiban lii fiddini waddunya wal akhirah 'Ya Tuhan kami, berikanlah kami pasangan yang terbaik dari sisiMu, pasangan yang juga menjadi sahabat dalam urusan agama, urusan dunia dan akhirat'. Wallahua'lam

Oleh Pramana Asmadiredja
-