Slider
Diberdayakan oleh Blogger.
Arsip Blog
-
▼
2014
(83)
-
▼
September
(12)
- FINAL UPDATE Jadual Pemberangkatan dan Pemulangan ...
- Pelepasan Kloter I Jamaah Calon Haji SOC
- Pemerintah Arab Saudi Larang Jamaah Haji Memasak d...
- Keluarga Besar Bpk.Priyo Budi Santoso (Wakil DPR-RI)
- DR.Ito Sumardi,SH,MH,MBA,Komjen Polisi,Purn
- DR.Letjen (Purn) Nono Sampono (Mantan Komandan Pas...
- KH. DR. Ma'ruf Amin (Ketua MUI Pusat) Beserta Kelu...
- DR. Syamsul Ma'arif (Hakim Agung RI)
- Perjalanan Umroh Jamaah Sahara Kafila 2 Mei 2013
- Perjalanan Umroh Jamaah Sahara Kafila 15 Mei 2013
- Perjalanan Umroh Jamaah Sahara Kafila 3 Juni 2012
- Perjalanan Umroh Jamaah Sahara Kafila 23 April 2013
-
▼
September
(12)
Berita Haji dan Umroh
Alumni Sahara Kafila
Racing
Video Perjalanan Umroh Sahara Kafila
![]() |
Cover buku “Assalamualaikum Beijing!” |
Penulis: Asma Nadia
Penerbit: Noura Books
Cetakan: Pertama, Oktober 2013
Tebal: x + 344 halaman
ISBN: 978-602-1606-15-5
Perjuangan Hidup Gadis Penderita APS
dakwatuna.com – Asma adalah gadis enerjik yang periang sebelum serangan stroke melumpuhkannya. Tapi ternyata, itu baru awal, karena setelahnya dia mengalami serangan jantung dan pingsan berkali-kali. Hingga kemudian diketahui dari hasil pemeriksaan darah bahwa Asma menderita APS—Antiphospholipid Syndrome atau sindrom pengentalan darah. Sederhananya, APS adalah penyakit autoimun yang terjadi karena darah terlalu cepat mengental. Jika darah mengental di ginjal, yang terjadi adalah penderita APS akan terkena penyakit ginjal. Jika pengentalan darah terjadi di mata, mata akan mengalami gangguan penglihatan sampai kebutaan. Asma sendiri mengidap APS Primer, artinya sindrom tersebut akan selamanya berada dalam tubuh (hal. 162-163).
Penyebab APS memang belum bisa diketahui secara pasti. Bisa karena faktor genetik, merokok, mobilitas tinggi, seperti perjalanan panjang dengan pesawat lebih dari enam jam, dehidrasi, dan pil KB (hal. 184).
Sejak saat itulah, hidup Asma seolah jungkir-balik. Dia terpaksa keluar dari pekerjaannya sebagai reporter dan harus lebih sering berbaring istirahat sambil rutin meminum dan disuntik obat pengencer darah. Hubungan cintanya kandas, karena sang pacar justru menikahi gadis lain. Sementara itu, orang yang melimpahinya dengan curahan kasih dan perhatian hanyalah Mama dan Sekar, sahabatnya.
Kehadiran dua orang itu menambah kuat ketahanan diri Asma. Kesadaran betapa semakin kaburnya jarak yang tercipta antara dia dan kematian, memacu semangat gadis itu. Dia semakin gila membaca dan rajin menulis. Asma tidak melawan penyakitnya itu, tapi justru menikmatinya dengan cara memberikan semangat dan membangun persahabatan dengan sesama penderita APS. Dia rajin mengirim catatan doa-doa untuk diamalkan pasien-pasien penderita APS, karena menurutnya, “Doa selalu menenangkan dan memberikan harapan.” (hal. 244).
Hingga suatu ketika, Asma mendapat kunjungan dari Zhongwen, pemuda Tionghoa yang dikenalnya saat meliput berita di Beijing. Pemuda itu mengaku sangat terkesan dan banyak belajar dari kepribadian Asma selama pertemuan mereka di Beijing yang dilanjutkan komunikasi via internet. Dia bahkan memperoleh pencerahan agama setelah banyak berdiskusi dengan Asma. Kunjungan pemuda itu ke Jakarta adalah untuk melamar Asma menjadi istrinya, meski akhirnya dia tahu kalau Asma menderita APS (hal 301).
Tepat setelah ijab kabul pernikahan, Asma justru kembali terkena serangan stroke yang selanjutnya membuat dia kehilangan banyak memori dan sukar bicara. Tapi Zhongwen tidak berpaling. Dia tetap menemani Asma, menyemangati, dan mendoakannya. Setelah keadaan Asma membaik, mereka bahkan dapat berbulan madu ke Beijing, melakukan napak tilas pertemuan mereka dulu (hal. 326).
Pada akhirnya, novel ini dapat dijadikan penyemangat dan wujud empati bagi saudara-saudara yang berjuang dengan APS, maupun sindrom atau penyakit lainnya.
Sumber : http://www.dakwatuna.com/2014/05/14/51212/assalamualaikum-beijing/
Resensi Buku
![]() |
Cover buku “Fiqih Negara”. |
Terjemahan: Fiqih Negara
Penulis : Dr. Yusuf Qardhawy
Penerjemah: Syafril Halim
Penerbit: Robbani Press – Jakarta
Tebal : 260 Halaman
Islam adalah agama paripurna yang mengurusi seluruh aspek kehidupan manusia. Mulai dari yang sederhana hingga hal paling rumit. Mulai dari hal terkecil, hingga hal yang terbesar. Islam tidak hanya mengatur kehidupan individu, tetapi juga dalam kehidupan bertetangga, bermasyarakat hingga bernegara. Semua hal ini, telah dicontohkan dengan sangat baik oleh pribadi Rasulullah saw.
Terkait kehidupan bernegara, meskipun sudah dicontohkan dengan sangat baik oleh Rasulullah dan pendahulu terbaik umat ini, kaum muslimin masih berdebat dan berbeda pendapat tentangnya.
Ada kubu yang menganggap bahwa kaum muslimin hanya boleh terjun ke pemerintahan dalam sistem Khilafah. Ada juga yang memilih untuk bertarung dalam sistem apapun demi kemanangan Islam. Pihak lain, justru mengharamkan hal itu karena bukan sistem Islam. Anehnya, jika kemudian kaum muslimin dirugikan, mereka ikut melakukan protes. Padahal, ketika diberi opsi untuk ikut serta secara aktif dalam memenangkan kekuatan kaum muslimin melalui berbagai jalur pemerintahan, kelompok ini merasa enggan. Bahkan, mengharamkannya.
Sehingga, kajian tentang bernegara ini perlu untuk terus digalakkan. Tentu, dengan merujuk kepada sumber primer yakni al-Qur’an, hadits, dan ijma’ ulama’. Karena, pengaturan kehidupan bernegara ini, bukan kreasi gerakan Islam (pendiri dan aktivisnya), tapi merupakan kajian dari teks-teks Islam yang tegas, fakta sejarah yang tidak akan berubah dan karakter dakwah Islam yang komprehensif. (h. 5)
Kajian tentang fiqh Negara ini, setelah membahas tentang asalnya, maka selanjutnya adalah tentang rambu-rambu negara yang dibangun oleh Islam. Negara yang dibangun oleh Islam adalah: negara madani bersumberkan Islam, negara Internasional, negara konstitusional berdasarkan syariat, negara musyawarah bukan kerajaan, negara petunjuk bukan negara pengumpul harta, negara pelindung kaum dhuafa, negara hak asai dan kebebasan, negara prinsip dan moral.(h. 29-58)
Selain rambu-rambu, penting juga untuk dimengerti tentang karakter negara dalam Islam itu sendiri. Pengetahuan tentang karakter ini amatlah penting. Sehingga kita bisa mengetahui tentang mana jalan yang harus ditempuh dan jalan yang harus dihindari.
Bahwa negara Islam bukanlah negara agamawan yang pernah berkuasa di Eropa. Yakni kekuasaan absolut atas nama agama yang kemudian berdampak buruk bagi kesejahteraan masyarakat. Hanya demi kepentingan pribadi dan golongan pengusungnya. Hal inilah yang terus dibisikkan oleh musuh-musuh Islam sehingga kaum muslimin merasa anti dan kemudian memusuhi sesamanya yang berjuang dalam jalur pemerintahan.
Selanjutnya, di dalam buku ini juga dibahas tentang berbagai sistem pemerintahan yang ada saat ini. Mulai dari sistem multipartai, pencalonan wanita untuk dewan perwakilan, hukum berpastisipasi dalam pemerintahan non-Islam, juga tentang bagaimana hukumnya mencalonan non-Muslim untuk menjadi anggota dewan perwakilan rakyat.
Kajian dalam buku ini, sangat layak untuk dilirik. Jika memang ada yang tak tertarik untuk membahasnya lebih jauh. Syukur-syukur, jika ijtihad penulisnya dalam buku ini, ada yag bisa melengkapi, mengoreksi ataupun membandingkannya dengan ijtihad lain berdasarkan al-Qur’an dan sunnah.
Pasalnya, saat ini, kaum muslimin lebih sibuk untuk membahas perbedaan cara ibadah dan khilaifyah lainnya, dibanding sibuk mengurus negara. Padahal, jika Islam berkuasa, seluruh agama akan dinaungi dalam keadilan dan kesejahteraan. Ini bukan retorika, tapi sudah dibuktikan dalam tinta emas sejarah.
Resensi Buku
Judul: Khadijah, The True Love Story of Muhammad
Penulis: Abdul Mun’im Muhammad
Penerbit: Pena (Ilmu dan Amal)
dakwatuna.com – “Aku tidak pernah merasa cemburu kepada seorang wanita sebesar rasa cemburuku kepada Khadijah. Aku tidak pernah melihatnya, tetapi Rasulullah sering menyebut dan mengingatnya. Ketika menyembelih seekor kambing, beliau selalu memotong sebagian dagingnya dan menghadiahkannya kepada sahabat-sahabat Khadijah. Aku pernah berkata kepada Rasulullah, ‘seperti tidak ada wanita lain di dunia ini selain Khadijah’. Rasulullah menjawab, ‘Khadijah itu begini dan begitu dan dari dialah aku memperoleh anak.’” (Kisah Aisyah mengenai Khadijah).
Dalam buku ini, dikisahkan kehidupan Khadijah mulai dari sebelum menikah dengan Rasulullah sampai Khadijah wafat pada tahun kesedihan Rasulullah. Dijelaskan bahwa Khadijah merupakan seorang wanita yang sangat halus hatinya, pandai menjaga kehormatan, pandai menjaga harta dan dermawan. Khadijah tak pernah sekalipun melakukan penyembahan terhadap berhala, ia masih menjaga kepercayaan murni dari ajaran nabi Ibrahim. Sosok wanita yang diberi gelar “wanita yang suci” (Thahirah) ini pun terpesona dengan kepribadian nabi Muhammad yang diberi gelar al-Amin (Terpercaya) dan merupakan pemuda yang sangat disanjung-sanjung oleh masyarakat Mekah saat itu. Diantara lamaran yang silih berganti datang kepadanya, Khadijah berkeinginan untuk menikah dengan Muhammad. Bukan dari ketampanan dan kepiawaian nabi Muhammad dalam melakukan perdagangan melainkan karena akhlak mulia yang senantiasa dijaga oleh nabi Muhammad.
Melalui pendekatan yang dilakukan oleh Nafisah kepada nabi Muhammad bahwa ada seorang wanita yang paling cocok ia nikahi yaitu, Khadijah. Kemudian Khadijah mengundang nabi muhammad untuk hadir ke kediaman Khadijah dan dengan berani Khadijah memberi tahukan keinginannya untuk menikah dengan nabi Muhammad. Sifat ini memperlihatkan bahwa Khadijah merupakan wanita yang mampu mengurusi urusan-urusannya sendiri. Dan akhirnya nabi Muhammad menerima pinangan Khadijah.
Saat Nabi muhammad mengalami masa-masa khawatir dan ketakutan dengan kedatangan Jibril di gua Hira’. Khadijah selalu mampu untuk menenangkan Rasulullah dan berkonsultasi secara diam-diam dengan Waraqah (Ahli kitab dan sepupu Khadijah). Waraqah berkeyakinan bahwa Muhammad adalah seorang Rasul yang diturunkan oleh Allah. Khadijah pun merupakan orang pertama yang masuk Islam dan langsung mempercayai ajaran Rasulullah. Ketangguhan Khadijah dalam membersamai Rasulullah saat berdakwah baik secara dam-diam maupun terang-terangan membuatnya mampu menahan sakit yang dialami saat mengandung Abdullah dan Fatimah. Ia tak pernah mengeluh sedikitpun kepada Rasulullah akan keadaan fisiknya yang dilakukan adalan terus menerus memberikan support dan kasih sayang yang begitu tulus untuk senantiasa membesarkan hati Rasulullah yang tersakiti oleh tindakan-tindakan kaum kafir Quraisy.
Khadijah mernyadari bahwa ada amanah besar yang dimiliki oleh suaminya. Ia pun merasa bahwa sebagai istri Muhammad, ia memiliki tanggung jawab yang besar untuk menjadi pendamping terbaik bagi Muhammad dan ikut serta menyebarkan syariat Islam. Pernah suatu ketika, saat Jibril menyampaikan wahyu kepada Rasulullah, Allah menitipkan salam-Nya untuk disampaikan kepada Khadijah dan dijanjikan akan dibuatkan sebuah istana dari permata di surga kelak karena Khadijah telah berjuang begitu kerasnya.
Kematian Khadijah memberikan kesedihan yang amat mendalam dalam diri Rasulullah. Tak ada lagi kasih sayang yang begitu tulus dan senantiasa hadir untuk membesarkan dan memberikan keteguhan pada hatinya. Dan Khadijah merupakan satu-satunya istri Rasulullah yang memberinya keturunan, yaitu: Zinab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Abdullah, Qasim dan Fatimah.
Dalam buku ini, dipaparkan begitu baik tentang kisah kemuliaan seorang Khadijah dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri, ibu rumah tangga serta Ummul Mukminin. Para muslimah sudah sepatutnya meneladani sifat-sifat mulia dari wanita yang disebut sebagai cinta sejati Rasulullah ini. Kelembutan hati, kemandirian, ketegasan, keberanian dan kepatuhan serta kasih sayang terhadap suami yang dicerminkan oleh Khadijah merupakan teladan yang harus dipegang teguh oleh para muslimah diantara isu feminisme dan emansipasi yang tengah digaungkan dunia saat ini. Muslimah perlu sadar bahwa keteladanan sejati bukan datang dari pejuang feminisme atau emansipasi, melainkan dari Ibunda Umat, Siti Khadijah.
Kekurangan dari buku ini adalah penulis amat jauh menyoroti kisah kehidupan Rasulullah dibandingkan dengan menceritakan kehidupan Khadijah. Tentu saja karena begitu luar biasa kisah kehidupan Rasulullah. Namun sejauh itu buku ini sangat bermanfaat.
Penulis: Abdul Mun’im Muhammad
Penerbit: Pena (Ilmu dan Amal)
dakwatuna.com – “Aku tidak pernah merasa cemburu kepada seorang wanita sebesar rasa cemburuku kepada Khadijah. Aku tidak pernah melihatnya, tetapi Rasulullah sering menyebut dan mengingatnya. Ketika menyembelih seekor kambing, beliau selalu memotong sebagian dagingnya dan menghadiahkannya kepada sahabat-sahabat Khadijah. Aku pernah berkata kepada Rasulullah, ‘seperti tidak ada wanita lain di dunia ini selain Khadijah’. Rasulullah menjawab, ‘Khadijah itu begini dan begitu dan dari dialah aku memperoleh anak.’” (Kisah Aisyah mengenai Khadijah).
Dalam buku ini, dikisahkan kehidupan Khadijah mulai dari sebelum menikah dengan Rasulullah sampai Khadijah wafat pada tahun kesedihan Rasulullah. Dijelaskan bahwa Khadijah merupakan seorang wanita yang sangat halus hatinya, pandai menjaga kehormatan, pandai menjaga harta dan dermawan. Khadijah tak pernah sekalipun melakukan penyembahan terhadap berhala, ia masih menjaga kepercayaan murni dari ajaran nabi Ibrahim. Sosok wanita yang diberi gelar “wanita yang suci” (Thahirah) ini pun terpesona dengan kepribadian nabi Muhammad yang diberi gelar al-Amin (Terpercaya) dan merupakan pemuda yang sangat disanjung-sanjung oleh masyarakat Mekah saat itu. Diantara lamaran yang silih berganti datang kepadanya, Khadijah berkeinginan untuk menikah dengan Muhammad. Bukan dari ketampanan dan kepiawaian nabi Muhammad dalam melakukan perdagangan melainkan karena akhlak mulia yang senantiasa dijaga oleh nabi Muhammad.
Melalui pendekatan yang dilakukan oleh Nafisah kepada nabi Muhammad bahwa ada seorang wanita yang paling cocok ia nikahi yaitu, Khadijah. Kemudian Khadijah mengundang nabi muhammad untuk hadir ke kediaman Khadijah dan dengan berani Khadijah memberi tahukan keinginannya untuk menikah dengan nabi Muhammad. Sifat ini memperlihatkan bahwa Khadijah merupakan wanita yang mampu mengurusi urusan-urusannya sendiri. Dan akhirnya nabi Muhammad menerima pinangan Khadijah.
Saat Nabi muhammad mengalami masa-masa khawatir dan ketakutan dengan kedatangan Jibril di gua Hira’. Khadijah selalu mampu untuk menenangkan Rasulullah dan berkonsultasi secara diam-diam dengan Waraqah (Ahli kitab dan sepupu Khadijah). Waraqah berkeyakinan bahwa Muhammad adalah seorang Rasul yang diturunkan oleh Allah. Khadijah pun merupakan orang pertama yang masuk Islam dan langsung mempercayai ajaran Rasulullah. Ketangguhan Khadijah dalam membersamai Rasulullah saat berdakwah baik secara dam-diam maupun terang-terangan membuatnya mampu menahan sakit yang dialami saat mengandung Abdullah dan Fatimah. Ia tak pernah mengeluh sedikitpun kepada Rasulullah akan keadaan fisiknya yang dilakukan adalan terus menerus memberikan support dan kasih sayang yang begitu tulus untuk senantiasa membesarkan hati Rasulullah yang tersakiti oleh tindakan-tindakan kaum kafir Quraisy.
Khadijah mernyadari bahwa ada amanah besar yang dimiliki oleh suaminya. Ia pun merasa bahwa sebagai istri Muhammad, ia memiliki tanggung jawab yang besar untuk menjadi pendamping terbaik bagi Muhammad dan ikut serta menyebarkan syariat Islam. Pernah suatu ketika, saat Jibril menyampaikan wahyu kepada Rasulullah, Allah menitipkan salam-Nya untuk disampaikan kepada Khadijah dan dijanjikan akan dibuatkan sebuah istana dari permata di surga kelak karena Khadijah telah berjuang begitu kerasnya.
Kematian Khadijah memberikan kesedihan yang amat mendalam dalam diri Rasulullah. Tak ada lagi kasih sayang yang begitu tulus dan senantiasa hadir untuk membesarkan dan memberikan keteguhan pada hatinya. Dan Khadijah merupakan satu-satunya istri Rasulullah yang memberinya keturunan, yaitu: Zinab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Abdullah, Qasim dan Fatimah.
Dalam buku ini, dipaparkan begitu baik tentang kisah kemuliaan seorang Khadijah dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri, ibu rumah tangga serta Ummul Mukminin. Para muslimah sudah sepatutnya meneladani sifat-sifat mulia dari wanita yang disebut sebagai cinta sejati Rasulullah ini. Kelembutan hati, kemandirian, ketegasan, keberanian dan kepatuhan serta kasih sayang terhadap suami yang dicerminkan oleh Khadijah merupakan teladan yang harus dipegang teguh oleh para muslimah diantara isu feminisme dan emansipasi yang tengah digaungkan dunia saat ini. Muslimah perlu sadar bahwa keteladanan sejati bukan datang dari pejuang feminisme atau emansipasi, melainkan dari Ibunda Umat, Siti Khadijah.
Kekurangan dari buku ini adalah penulis amat jauh menyoroti kisah kehidupan Rasulullah dibandingkan dengan menceritakan kehidupan Khadijah. Tentu saja karena begitu luar biasa kisah kehidupan Rasulullah. Namun sejauh itu buku ini sangat bermanfaat.
Resensi Buku
Judul: Pesona Cinta Masjid Nabawi
Penulis: Inayatullah Hasyim
Penerbit: Rumah Adib – Bogor
Tebal: 210 Halaman.
Ketika Cinta Seputih Kain Ihram
Anisa, gadis mandiri nan cantik jelita, berkesempatan menunaikan ibadah umrah. Dalam perjalanan umrah yang singkat itu, ia mendapati begitu banyak pesona cinta; baik saat di Madinah ataupun di Makkah.
Pesona cinta itu telah membuatnya tertegun. Seperti saat Abu Bakar ditanya tentang Rasulullah, Abu Bakar menjawab, “Kupandangi al-Mustafa dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Tahukah kalian, apa yang menjelma? Cinta!”. Demikian halnya Bilal bin Rabah yang berjanji tak akan lagi kumandangkan adzan setelah Rasulullah wafat semata karena ia tak mampu mengenang wajah yang penuh cinta.
Anisa terhenyak, hingga ia pun menulis, “Kini, aku benar-benar dalam pilihan sulit. Nael al-Zaydan –sosok tampan- di Madinah; dan Mas Idil –sosok mempesona- di Makkah. Ya Allah bimbinglah aku dalam menentukan pendamping hidupku. Jadikanlah umrah-ku sebagai umrah yang makbul hanya karena-Mu. Dan dua laki-laki ini adalah “bonus” untuk shalat istikharahku.”
Kekuatan novel ini, saya kira, pada kemampuan penulis mengekplorasi sejarah nabi (sirah nabawiyah) untuk dipadukan dengan kisah romantis perjalanan hidup seorang anak gadis bernama Anisa.
Dalam testimoninya, ustadz Samson Rahman, penerjemah buku fenomenal Laa Tahzan, menulis, “Membaca novel karya saudara Inayatullah Hasyim dengan judul Pesona Cinta Masjid Nabawi seakan kita diajak menjelajahi lorong-lorong sejarah Rasulullah dan jejak-jejak mulia perjalanan hidup beliau, tanpa terasa.”
Lebih jauh, ustadz Samson Rahman mengatakan, “Bagi saya novel ini adalah sebuah kebangkitan baru novel religi dengan seting tempat, Masjid Nabawi dan Mekkah, yang beberapa lama tidak diambil oleh para penulis novel lainnya. Saya teringat pada novel tak lekang Hamka Di Bawah Lindungan Ka’bah yang hingga kini masih enak dibaca. Semoga saya tak berlebihan jika saya katakan, bahwa novel ini, melanjutkan tradisi cemerlang Hamka. Hadirnya novel ini, terasa Hamka muda hadir di tengah kita.”
Novel ini singkat dan padat. Hanya 200-an halaman. Pembaca dibuat penasaran dengan akhir cerita. Kelebihan lainnya, novel ini ditulis di sela-sela waktu sang penulis menunaikan ibadah umrah. Hal demikian, diakui sendiri oleh penulisnya.
Katanya, “Alhamdulillah, karya sederhana ini akhirnya hadir juga ke hadapan Anda, para pembaca yang mulia. Gagasan untuk menulis novel ini bermula saat saya menunaikan ibadah umrah, Januari 2014. Suasana kota Madinah yang dingin, tertib dan penuh pesona membuat daya imajinasi saya tumbuh, merantau jauh ke zaman Rasulullah dan para sahabatnya. Kita tahu, Madinah adalah contoh peradaban yang mengedepankan nilai-nilai humanisme sebenarnya. Bukankah Rasulullah pernah berkata, “Sebaik-baik zaman adalah zamanku.” Ya, zaman ketika beliau sering berkata pada Bilal, “Rehatkanlah kami dengan kau (kumandangkan) shalat (azan).” Keterbatasan waktu dan keterikatan dengan agenda perjalanan umrah membuat perjalanan cinta Nisa berliku. Riuh rendah dalam gelombang harapan kepastian dan kemurnian getarannya.”
Bagi saya, novel ini bagaikan kisah cinta yang putih, bukan seputih salju. Tetapi seputih kain ihram sebab ia mulai tumbuh saat berada di tanah suci. Dan semoga buku kecil ini bermanfaat dan memotivasi kita semua untuk menunaikan ibadah haji dan umrah.
Penulis: Inayatullah Hasyim
Penerbit: Rumah Adib – Bogor
Tebal: 210 Halaman.
Ketika Cinta Seputih Kain Ihram
Anisa, gadis mandiri nan cantik jelita, berkesempatan menunaikan ibadah umrah. Dalam perjalanan umrah yang singkat itu, ia mendapati begitu banyak pesona cinta; baik saat di Madinah ataupun di Makkah.
Pesona cinta itu telah membuatnya tertegun. Seperti saat Abu Bakar ditanya tentang Rasulullah, Abu Bakar menjawab, “Kupandangi al-Mustafa dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Tahukah kalian, apa yang menjelma? Cinta!”. Demikian halnya Bilal bin Rabah yang berjanji tak akan lagi kumandangkan adzan setelah Rasulullah wafat semata karena ia tak mampu mengenang wajah yang penuh cinta.
Anisa terhenyak, hingga ia pun menulis, “Kini, aku benar-benar dalam pilihan sulit. Nael al-Zaydan –sosok tampan- di Madinah; dan Mas Idil –sosok mempesona- di Makkah. Ya Allah bimbinglah aku dalam menentukan pendamping hidupku. Jadikanlah umrah-ku sebagai umrah yang makbul hanya karena-Mu. Dan dua laki-laki ini adalah “bonus” untuk shalat istikharahku.”
Kekuatan novel ini, saya kira, pada kemampuan penulis mengekplorasi sejarah nabi (sirah nabawiyah) untuk dipadukan dengan kisah romantis perjalanan hidup seorang anak gadis bernama Anisa.
Dalam testimoninya, ustadz Samson Rahman, penerjemah buku fenomenal Laa Tahzan, menulis, “Membaca novel karya saudara Inayatullah Hasyim dengan judul Pesona Cinta Masjid Nabawi seakan kita diajak menjelajahi lorong-lorong sejarah Rasulullah dan jejak-jejak mulia perjalanan hidup beliau, tanpa terasa.”
Lebih jauh, ustadz Samson Rahman mengatakan, “Bagi saya novel ini adalah sebuah kebangkitan baru novel religi dengan seting tempat, Masjid Nabawi dan Mekkah, yang beberapa lama tidak diambil oleh para penulis novel lainnya. Saya teringat pada novel tak lekang Hamka Di Bawah Lindungan Ka’bah yang hingga kini masih enak dibaca. Semoga saya tak berlebihan jika saya katakan, bahwa novel ini, melanjutkan tradisi cemerlang Hamka. Hadirnya novel ini, terasa Hamka muda hadir di tengah kita.”
Novel ini singkat dan padat. Hanya 200-an halaman. Pembaca dibuat penasaran dengan akhir cerita. Kelebihan lainnya, novel ini ditulis di sela-sela waktu sang penulis menunaikan ibadah umrah. Hal demikian, diakui sendiri oleh penulisnya.
Katanya, “Alhamdulillah, karya sederhana ini akhirnya hadir juga ke hadapan Anda, para pembaca yang mulia. Gagasan untuk menulis novel ini bermula saat saya menunaikan ibadah umrah, Januari 2014. Suasana kota Madinah yang dingin, tertib dan penuh pesona membuat daya imajinasi saya tumbuh, merantau jauh ke zaman Rasulullah dan para sahabatnya. Kita tahu, Madinah adalah contoh peradaban yang mengedepankan nilai-nilai humanisme sebenarnya. Bukankah Rasulullah pernah berkata, “Sebaik-baik zaman adalah zamanku.” Ya, zaman ketika beliau sering berkata pada Bilal, “Rehatkanlah kami dengan kau (kumandangkan) shalat (azan).” Keterbatasan waktu dan keterikatan dengan agenda perjalanan umrah membuat perjalanan cinta Nisa berliku. Riuh rendah dalam gelombang harapan kepastian dan kemurnian getarannya.”
Bagi saya, novel ini bagaikan kisah cinta yang putih, bukan seputih salju. Tetapi seputih kain ihram sebab ia mulai tumbuh saat berada di tanah suci. Dan semoga buku kecil ini bermanfaat dan memotivasi kita semua untuk menunaikan ibadah haji dan umrah.
Resensi Buku
![]() |
Cover buku “Membentuk Pribadi Muslim Ideal (Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah)”. |
Terjemahan: Membentuk Pribadi Muslim Ideal (Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah)
Penulis: Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi
Penerjemah: H. Gozali J. Sudirjo Lc, Asep Sobari Lc
Penerbit: Al-I’tishom – Jakarta
Tebal: 322hal ; 15,5 x 24 cm
ISBN: 978-979-3071-98-5
Cetakan: I; Maret 2012
dakwatuna.com – Islam adalah agama paripurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Mulai dari keshalihan individu, sosial hingga kehidupan bernegara dan antar negara dalam tatanan global. Karena sejatinya, Islam adalah sistem integral yang bertujuan untuk menyebarkan kasih sayang kepada seluruh alam. Hal ini bisa difahami karena Islam merupakan agama langit yang langsung diatur oleh Allah. Sedang Dialah Yang Maha Mengetahui akan semua kebutuhan dan kebaikan bagi hamba-hamba-Nya.
Sayangnya, kecemerlangan Islam seringkali tidak berkorelasi positif dengan fenomena akhlak kaum Muslimin. Ada seorang hafizh al-Qur’an yang melakukan korupsi, ada juga ustadz yang melakukan perbuatan cabul, atau seorang beragama Islam yang mencuri, melakukan tindakan kriminal dan kekejian lainnya.
Tentu, ini bukan justifikasi. Karena banyak juga kaum Muslimin yang baik secara akhlak dan dalam kehidupan antar umat manusia. Syeikh Ali al-Hasyimi, menghabiskan waktu selama sepuluh tahun untuk melakukan riset dan kemudian menuliskan buku yang ada di tangan pembaca ini. Tujuannya, agar Islam yang cemerlang bertemu secara sempurna dengan kecemerlangan-kecemerlangan pemeluknya.
Sebelum baik kepada siapapun, Muslim yang ideal haruslah baik hubungannya dengan Allah Sang Pencipta. Kebaikannya ini bisa dilihat dari kualitas ibadahnya. Bukan saja ibadah yang terlihat secara indrawi, tetapi lebih dari itu adalah ibadah batin yang hanya diketahui oleh dirinya dan Allah.
Maknanya, shalatnya yang terlihat secara fisik, haruslah terkoneksi dengan baik dalam tataran batin. Yakni merasa diawasi oleh Allah sehingga shalatnya bisa menjadi pencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Selain shalat, ia adalah sosok yang sedikit sekali lalai, menunaikan zakat, memampukan diri untuk beribadah haji, dan melakukan semua amalan untuk mengundang ridha dan ampunan Allah.
Berikutnya, Muslim ideal adalah orang yang baik dengan dirinya sendiri. Ia tak pernah zhalim. Karena sadar sepenuhnya, bahwa dirinya adalah anugerah dari Allah sehingga harus disyukuri dengan berbuat kebaikan. Maka, dia menjaga fisik, akal dan jiwanya.
Fisiknya dijaga dengan mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal, baik dan mengundah berkah. Ia tak lupa istirahat, berolah raga dan berpenampilan sebaik mungkin guna mensyiarkan nikmat yang telah Allah berikan.
Akalnya dibagusi dengan banyak membaca, menulis dan memikirkan ciptaan Allah. Ia tak mudah lalai apalagi terlena. Menuntu ilmu menjadi ciri khasnya, dilengkapi dengan keilmuan kekinian dan juga menguasai bahasa asing. Ia melakukan hal itu karena kesadaran. Bahwa ilmu adalah milik Allah, dan kaum muslimin wajib untuk menguasainya.
Jiwanya dirawat dengan sangat baik. Hatinya sibuk berzikir, rajin mendekati orang shalih, dan tak luput dari doa-doa di sepanjang kehidupannya. Tak ada kesia-siaan yang dia lakukan kecuali hanya sedikit saja.
Di sepanjang amal untuk menyelesaikan urusan terkait dirinya sendiri itu, Muslim ideal juga menjalin hubungan baik dengan sekitarnya. Dengan orang tua sebagai kunci surga dan ridha Allah, pasangan hidup sebagai partner sejati untuk mengejawantahkan cinta kepada Allah dan bersama menuju-Nya, juga kepada anak-anak dan keluarga dekatnya sebagai objek dakwah yang pertama.
Ia juga baik kepada tetangga, sahabat dan seluruh masyarakatnya. Tak lupa, ia memenuhi kewajiban-kewajibannya kepada semua orang. Ia adalah pribadi jujur, suka berbagi dan menerima nasehat, pemalu, penyayang, luwes, pemaaf, mudah bergaul, menahan diri, wajah yang selalu berseri, dermawan, tidak berbuat zhalim, tidak munafik, jauh dari riya’, menghindari ghibah dan seterusnya.
Disajikan dalam bentuk tebal, membuat buku ini wajib dimiliki oleh setiap kaum Muslimin sebagai rujukan. Mudahnya, sajian di dalamnya disajikan perbab dan kemudian dibagi menjadi sub-bab-sub-bab singkat sehingga mudah dibaca dan difahami. Sajiannya merupakan potongan-potongan taujih sehingga tidak harus dibaca dari depan dan bisa dimulai dari bagian yang paling menarik benak kita.
Dilengkapi dengan dalil al-Qur’an, sunnah Rasulullah dan kisah para pendahulu umat ini, menjadikan buku ini memiliki nilai lebih. Semoga Allah memudahkan kita untuk membaca, menelaah dan mempraktekan ajaran dalam buku ini sebagai bentuk melakukan apa yang Allah perintahkan melalui Kalam-Nya.
Resensi Buku
![]() |
Cover buku “Ensiklopedia Mini Masjid Al-Aqsha”. |
Penulis: Tim Kajian ASPAC
Penerbit: ASPAC Publishing
Cetakan 1: Januari 2014
Jumlah halaman: xx +452 halaman
ISBN: 978-602-14856-1-3
Buku Ensiklopedia Mini Masjid Al-aqsha menjelaskan cukup detail Landmark Masjid Al-Aqsha. Pembaca akan dibawa berjalan-jalan mengelilingi masjid ini, dari lorong-lorongnya. Kemudian mengenal sejarahnya dan masjid-masjid serta tempat-tempat shalat yang ada di dalamnya. Termasuk nama-nama yang dikenal dari dulu hingga saat ini.
Manakah yang dinamakan Masjid Al-Aqsha? Apakah masjid berkubah emas yang dikenal sebagai Qubbatu sh Shshakhrah? Ataukah Masjid Qibli yang di dalamnya terdapat mihrab utama? Seberapa luaskah kompleks Masjid Al-Aqsha? Melalui buku ini, pembaca bisa menemukan jawaban-jawaban dari pertanyaan tersebut.
Jumlah menara, lengkungan, sekolah-sekolah dan majelis ilmu, pelataran serta seni arsitektur, sedikit banyak terurai di dalamnya. Sumur-sumur tua, tempat penyediaan air minum serta tempat wudhu dan berbagai hal lainnya terdapat dalam buku ini.
Dengan pengetahuan fisik dan sejarah yang detil akan terasa betapa situs penting umat Islam ini memiliki nilai yang luar biasa. Baik secara ideologis, maupun sebagai budaya sekaligus merupakan simbol yang ikonik dengan tempat suci bagi umat Islam. Para Nabi pernah singgah di sana. Sebagian terlahir dan besar di sana. Sebagian lagi dimakamkan di dekatnya. Sebagian bersama-sama Rasulullah saw menunaikan shalat menjelang keberangkatan beliau ke Sidratil Muntaha.
Lalu, apa motivasi Zionis menguasai Palestina dan Al-Quds khususnya? Mereka juga mengincar Masjid Al-Aqsha dengan dalih sejarah yang direkayasa. Apa saja yang dilakukan mereka dan bagaimana mengantisipasinya? Semuanya terjawab dalam buku ini.
Di samping itu, buku ‘emas’ ini menampilkan komentar tokoh-tokoh dunia dan kalender penting dari tahun ke tahun yang berkaitan dengan Masjid Al-Aqsha. Perjanjian-perjanjian antara pejuang dan pemerintah Palestina dengan Zionis, aksi dan sejarah perlawanan bisa juga pembaca jumpai dalam buku ini. Dikupas pula secara gamblang mengapa Anda memiliki kewajiban membela Masjid Al-Aqsha dan memperjuangkan hak-hak bangsa Palestina?
Resensi Buku
Langganan:
Postingan (Atom)






Recent Comments